
Secercah harapan dan impian ku sedikit demi sedikit mulai menemukan titik terang,besar harapan ku di tempat kerja yang baru.
Di hari kedua aku bekerja yang di bimbing seniorku dalam memasarkan sebuah produk mendapatkan persentase yang lumayan,tidak butuh lama mendapatkan uang sebesar gaji ku di tempat kerja yang lama.
Jika ditempat kerja yang lama aku akan mendapatkan nya setelah aku bekerja satu bulan ,tapi di tempat kerja ku yang baru,cukup butuh waktu dua jam,aku sudah mendapatkannya,sungguh persentase yang nominal nya bisa di bilang sangat fantastis di jaman itu.
Pulang kerja pun aku tak perlu naik angkut butut,berangkat dan pulang kerja aku slalu naik taksi,dan masih jelas dalam ingatanku,saat itu taksi blue bird lah yang banyak ada di jaman itu.
Aku sangat bersemangat untuk mengumpulkan uang lebih banyak lagi,aku benar benar sangat bahagia bisa bekerja di tempat itu,dan bermimpi akan segera mewujudkan segala keinginanku.
Tapi apa daya,baru saja hari ketiga aku bekerja,ayahku menjengukku dan melarang ku bekerja di tempat ku yang baru,dengan alasan bahwa pekerjaan ku sangat beresiko ,karna aku harus berada di jalan setiap hari.
Aku,apalah aku,lagi lagi aku harus pasrah dan menuruti kemauan ayah ku,aku resign dan memilih untuk mencari lagi pekerjaan yang baru yang lebih tidak beresiko .
Kalaupun balik ketempat kerja lama sebenarnya bisa saja,tapi aku ingin mendapatkan gaji yang lebih besar dari tempatku bekerja.
__ADS_1
Untung tak dapat di raih malang tak dapat di tolak,aku berusaha dan terus berusaha,tapi belum lagi aku mendapatkan hasil,aku sudah terkena masalah,
Masalah yang seharusnya bukan menjadi masalah ku,hidup ku memang menumpang di pamanku dan aku punya seorang ke ponakan gadis,dia berpacaran dengan anak buah pacarku,alhasil om dan bibi ku tidak merestui hubungan mereka.
Mereka kepergok ketika berjanjian,dan aku pun ikut terseret dalam masalah itu,karna aku ikut mengantarkan mereka bertemu.
Aku........,
Apa dayaku yang hanya hidup menumpang,menjadi bahan kesalahan karna ikut serta saat mereka bertemu,yang sebenarnya aku sendiri serba salah untuk itu.
Bibiku marah,dan sepertinya enggan untuk menyapaku,hidup menumpang tidaklah mudah,dan aku cukup tau diri untuk itu.
Sampai suatu ketika,adik sepupuku menelpon ku dan memberi tahuku bahwa ada lowongan pekerjaan di kota.
Ku sampaikan niat ku kepada ibuku,untuk bekerja lagi ke kota,mengadu nasib,
__ADS_1
Tapi ibu ku melarang ku untuk pergi ,aku tidak boleh bekerja lagi,dengan sejuta alasan ibuku melarang ku.
Tanpa aku tau pasti alasan itu,mau tak mau aku harus menuruti kemauan ibu ku,untuk tetap tinggal.
Ternyata larangan ibuku bukan tanpa alasan dan tujuan,
Ibuku ternyata sudah mempunyai segudang rencana.
Ternyata ibuku merencanakan untuk menikah kan ku dengan pria pilihannya,tanpa meminta ijin atau bertanya pada ku,apakah aku telah siap untuk menikah?,.
Hancur berkeping rasanya hatiku saat itu,aku bingung akan berbuat apa,melawan kehendak orang tua,atau menuruti apa kemauan orang tuaku.
Aku bingung,sangat bingung,
Menolak takut dosa dan kualat
__ADS_1
Menerima takut tak bahagia,apalagi jodoh yang di pilihan ibuku adalah pria miskin yang tak punya masa depan.
Hidup adalah pilihan,tapi saat itu aku benar benar tidak punya pilihan