HANTU KEPALA BOTAK

HANTU KEPALA BOTAK
Bab 8 : Home Sweet Home II


__ADS_3

Malam semakin larut. Sebagiaan keluarga berpamitan pulang, sebagiaan lagi memilih menginap. Kebanyakan yang menginap adalah keponakan keponakan kami. Udara malam itu begitu dingin jauh sekali dari udara di tengah kota yang cukup menggerahkan. Aku menyalakan api di perapian. Kami semua berkumpul di perapian sekedar untuk mengobrol santai. Istriku menghidangkan kue kue kering dan teh hangat untuk kami.


"Om, rumah om sama tante bagus deh." kata Caca salah satu dari keponakan kami.


"Iya om, ala ala Eropa gitu." tambah Vero keponakan kami yang lainnya.


"Kalo aku si suka pemandangannya dan udaranya masih fresh banget." ujar Vidya.


"Kalau gitu, sering sering nginep sini aja kalo lagi libur." kataku.


"Om ... tante, lagi ngerenovasi ruangan belakang ya ?" celetuk Caca.


"Nggak kok Ca, emang kenapa ?" jawab istriku.


"Lho itu siapa yang dari tadi seliweran di belakang ? tadinya ngintip ngintip ke arah kita." tambah Caca lagi.

__ADS_1


Kami semua sama sama terdiam.


"Coba kamu cek mas, mana tau ada warga desa yang telat datang !!" pinta istriku.


"Yaudah aku cek dulu." ujarku.


"Iya mas, kamu hati hati, mana tau maling ."


"Kalian tunggu disini !!" perintahku.


Aku berjalan ke arah belakang tempat dimana Caca keponakanku melihat sesuatu. Aku memperhatikan dengan seksama di setiap ruangan yang bersekat dan setiap sudut ruangan tapi aku tidak menemukan apa apa.


Yang lain ikut mempertanyakan. Caca hanya bisa menggeleng kepala. Terlihat mimik wajahnya yang bingung bercampur merasa bersalah. Melihat mimik wajahnya seperti itu, aku langsung melempar senyum ke arahnya agar dia tidak merasa malu.


Aku mulai berjalan menuju ke arahnya untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Itu om barusan dia ngintip dari balik kulkas di belakang !?" seru Caca seraya menunjuk ke arah kulkas di dapur.


Spontan kami semua berbalik menoleh ke arah belakang dan tercengang.


"Kepalanya botak." tambah Caca lagi.


Kami semua terdiam. Entah kenapa lututku gemetaran. Tapi aku mencoba memberanikan diri menuju ke arah dapur setahap demi setahap. Pelan namun pasti aku ku gerakan kakiku. Semakin mendekati dapur, aku merasa langkahku semakin berat dan gemetaran. Perasaanku bercampur aduk menjadi satu. Langkahku tertahan di pintu dapur yang sedikit terbuka. Aku bergidik ngeri tapi rasa penasaran mengalahkan semuanya. Aku sejenak mengumpulkan keberanianku yang tersisa sebelum akhirnya aku melangkah tanpa keraguan. Aku mengambil teflon yang tergantung di dinding dapur untuk kujadikan senjata. Mataku mendelik tajam, aku bersiap mengayunkan teflon yang ku pegang begitu kuat. Tiba tiba sesuatu yang berwarna putih melayang sebelum aku sempat menyabet teflon, aku spontan tersentak kaget, aku merasa semua tubuhku mendadak bergemetar dan lutuku menjadi lemas, jantungku ikut berdegup kencang dan darahku serasa berdesir hebat. Sesuatu yang berwarna putih melayang menyentuh wajahku. Alangkah terkejutnya aku ketika mendapati sesuatu putih yang dilihat Caca tadi menyembul dari balik kulkas. Tanpa ragu ragu, aku menyabet tepat di arah sesuatu yang putih putih itu.


Aku memukul sesuatu sebuah benda putih secara membabi buta sambil berteriak dan memejamkan mata.


Samar samar aku mendengar riuh gelak tawa yang memecah keheningan dari arah istriku dan keponakan kami.


"Mas ... mas ... mas !!" panggil istriku.


"Om !! om ngapain ?" teriak Vero sambil tertawa.

__ADS_1


"Mas, udah ... berhenti !!" pinta istriku.


Aku pun berhenti mengayun ayunkan sabetan teflonku. Aku membuka kedua mataku. Wajahku mendadak merah padam karena merasa malu, ternyata aku memukul mukul sebuah balon berwarna putih bekas pesta penyambutan tadi siang. Aku jatuh terduduk dan menyandarkan tubuhku ke dinding dapur. Aku dengar mereka semua sedang mentertawaiku. Balon putih itu mengambang kesana kemari seolah olah sedang ikut ikutan mengejekku dan mentertawaiku. Aku mengusap ngusap wajahku.


__ADS_2