
Awal aku menimba ilmu disekolah dasar.
Masih teringat jelas di memory otakku,dua hari sebelum masuk sekolah kedua kakakku mempersiapkan perlengkapan ku untuk dibawa dan dipakai ke sekolah ,mulai dari seragam bekas kakakku yang sudah lusuh dan tas sekolah bekas kakakku yang bertuliskan Aci(aku cinta Indonesia),dimana sekat yang biasa digunakan untuk tempat pensil sudah rusak dan sobek,kakakku memperbaikinya dan menambalnya dengan sobekan sarung yang sudah lusuh supaya tidak menyatu antara tempat buku dan pensil.
Di awal awal aku merasa biasa dan bahagia karna bisa bersekolah dan bertemu banyak teman.
Tapi apa yang terjadi,sesampainya disekolah banyak mata memandangku dengan tatapan yang tidak biasa.
Ya,tatapan sinis yang memperhatikan penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki dan tak jarang mereka berbisik sambil menertawakan aku.
Aku memang gadis miskin yang terlahir dengan kulit gelap dan tidak cantik di waktu itu(kata teman temanku),apalagi ditambah dengan penampilanku yang sama sekali tidak layak.
Hari pertama aku sekolah hanyalah mendapatkan tatapan sinis,tapi tidak hari hari berikutnya.
Hari pertama sekolah aku bermain hanya dengan tetanggaku depan rumah dan belum belajar,hanya perkenalan saja antara guru dan siswa.
Waktu berlalu dengan cepat,sampailah bel sekolah berbunyi tanda masuk kelas dan pulang.
Pulang sekolah aku berjalan kaki bersama temanku,tak ada orang tua yang menjemput,meski jarak antara rumah dan sekolah lumayan jauh.
Sesampai di rumah aku istirahat sebentar dan lanjut bermain bersama temanku hingga sore,saat sore tiba aku harus segera pulang karna aku harus berangkat ke surau untuk mengaji,menimba ilmu agama.
Ayahku memang bukan orang baik,tapi ayahku tidak pernah lupa untuk mengajarkan anak anaknya menjadi anak yang Sholeha dan mengerti agama,tak jarang kalau aku telat pulang ketika tiba waktunya mengaji,ayahku akan marah besar.
__ADS_1
Hari pun begitu cepat berlalu,pagi pun datang,dan aku harus berangkat ke sekolah,disinilah Bulian demi Bulian kudapatkan.
Masih teringat jelas kakak kelasku yang bernama Luh putu mengangkat rokku dan tertawa terbahak bahak serta berteriak
"celana bolong celana bolong",ucapnya.
Ya ,memang saat itu aku mengenakan ****** ***** yang sudah rusak dan berlubang,jika mengingat masa itu,sungguh sakit sekali rasanya hatiku.
Bagaimana tidak,aku dipermalukan kakak kelasku didepan orang banyak,ingin rasanya aku menangis sejadi jadinya,jika aku tidak malu.tak ada tempatku bersandar dan mengadu.
Hal itu tidak terjadi sekali tapi berulang kali,seorang kakak kelas yang tidak cantik berbadan gendut dengan bibir tebal,ya dia adalah Luh putu kakak kelas yang slalu mem bully ku.
Hari berganti hari,bulan berganti bulan dan taun berganti taun,sampailah pada kelulusan ku di sekolah dasar.
Itu terjadi di zamanku,dimana ayahku mengubah tahun kelahiran ku,supaya aku bisa di trima sekolah disekolah dasar.
Meskipun usiaku terhitung masih muda disekolah dasar,aku bukanlah siswa yang bodoh,dengan cepat aku bisa menerima dan memahami pelajaran sekolah.
Tanpa sekolah TK ataupun les privat.
Sebelum naik ke kelas dua sekolah dasar,aku sudah lancar membaca dan slalu mendapat peringkat sepulu besar disekolah ku.
Di masa liburan sekolah aku menghabiskan banyak waktuku dengan bekerja bersama temanku,mulai mencari batu apung untuk dijual sampai mencari barang bekas,untuk mendapatkan uang jajan.
__ADS_1
Ayahku yang bekerja sebagai nelayan tidak setiap hari tinggal di rumah,terkadang ayahku merantau ke Madura melaut mencari ikan,meninggalkan keluarganya hingga satu bulan lamanya.
Tak jarang ayahku tidak menitipkan uang sepeser pun untuk keluarganya di rumah.
Pernah saat itu dimana ibuku sama sekali tak mempunyai uang untuk membeli lauk.
karna kebingungan,demi anak anak nya yang belum makan. ibuku kelaut mencari apa saja yang bisa di jadikan lauk.karna di jaman itu masih banyak rombongan nelayan yang menjaring ikan di laut menggunakan jala besar.Mereka melepas jala besar kelaut dan menariknya di darat beramai ramai,setelah di rasa ikan sudah terperangkap di dalam jala besar.
Dan biasanya warga sekitar ikut membantu,sedangkan para ibu menunggu di pinggir pantai mencari sisa sisa ikan hasil tangkapan nelayan .
Hal itulah yang di lakukan ibuku.
Hanya saja ikan yang di temukan ibuku bukan ikan yang bisa di konsumsi secara aman,ikan yang di temukan ibuku adalah ikan buntal.ibuku bergegas membawa pulang hendak memasaknya.
Beruntung di waktu yang tepat tetangga mengetahuinya dan melarang ibuku memasaknya,karna beracun.
Andai waktu itu tak ada yang mengetahuinya mungkin aku sekeluarga meninggal dalam waktu yang bersamaan.
Hidupku benar benar memprihatinkan,kemiskinan yang membuatku jadi bahan hinaan dan nyaris kelaparan.
Satu bulan berlalu,tiba waktunya aku mulai bersekolah,tentunya disekolah yang baru,sekolah menengah pertama.
Seperti taun taun sebelumnya,aku mengenakan seragam dari bekas kakakku,tapi kali ini diwajibkan membeli seragam baru.
__ADS_1