HANTU KEPALA BOTAK

HANTU KEPALA BOTAK
Bab 3 : Rumah Baru III


__ADS_3

Di tengah perjalanan, di tengah tengah obrolan kami. Aku menangkap suatu objek yang sedikit terlihat samar samar di balik pepohonan di sudut sudut jalan. Sesosok pria tua dengan kepala botak sama seperti yang aku lihat saat kejadiaan tadi sewaktu dalam perjalanan kemari. Kepala itu menyembul keluar dari balik batang pohon. Hanya kepalanya saja yang terlihat menyembul keluar dari balik pohon yang agak jauh sedikit ke dalam, seolah olah batang pohon menyembunyikan tubuhnya. Sesosok pria tua itu lagi lagi menatap ke arahku dengan tatapan datar. Tapi aku tetap berfikir positif saat itu dan mencoba untuk tidak memperdulikannya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam benakku bahwa aku akan terjebak dalam peristiwa sebuah peristiwa besar yang terjadi selama belasan tahun dan kehadiran sosok pria tua itu menjadi pertanda untukku dan juga istriku dalam masa masa awal pernikahan kami dan saat itu aku tidak bisa untuk tidak memperdulikan setiap kejadiaan yang datang kepada kami berdua seperti saat ini.


Setelah menempuh jarak sekitar 1 kilometer dengan disuguhkan oleh pemandangan pepohonan yang asri dan hijau juga udara yang sejuk. Kami sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, rumah yang bergaya nuansa Eropa klasik tempo dulu, seperti rumah pertanian di desa desa di Eropa.

__ADS_1



Pertama kali aku dan istriku melihat rumah itu membuat kami seakan akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Kami memang sudah melihat di media sosial gambar rumah ini tapi aslinya jauh lebih indah daripada yang ada di gambar.

__ADS_1


Menurut pengakuan mas Andi dan istrinya dulunya rumah ini memang bekas rumah saudagar Belanda di jaman penjajahan kolonial Belanda. Meskipun saudagar orang Belanda itu tidak memiliki istri maupun anak jadi tidak ada keturunan yang mewarisi rumah beserta tanah ini. Saat masa penjajahan kolonial Belanda berakhir, orang tua mas Andi membelinya di karenakan pemilik pertama yang merupakan warga Belanda itu mau pulang ke negaranya. Bisa di bilang rumah ini adalah rumah tua, rumah warisan bagi orang tua mas Andi.


Aku dan istri sudah tidak sabar untuk melihat lihat keadaan di dalam rumah ini. Untuk kedua kalinya aku beserta istri dibuat takjub oleh rumah ini. Rumah itu cukup besar bernuansa batu bata dan ornamen kayu di langit langit juga lantainya. Mas Andi serta istri mengajak kami berkeliling melihat suasana dalam rumah. Ada perapian layaknya rumah rumah petani di Eropa. Masih ada beberapa pajangan seperti lampu lampu hias dan lemari lemari tua yang memang sengaja di biarkan oleh mas Andi juga satu buah sofa lama yang ada di ruang tamu yang juga sengaja di tinggalkan oleh mas Andi. Setelah puas kami berkeliling, kami pun beristirahat sejenak dan duduk duduk di sofa tua yang ada di ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2