
Pagi itu hari begitu cerah dan matahari bersinar dengan hangatnya. Aku dan istriku yang baru saja menikah satu minggu yang lalu berencana berkeliling mencari rumah yang akan kami tempati berdua. Tabungan kami berdua di tambah amplop amplop pernikahan dari para tamu undangan sudah dirasa cukup bagi kami untuk membeli sebuah rumah yang sederhana. Aku dan istriku sudah berkomitmen untuk hidup mandiri berdua tanpa bergantung dengan orang tua kami masing masing. Aku dan istriku memiliki kecocokan satu sama lain. Aku dan istriku ingin mencari rumah di pinggiran kota. Kami berdua tidak terlalu menyukai tinggal di tengah tengah keramaian kota.
Malam sebelumnya, kami berdua sibuk mencari cari informasi hunian yang kami berdua sukai lewat media sosial, bertanya dengan teman atau kenalan dan juga keluarga kami. Hingga pada akhirnya, kami berdua menemukan hunian yang pas di pinggiran kota yang sesuai dengan keinginan kami juga sesuai dengan budget yang kami miliki. Aku langsung menelpon nomor handphone yang tertera dalam iklan di media sosial itu. Setelah beberapa menit aku berbincang, aku memutuskan untuk pergi melihat lihat rumah itu terlebih dahulu hanya untuk memastikan apakah kondisi rumah itu sesuai dengan gambar yang di iklankan di media sosial itu.
" Yang, ayo cepetan !! gak enak nanti orangnya nunggu kelamaan. " pintaku.
" Iya ... iya, aku mau pamit dulu sama papa mama. " jawab istriku.
sambil menunggu istriku yang sedang berpamitan dengan orang tuaku. Aku mencoba menelpon kembali si pemilik rumah untuk mengatur ulang jadwal pertemuan kami.
__ADS_1
"Hallo mas Andi, ini saya mas, Indra. Yang semalam nelpon mas." ujarku.
"Oh iya iya, gimana gimana ? Kapan mau liat liat rumah ?" tanyanya.
"Jadi kok mas, ini saya sama istri udah mau jalan." jawabku.
"Ok ok ok mas Andi, nanti saya kabari lagi kalo sudah mau dekat." ujarku lagi seraya menutup obrolan.
"Ok mas indra, sampai ketemu." serunya.
__ADS_1
Aku menutup telpon dan memanggil manggil istriku. Tidak lama kemudian istriku keluar dan kami pun langsung tancap gas menuju tempat pertemuan.
Sebenarnya jarak yang akan kami tempuh tidaklah terlalu jauh. Hanya saja karena ini hari minggu dan rutenya melewati tempat rekreasi keluarga membuat kami terjebak di tengah tengah kemacetan.
"Aduh, aku lupa kalo ini hari minggu, tau gini aku coba cari jalan lain aja tadi pas lewat persimpangan." keluhku.
"Udah ... udah, yang sabar ya sayang, lagiaan macetnya gak mandek juga, cuma padat merayap, masih bisa jalan meskipun sedikit sedikit." ucap istriku coba menenangkan hatiku yang sedikit gusar seraya menggenggam tangan kiriku dan mencium permukaan telapak tanganku.
Pelan namun pasti, kami akhirnya melewati titik kemacetan tadi. Aku sedikit menambahkan kecepatanku karena sudah kehilangan 20 menit akibat terjebak macet tadi. Wiiiwww ... Wiiwwwww ... wiiiwwww melintas sebuah ambulans melewati mobil kami. Aku melihat sesosok orang tua dengan kepala botak berkulit pucat menyembul keluar dari sisi jendela. Dia menatap ke arahku dengan tatapan yang datar. Aku merasa agak risih di tatap olehnya. Ada sebuah plang cukup besar di sisi kiri tepian jalan. Kepala orang tua itu menghantam plang yang ada di sisi kiri tepian jalan. Kepala terputus dan terpental mengeluarkan cipratan darah yang juga mengenai mobilku. Aku spontan berteriak dan mengerem mendadak hingga menghantam kemudi. Istriku juga sempat menghantam kaca depan mobil. Kejadiaan itu berlangsung begitu cepat dan membuatku tercengang.
__ADS_1