HANTU KEPALA BOTAK

HANTU KEPALA BOTAK
Bab 5 : Perkenalan II


__ADS_3

Kami pun tiba di rumah mas Andi beserta istri, mereka berdua menawarkan kami untuk mampir sejenak di rumah mereka tapi karena sudah semakin malam aku memutuskan untuk berpamitan dan langsung pulang karena besok sudah harus masuk kerja. Mas Andi beserta istri memakluminya. Kami pun berlalu pergi.


"Mas ... ?!" ujar istri mas Andi yang langsung dipotong pembicaraannya oleh mas Andi.


"Aku tau dek, kita lihat saja nanti." ungkap mas Andi sepeninggalan kami.


Setibanya di rumah, aku dan istriku tengah duduk duduk santai di beranda atas rumah orang tuaku.


"Ini kopinya mas." kata istriku seraya menghidangkan secangkir kopi hangat dan roti bakar sebagai teman minum kopi.


"Iya sayang, makasih ya." jawabku.

__ADS_1


Aku menyuruh istriku untuk duduk di sebelahku. Dia pun menarik kursi tepat di sebelahku. Aku menikmati secangkir kopi dan roti bakar buatannya. Aku menanyakan penilaian istriku mengenai rumah tadi.


"Bagaimana menurutmu rumah tadi ? Apa kamu menyukainya ?"tanyaku.


"Ya aku suka mas, rumahnya bagus dan cukup menarik, lain daripada yang lain, penuh nilai sejarah." jawabnya.


"Iya kamu benar, syukurlah kalau kamu suka, aku akan segera mengurus semuanya supaya kita bisa cepat tinggal di rumah kita sendiri dan membuat cerita baru disana." ujarku.


"Entahlah, cuma kamu ingat kan apa yang dikatakan mas Andi tadi, tidak usah terlalu di fikirkan, orang orang disana hanya belum mengenal kita." jawabku menenangkan kecemasan istriku.


"Iya mas." jawabnya singkat seraya bersandar di pelukanku. Aku memeluknya dengan mesra sambil membelai belai rambutnya.

__ADS_1


"Oh iya mas, pas di perjalanan kita ke rumah mas Andi tadi, kamu kenapa mendadak menginjak rem ?" tiba tiba istriku teringat insiden kecil tadi siang dan langsung menanyakannya padaku. Aku mencoba untuk tidak membuatnya cemas dan khawatir, aku beralasan bahwa tadi ada kucing yang tiba tiba melintas dan lagipula aku tidak yakin dengan pasti apa yang aku lihat.


Malam semakin larut, aku mengajak istriku untuk tidur. Malam itu aku sempat bermimpi. Di dalam mimpiku, aku terjaga dari tidurku. Seperti ada seseorang yang membuka pagar depan. Aku berfikir mungkin saja ada maling yang mau masuk ke dalam rumah. Aku mematikan lampu kamar agar bisa mengintip keluar. Aku membuka sedikit gorden jendela kamarku. Tidak ada siapa siapa selain keheningan malam dan pekatnya malam. Aku mencoba memperhatikan sekeliling pagar rumahku tetap tidak ada apapun sesuatu yang aneh. Di saat aku hendak menutup gorden kamarku, aku mendapati seorang pria tua dengan kepala botak berkulit pucat bolak balik di sekitar pagar rumahku. Ah ini pasti maling yang sedang mengamati rumah pikirku. Aku masih mencoba untuk mengamatinya, lalu pria tua yang berjalan bolak balik mendadak berhenti dengan posisi kepala memunggungiku. Lama aku mengamati, pria tua itu masih saja tidak bergerak. Dia hanya berdiri mematung. Karena sibuknya aku mengamati pria tua itu, aku tak sadar istriku bangun dan mencolek pundakku. Aku sempat ingin berteriak karena terkejut tapi langsung aku urungkan. Aku memberikan isyarat untuk diam. Aku kembali menoleh ke arah luar jendela tapi pria tua itu tidak ada lagi di tempatnya. Aku sedikit merasa keheranan. Istriku berbisik padaku menanyakan apa yang aku lihat, aku meminta dia untuk diam dulu. Tapi sepertinya pria tua itu sudah pergi. Aku tidak melihat tanda tanda dia masih di depan pagarku. Di saat aku mau menutup gorden jendela kamar, tiba tiba saja sesosok pria tua itu muncul kembali tapi kali ini posisinya berubah. Dari yang tadi posisinya membelakangiku sekarang berbalik menatap ke arah rumahku. Dia menatap tajam ke arah rumahku dari luar pagar. Kulit pucatnya terlihat jelas di antara pekatnya malam. Lagi lagi yang terlihat olehku hanya bagian kepalanya saja. Sepertinya pria tua itu bertubuh pendek sehingga pintu pagarku yang tinggi menutup tubuhnya. Aku seperti terpaku menatap ke arahnya. Seakan akan dia menghipnotis diriku untuk menatap ke arahnya.


Dari kejauhan, dari balik gorden jendela kamar, aku melihat bola matanya bergerak melirik tepat ke arahku, seolah olah dia sadar bahwa aku sedang memperhatikannya. Aku kini saling bertatapan satu sama lain. Aku yang semula mengira pria tua itu bertubuh pendek dan tertutup oleh pintu pagarku tiba tiba saja melayang di udara. Tapi yang aku saksikan hanya kepalanya saja yang melayang layang seakan mengambang di udara. Kepala botak dari sesosok pria tua berkulit pucat. Aku semakin terpaku dibuatnya. Nafasku mendadak menjadi berat dan bulu kudukku berdiri ketika tiba tiba dia menyeringai ke arahku. Kepala itu melayang layang dan dalam hitungan detik terbang melayang ke arahku menembus pintu pagar yang terkunci. Dalam hitungan detik juga dia tepat berada di depan jendela kamar tempat aku mengintipnya.


"Pergiiiii !!!!" aku menangkap suara yang tiba tiba saja muncul tepat di belakangku. Dengan spontanitas aku berbalik arah dan betapa terkejutnya aku melihat kepala yang tadi masih ada diluar sudah berada di kamar tepat di belakangku.


"Pergiiiii !!!!" Kepala tua itu menghardik dengan suaranya yang keras.


Aku terkejut ketakutan dan dalam hitungan detik aku terbangun dari tidurku sambil menjerit ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2