HANTU KEPALA BOTAK

HANTU KEPALA BOTAK
Bab 7 : Home Sweet Home


__ADS_3

Aku dan istriku bertemu dengan mas Andi beserta istrinya di sebuah kantor Notaris. Di hadapan Notaris, kami menyelesaikan kesepakatan jual beli rumah. Setelah deal, mas Andi langsung menyerahkan kunci rumah kepadaku dan istriku. Tanpa basa basi, aku dan istriku langsung berpamitan kepada mas Andi beserta istrinya.


Setelah berjumpa dengan mas Andi serta istrinya. Aku berpisah dengan istriku. Aku kembali ke kantor sedangkan dia pergi menemui editornya untuk membahas soal novel misteri terbarunya.


Beberapa hari kemudian, dengan di temani oleh kerabat, saudara dan keluarga, kami pun pindah dan resmi menghuni rumah baru ini. Banyak yang berdecak kagum dengan rumah milik kami. Tidak lupa juga kami turut mengundang mas Andi dan istrinya. Sebenarnya kami juga mengundang warga sekitar dan para tokoh masyarakat yang ada di sana, tapi tidak ada satupun yang datang. Satu satunya perwakilan masyarakat disana hanyalah bapak Lurah dan pak rt setempat. Kami tidak mengerti ada apa sebenarnya tapi lagi lagi mas Andi meminta kami jangan terlalu di memikirkan. Menurutnya, warga disana hanya terlalu kaku kehadiran orang baru di kampung mereka. Dengan di temani pak rt setempat, pak Lurah memberikan sambutan sepatah dua patah kata.


"Sekali lagi selamat kepada bapak ibu Indra di kampung kami tercinta, kami berharap bapak dan ibu betah menjadi bagian dari kampung kami ini." ujarnya.


"Saya Sugeng sebagai Lurah disini bersama pak rt yang biasa di panggil pak Min mewakili para masyarakat di sini yang kebetulan tidak bisa hadir disini, maklumlah pak rata rata warga disini petani kebun, kalau di jam jam ini biasanya mereka sibuk di ladang." tambahnya.


Kami berdua pun larut dalam kebahagiaan yang luar biasa. Seolah olah melupakan semua kejadiaan aneh beberapa hari ini. Semua bersenang senang dan juga makan bersama.

__ADS_1


Tidak terasa sudah mulai memasuki waktu senja. Satu persatu tamu undangan yang hadir mulai berpamitan tapi sebagiaan masih tetap tinggal termasuk saudara dan keluarga kami. Mereka mau menikmati landscape sunset pemandangan kota dari atas bukit. Aku melihat pak Lurah dan pak rt setengah berlari menghampiri aku dan istriku. Mereka juga mau berpamitan kepada kami.


"Pak Indra dan ibu, mohon maaf, sepertinya saya sudah harus berpamitan, kebetulan masih ada keperluaan di kampung tetangga." kata pak Lurah.


"Iya ni saya juga sepertinya mau pamitan, masih ada urusan sedikit." ujar pak rt.


"Oh iya iya silahkan bapak bapak, saya sama istri berterima kasih sudah mau datang di selah selah kesibukannya ke rumah kami." jawabku.


Aku melirik ke arah istriku untuk memberikan kode agar dia membawa nasi kotak untuk diberikan pada mereka. Istriku berlari menuju ke rumah dan lalu kembali lagi dengan membawa nasi kotak dan langsung menyerahkan ke pak Lurah juga pak rt. Begitu pak Lurah dan pak rt menerima nasi kotak dari kami, mereka berpamitan sekali lagi dan bergegas pergi seperti sangat tergesa gesa. Aku sempat melihat mimik wajah mereka berdua agak seperti setengah ketakutan, tapi aku tidak mengerti apa yang mereka takuti. Aku membuang fikiran negatif itu, aku takut akan menganggu mood hatiku yang sedang bahagia.


"Mas Indra maaf ni kayaknya saya sama istri mau pamitan nih, kami lupa mau mampir ke supermaket, kebetulan malem ini ada kenalan saya mau datang ke rumah." katanya.

__ADS_1


"Waduh buru buru banget ini mas Andi, eh tapi ngomong ngomong makasih banyak udah berkenan hadir di acara kecil kami ini." jawabku.


"Yang, ambil nasi kotaknya mas Andi dan istri !" pintaku ke istri.


"Iya mas." balas istriku.


Kami pun menyerahkan nasi kotak untuk di bawa mas Andi beserta istri. Tidak lupa kami bersalaman untuk kesekian kalinya.


"Kalau ada waktu main main kesini mas Andi, siapa tau mas Andi kangen rumah masa kecil." ajakku.


"Iya mas sama sama, nanti kita sekabaran lagi, sekali lagi selamat menempati rumah barunya, semoga betah." ujarnya.

__ADS_1


Sama seperti pak Lurah dan pak rt tadi, aku melihat mas Andi dan istri seperti kegelisahan dan buru buru ingin segera pergi, aku melihat keduanya tampak tergesa gesa untuk segera pergi.


Setelah mengantar mas Andi dan istri, kami pun kembali berbaur dengan keluarga kami. Kami berdua merasa lega pada akhirnya bisa memiliki rumah sendiri, belajar untuk bisa hidup mandiri sesuai dengan apa yang kami cita citakan selama ini. Tanpa kami sadari, kelak suatu saat nanti menjadi sebuah kesalahan besar bagi kami berdua membeli rumah ini.


__ADS_2