
Kisah ini aku tulis berdasarkan realita kehidupan yang ada di sekitar kita.Bukan tentang seorang milyader yang berpura pura menjadi miskin atau sebaliknya.
Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis miskin yang dilahirkan di kota kecil dengan kehidupan yang sangat memprihatinkan.
Aku anak ketiga dari tiga bersaudara.Aku anak paling bungsu,hari hariku kujalani seperti anak anak pada umumnya,bermain dan bermain dengan anak anak seusiaku.
Sebut saja namaku Amelia.Aku seorang gadis miskin yang dilahirkan di sebuah gubug kecil dengan atap ilalang,yang didalamnya tak ada sekat antara kamar tidur,ruang dapur ataupun ruang tamu.
Masa kecilku bukanlah masa kecil yang di idamkan kebanyakan anak anak seusiaku.
Tapi aku selalu bahagia menjalani setiap kehidupan dimasa kecilku,meskipun dengan sejuta kekurangan baik secara finansial ataupun kasih sayang.
Kedua orang tuaku selalu sibuk bekerja dan meninggalkanku di rumah berserta kedua kakakku.,tak jarang anak anak tetangga menemaniku tidur diwaktu malam hari,karna setiap malam kedua orangtuaku tidak pernah ada di rumah,mereka berjualan dan akan pulang ketika pagi tiba.
Malam telah larut....
Tiba tiba perutku terasa kaku .Dan sepertinya aku ingin buang air kecil.
Di jaman yang sudah SE moderen ini, di mana telah menjamur rumah rumah mewah yang di bangun dengan model arsitektur beraneka ragam,dari model yang sederhana sampai rumah dengan model mansion(rumah yang memiliki ukuran bangunan di atas 500 meter persegi dan memiliki fasilitas mewah).
__ADS_1
"Tapi..........,.
Hal itu tidak berlaku untuk rumah yang ku huni
Rumah dengan dinding anyaman bambu dan beratap kan ilalang.yang bahkan sangat sulit di temui di Jaman ku,yang mungkin jika pun bisa di temui itu bukan rumah yang di huni manusia,mungkin lebih tepatnya hampir menyamai kandang ayam milik tetanggaku.
ketika memasuki ruangan dapur hendak buang air kecil tiba tiba kulihat ada sorot lampu senter tepat didepan rumahku menyorot pohon mangga yg berdiri kokoh didepan rumahku,di pohon mangga terdapat banyak ayam,sesaat jantungku mulai berdetak kencang ketakutan,karna aku berdiri tepat di dapur dengan dinding yg berlobang
aku lari membangunkan kedua kakakku,aku sadar kalau itu maling,aku hendak teriak tapi kedua kakakku melarang.
Itu terjadi dimasa lampau,sekitar tiga puluh tahun yang lalu.Dimana masih sedikit terjadi tingkat kriminalitas.
Masih teringat jelas di ingatanku saat ayahku berpesan
"Amelia kamu nanti berangkat sekolah bersama temanmu".
Dan aku meng iyakan.
"Nanti jika gurumu memanggil namamu segeralah mengacungkan tangan dan berdiri masuk ke kelas."
__ADS_1
Hal yang tidak pernah bisa ku lupakan adalah saat melihat semua teman teman baruku yang datang ke sekolah di hari pertama ditemani orang tuanya,aku dan temanku tak seberuntung teman temanku lainnya.
Aku berangkat sekolah hanya berdua bersama temanku tanpa didampingi orang tuaku,sampai pada akhirnya terdengar suara memanggilku.
"Amelia",.guru memanggil namaku.
sontak aku terkejut dan aku langsung mengacungkan tanganku lalu masuk kelas.
Disinilah ceritaku dimulai,cerita tentang penghinaan dan arti kesedihan yang mungkin tak bisa ku lupakan sampai akhir usiaku, sebuah hinaan, cacian dan makian.
Terlahir sebagai gadis yang dilahirkan dari keluarga miskin tidaklah mudah,menumbuhkan rasa percaya diri untuk bisa bergaul dengan teman teman sebayanya pun tidak mudah.
Masih teringat betul di memori otakku saat pertama masuk sekolah dasar ,saat teman teman sekolahku memakai seragam baru dan tas baru,barulah aku tersadar aku tidak seberuntung teman temanku.
Mulai terbersit di pikiranku,kenapa tuhan tidak adil,kenapa aku harus dilahirkan dari keluarga miskin,dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas ,setiap tahun ajaran baru sekolah aku selalu memakai baju bekas dan tas bekas.
Saat sekolah dasar aku sering di bully teman sekolahku bahkan kakak kelasku,yang mungkin
tidak akan pernah ku lupa wajah dan namanya.
__ADS_1