HANTU KEPALA BOTAK

HANTU KEPALA BOTAK
Bab 6 : Perkenalan III


__ADS_3

Aku langsung terbangun dari tidurku. Keringat mengucur deras membasahi tubuhku. Nafasku terengah engah. Jantungku berdegup kencang dan berirama sangat cepat. Kerongkongan ku terasa kering dan mencekik.


"Mas, mas, sadar mas, kamu kenapa ?" tanya istriku cemas.


Aku masih belum meresponnya. Aku masih terlalu syok karena mimpi itu. Lalu istriku pergi mengambil air putih. Dia memintaku untuk meminumnya sambil memintaku untuk beristighfar. Aku pun menurutinya, aku beristighfar sebanyak 10 kali dan istriku menyeka seluruh keringatku. Setelah dirasa agak tenang, dia pun mengajakku untuk tidur kembali. Aku pun mengiyakannya dan kembali tidur.


Keesokan siangnya di jam istirahat bekerja aku mengajak istriku ke kantor Notaris. Tapi sebelum kesana, aku mengajak istriku untuk mampir sejenak di sebuah cafe yang berada tidak jauh dari kantor Notaris. Sambil menunggu pesanan, aku pun membuka obrolan yang tidak biasa.


"Dua tiga hari ini sepertinya aku sedang di teror deh." ungkapku.


"Di teror ? di terror bagaimana maksudnya mas ?" tanya istriku penasaran.


"Entahlah, aku juga tidak begitu mengerti." jawabku singkat.


Pesanan pun datang, tanpa pikir panjang kami pun langsung menyantapnya. Setelah selesai menyantap hidangan, kami pun kembali berbincang.


"Jadi mas, kira kira siapa yang menerormu ?" istriku kembali bertanya.

__ADS_1


"Sebenarnya bukan siapa tapi kenapa ??" jawabku singkat yang sebenarnya juga penasaran, sebelum akhirnya aku menyambung kembali.


"Aku yakin kamu tidak percaya apa yang aku akan katakan ini dan sebenarnya aku juga tidak tau sejak kapan dan mengapa aku jadi seperti ini." sambungku.


"Sayang, jangan khawatir, aku akan mempercayai semua perkataanmu." jawabnya sambil menggenggam tanganku agar aku sedikit rileks. Aku pun melanjutkannya kembali.


"Awalnya aku tidak menduga apakah ini semacam teror atau apapun tapi jika kamu ingat semua ini bermula kemarin saat kita mau ke rumah mas Andi, yang tiba tiba aku mengerem mendadak." kataku.


"Iya ... iya ... iya itu kenapa mas ? kamu kenapa waktu itu ? tanyaku istriku semakin penasaran.


Aku pun mulai menceritakan satu persatu kepada istriku tentang kejadiaan aneh yang belum pernah menghantuiku seumur hidupku kini datang bertubi tubi.


Aku menghela nafas sambil menyandarkan tubuhku di sandaran kursi. Aku melihat istriku hanya terdiam dengan tatapannya yang kosong mencoba untuk memahami situasi yang tengah aku hadapi.


"Aku kok jadi ragu mau beli rumah itu." ungkapku.


"Lho kenapa mas ?" istriku bertanya.

__ADS_1


"Ya aku tidak tau apa ini ada kaitannya tapi kok kejadiaan ini bermula di saat kita tertarik dengan rumah itu." lanjutku lagi.


"Mas, aku tau kejadiaan aneh ini pastinya menganggu sekali buatmu tapi aku rasa tidak ada hubungannya sama sekali dengan rumah itu, lagiaan rumah itu bagus, bersih dan rapih, tidak menunjukan kesan angker atau apapun dan yang paling penting kita memiliki rumah sendiri dan suasananya bagus untuk penulis novel misteri seperti aku." ujar istriku mencoba meyakinkanku.


"Tapi jika kamu mau, aku akan membantumu untuk memecahkan persoalan yang akhir akhir ini menghantuimu." tambahnya lagi.


"Kamu suka rumah itu ?" tanyaku padanya.


"Iya mas, aku suka sekali." jawab istriku.


"Baiklah jika kamu menyukainya, kita akan segera membelinya." ujarku.


Dari kejauhan dan di tempat aku dan istriku tidak sadari, terlihat mas Andi beserta istrinya berada dalam mobil di seberang jalan cafe. Dia dan istrinya seakan akan mengawasi aku dan istriku tapi kami tidak menyadarinya.


Triiinggggg ... handphone mas Andi berbunyi tanda sebuah chat masuk. Mereka berdua membaca sebuah pesan yang masuk.


"Sebaiknya kita bergegas sebelum mereka berubah fikiran lagi !" ajak mas Andi ke istrinya.

__ADS_1


"Iya mas, kita harus bergerak cepat." balas istrinya menanggapi.


Mereka pun bergegas pergi dari tempat itu.


__ADS_2