HANTU KEPALA BOTAK

HANTU KEPALA BOTAK
Bab 4 : Perkenalan


__ADS_3

"Maaf kalo saya lancang mas Andi, kalau boleh tau, kenapa rumah sebagus ini mau dijual ?" tanyaku penasaran.


"Yaaa kebutuhan ekonomi mas Indra. Bisnis saya akhir akhir ini lagi lesu, investor lama banyak yang mundur, mau tidak mau saya harus butuh dana segar utk menutupi biaya produksi selama menunggu investor baru masuk. " jawabnya sembari menghela nafas sejenak.


"Kalau di fikir fikir rasanya emang sayang dan berat harus menjual rumah ini, terlalu banyak kenangan sewaktu kecil yang terekam di rumah ini dan saya juga menyukai pemandangannya." lanjutnya lagi.


"Iya mas saya cukup mengerti." balasku.


"Disini sudah masuk listrik ya mas Andi ?" tanyaku.

__ADS_1


"Disini sudah masuk listrik, tapi di belakang ada generator untuk cadangan kalau dibutuhkan sewaktu waktu di gudang belakang rumah." terangnya.


"Kalo air, disini menggunakan sumur bor yang banyak ketersediaannya airnya juga segar rasanya." ujarnya menambahkan.


"Baiklah kalo gitu mas Andi, besok kami kabari lagi, sepertinya saya sama istri cocok dengan rumah ini, kita bisa janjiaan lagi untuk mengurus surat surat dan pembayarannya di depan notaris besok atau lusa." ujarku.


"Oke oke mas Indra, saya tunggu kabar baiknya." jawabnya.


"Maaf bu, ada yang bisa saya bantu ?" tanyaku dengan halus.

__ADS_1


Ibu itu hanya diam tidak menghiraukanku dan masih serius menatap rumah. Lalu dia menatapku dari bawah ke atas. Aku merasa heran, istriku memanggilku, aku pun berpaling dari ibu tua itu. Aku tersentak ketika akhirnya dia mengatakan sesuatu.


"Rumah ini angker mas, sebaiknya jangan tinggal disini, bahaya !!" ujarnya mencoba memperingatkan kami.


"Angker ?? bahaya ?? maksud ibu ?" aku memberondong beberapa pertanyaan yang membuatku penasaran.


Baru saja si ibu akan melanjutkan ceritanya. Mas Andi dan istrinya datang. Aku melihat mas Andi dan istrinya saling bertatapan tajam ke arah si ibu. Si ibu sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan kami dengan wajah yang terlihat ketakutan. Aku mencoba memanggil si ibu tapi dia tetap saja bergegas pergi setengah berlari tanpa menghiraukan panggilanku.


Mas Andi meminta kami untuk mengacuhkan ibu itu dan mengajak kami untuk segera pulang. Sore itu tanpa terasa sudah akan menjelang magrib. Mas Andi meminta kami untuk segera pulang sedikit agak tergesa gesa dan cemas sambil sesekali memandang keadaan rumah. Awalnya, aku tidak menaruh curiga sama sekali dengan prilaku mereka padahal tadinya aku dan istri mau cukup berlama lama melihat sunset yang indah juga pemandangan lampu lampu perkotaan dari kejauhan yang mulai dihidupkan.

__ADS_1


Di tengah perjalanan pulang menuju rumah mas Andi, suasana sekitar cukup ramai dengan para warga sekitar yang lalu lalang. Di puncak bukit hanya satu satunya rumah yang berdiri adalah rumah tadi tapi jika kita turun ke bawah sedikit menuju kaki bukit mulai terlihat rumah rumah warga sekitar. Cukup lengkap sarana umum disini, ada masjid, ada warung warung dan juga klinik. Di saat kami melewati beberapa warga sekitar yang kebetulan berkumpul di pos ronda, aku mencoba menyapa mereka tapi mereka tidak menghiraukan sapaanku malah sebaliknya dia menatap kami dengan sinis dan saling berbisik satu sama lain ke arah kami. Mas Andi memintaku untuk tidak terlalu mengkhwatirkan prilaku setiap warga desa. Mereka hanya agak kurang ramah dengan orang orang baru karena blm saling mengenal satu sama lain. Aku mempercayai perkataan mas Andi dan bergegas pergi.


__ADS_2