Hanya Anak Singkong

Hanya Anak Singkong
Andreas yang imut


__ADS_3

Griselda,si munafik yang bermuka dua itu slalu saja mengusik kehidupanku,tak henti hentinya membuatku muak dan ingin rasanya menampar wajah nya.


Sepulang dari rumah bos ku dan baru saja aku sampai ditempat kerja ,griselda langsung menyambut ku dan memberondong ku dengan pertanyaan,


"Di rumah bos kau disuruh apa dan ngapain aja?",ucap griselda,yang tanpa malu menanyakan urusan yang seharusnya bukan urusannya,


Dengan santai aku menjawab,


"aku hanya membantu persiapan pernikahan adik nya dan mengecek undangan serta menulis siapa saja yang bakal di undang oleh bos Rihana",.sambil berlalu pergi dari hadapannya.


Sore pun tiba,tiba waktunya aku pulang dari tempat kerja,seperti biasa aku harus pulang dengan naik angkut,karna tak mungkin juga aku jalan kaki untuk sampai di rumah pamanku,karna jarak antara tempat kerja dan rumah pamanku lumayan jauh.


Pamanku pun tak punya banyak waktu untuk menjemput ku ketempat kerja,karna dia juga punya kesibukan mengurus pekerjaannya.


Rasa lelah sempat terbersit di benakku,aku lelah jika harus berangkat dan pulang kerja naik angkut.


Sampai pada akhirnya aku berfikir untuk mencari teman atau seseorang yang bisa menjemput ku dan mengantarku pulang kerja,tanpa harus aku bersusah payah naik angkut.


Setiap malam di rumah pamanku slalu rame kedatangan anak muda laki laki teman keponakanku dan teman karyawan pamanku.


Sampai pada akhirnya ada tiga dari mereka yang mengatakan tertarik padaku,mereka mengutarakan perasaannya lewat keponakanku.


Keponakanku lah sebagai perantara penyampai isi hati mereka,mulailah aku berfikir untuk memilih satu dari mereka,memilih bukan karna aku jatuh hati pada mereka,tapi memilih untuk bisa memanfaatkan mereka.


Memanfaatkan waktu dan tenaga mereka untuk mengantarku sampai ketempat kerja.


Mulailah aku berfikir ,dan selektif memilih satu diantara mereka,sampai pada akhirnya jatuh lah pilihanku pada anak tunggal seorang bos servis sepeda motor.

__ADS_1


Dia memang masih kecil dan masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar,hanya saja pergaulan kota dan teman temannya yang jauh lebih dewasa darinya yang membuat dia bergaya layaknya anak remaja.


keponakan ku berkata padaku,.


"Mereka bertiga jatuh hati padamu,kamu pilih yang mana mbak"


"Aku pilih Andreas".


"Ha ha ha ha,kenapa kau pilih dia,bukankah dia masih kecil dan anak manja".


"Justru aku main aman,karna dia masih lugu dan bisa di manfaatkan".


"Ooooooo(sambil menganggukkan kepalanya),isyarat mengerti dengan apa yang ku maksud".


"Sampaikan padanya,aku menerima nya".


Keesokan harinya kita jadian,dan lelahku kini terbayar,aku tak perlu susah payah lagi naik angkut berangkat ketempat kerja,karna Andreas menjemput ku dan mengantarkan ku berangkat ketempat kerja,serta menjemput ku kembali ketika aku pulang kerja.


Andreas memanglah pria lucu ,lugu dan menggemaskan,bagaimana tidak,dia masih duduk di bangku sekolah dasar,dan setauku sepertinya dia belum pernah pacaran,sedangkan aku gadis yang sudah lulus sekolah menengah atas,usia kita terpaut jauh.


Tapi..........,


Ingin rasanya aku tertawa jika mengenangnya,dia pria ter imut yang pernah ada dan pernah mengisi hari hariku,dia memang anak tunggal yang manja,yang apa maunya slalu dituruti kedua orangtuanya,hari kedua kita jadian ,Dia si Andreas mengganti motornya dengan motor besar dan motor Ter keren di jaman itu.


Sungguh itu bukan menambah keren penampilannya,justru membuatnya semakin terlihat lucu.


Tubuhnya yang pendek dan gendut harus menopang sepeda motor yang besar,tidak selaras dengan badannya.

__ADS_1


Jika kita jalan berdua tak jarang pria yang terkadang di belakangku memanggil dan menggodaku,karna tak mungkin juga mereka berfikir kalau yang di depan yang membonceng ku adalah pacarku.


Aku cuek dan tak pernah menghiraukan,di kota besar jalanan memanglah padat dan tak jarang macet ketika jam pulang kerja,dan tak jarang pula kita juga sering bertemu orang orang asing di jalan,atau orang iseng yang sekedar menyapa atau mengganggu.


Bibi dan pamanku merestui hubungan kita,begitupun kedua orang tua Andreas,bahkan keponakan dan karyawan pamanku pun merestuinya.


Bagaimana tidak,Andreas bukanlah anak yang pelit,dia anak yang royal,keponakan dan karyawan pamanku dijatah uang rokok asal dia bisa dekat denganku.


Apalagi keponakanku,mulai dari makanan sampai ****** ***** pun di belikan oleh Andreas,asalkan dia slalu di dekatkan denganku.


Semua senang dan bahagia,tak pelak ketika aku mengutarakan niatku untuk putus dengan Andreas,mereka dengan lantang berkata ,


"Jangan......,


tetaplah dengannya supaya setiap hari aku dapat jatah uang rokok dari si Andreas,ucap keponakanku.


Aku harus menurut,meskipun aku juga butuh dia untuk menjemput dan mengantarku berangkat ketempat kerja,aku hanya tidak tega.


Ditempat kerja pun teman teman kerja ku pun suka menertawakan ku,karna aku berpacaran dengan anak yang masih kecil.


Tak jarang setiap malam Minggu aku mengajak si Andreas untuk menjenguk temanku yang bekerja ditempat berbeda.


Dia teman satu kampung ku,teman seperjuangan denganku,berangkat bersama dari kota kecil ke kota besar untuk mencari pekerjaan ke kota,hanya peruntungan kita berbeda.


Hari berganti hari dan bulan berganti bulan,rasa jenuh bekerja ditempat kerja mulai menghantuiku,aku bosan,jenuh dan lelah,bekerja di tempat kerja yang dimana di dalamnya terdapat manusia munafik yang tidak menginginkan kehadiranku.


"Ya.......

__ADS_1


Aku tau ,keberadaan ku takut membuatnya tersisih dari perhatian dan kasih sayang bos ku,aku mulai merasakan tidak betah ditempat kerjaku,karna teman sekantorku tak mau mengajakku berkomunikasi atau kerjasama dengan baik,aku pun tau dia berusaha menyingkirkan ku dan membuatku tidak betah.


__ADS_2