
Bell berbunyi menandakan menandakan pelajaran akan dimulai. di saat jam pelajaran ini lah aku bisa lebih tenang setelah kejadian tadi.
aku mulai menulis dan mendengarkan apa yang disampaikan guru di depan seperti murid biasa lainnya. kebanyakan orang pasti berpikir bahwa aku ingin menjadi murid teladan.
tapi itu semua tidak benar biar ku beri tau kenyataan yang sebenarnya.
itu semua karena aku lebih nyaman belajar disekolah dari pada di rumah. bukanya aku tidak nyaman belajar dirumah tapi lebih ke arah tidak aman. itu semua karena kakakku yang mengajariku saat aku dirumah.
itu lah yang membuatku merasa takut. saat kakakku mengajari ku dirumah dia terlihat seperti monster dari pada seorang guru dan itu lah penyebabnya.
bel pun berbunyi menandaka waktunya istirahat. setelah ke jadian tadi pagi sepertinya aku tidak bisa menikmati waktu istirahat ini. dan ternyata benar para siswa yang ada dikelas mulai mendekatiku.
"Loen apa yang kau lakukan terhadap Linda?!".
"apa kau tau apa kesalahan mu".
"kau bahkan membuatnya menangis".
"Bertanggung jawab lah".
rasanya sungguh tidak enak saat aku dikelilingi orang-orang yang menghujaniku dengan ribuan pertanyaan.
aku berusaha mencari alasan agar aku bisa keluar dari situasi ini. dan alam menjawab permintaan ku. perutku mulai merasakan sakit itu pertanda aku harus ke toilet.
"Maaf teman-teman sepertinya aku harus ke toilet jadi. selamat tinggal" aku berusaha berlari sekuat tenaga keluar dari kelas.
"Leon jangan coba-caba kabur kau. semuanya kejar dia" semua orang yang ada di kelas mulai mengejarku.
♢
aku berlari sambil membawa rasa sakit di perutku bersamaku. sepertinya mereka tidak akan membiarkanku lolos "hey. apa kalian tidak kasihan kepadaku yang sedang sakit perut dan harus menderita seperti ini hanya untuk ke toilet".
"itu hanya alasan yang kau buat semunya jangan biarkan dia kabur".
mereka benar-benar tidak punanya perasaan apa. saat ini aku sedang menderita mereka malah menambah penderitaan ku dengan mengejarku tanpa alasan yang jelas.
(sebenarnya apa yang telah dilakukan rubah licik itu hinggak menjadi seperti ini).
"hey semuanya itu si Loen tangkap dia".
"kejar dia".
"ikat si Leon itu".
tanpaku sadari orang yang mengejar ku bertambah banyak hampir semua murid mengejarku.
(Sungguh. sebenarnya apa yang telah Linda lakukan).
aku terus berlari tanpa henti dan perlahan rasa lelah mulai menghampiriku. pandanganku mulai kabut dan rasa sakit di perut ku bertambah parah.
disaat berlari aku pun memutuskan untuk berbelok kearah lain agar aku bisa menghindari mereka. tetapi kenyataan yang pahit memberitahuku bahwa didepan adalah jalan buntu.
"apa ini akhir dari perkalananku. aku masih terlalu muda untuk berakhir di sini aku bahkan belum menikah. TIDAAAK aku tidak ingin berakhir disini"
"woy Leon jangan kebanyakan drama deh cepat sini".
perlahan aku mulai mendengar sebuah suara memanggilku. apa itu suara malaikat yang akan menjemputku sebentar lagi.
__ADS_1
"kamu kelamaan cepat sini".
tiba-tiba seseorang menariku dan membawaku ke gudang sekolah.
"siapa kamu apa yang kamu mau dariku".
"Ssssst.. apa kamu mau ditangkap oleh mereka "
perlahan aku mulai mendengar langkah kaki dari luar.
"dia menghilang!!".
"kemana perginya?".
"dia tidak mungkin jauh dari sini cepat cari dia".
"SIAP!!!"
langkah kaki mereka mulai menjauh dan perlahan menjauh entah bagaimana sepertinya aku selamat untuk saat ini.
"oh iya. makasih ya udah menolong ku".
"iya sama-sama".
"oh ternyata itu kau Ardi".
"iya ini aku memang kau anggap aku siapa. kesampingkan itu dulu sebenarnya ada apa sampai kamu dikejar-kejar seperti itu?"
"sebenarnya begini....".
aku pun mulai menceritakan apa yang terjadi dari pertama aku bertemu Linda hingga aku dikejar kejar oleh mereka.
"ya singkatnya seperti itu". disini aku meminta saran kepada Ardi. seperti apa yang harus kelakukan atau apa yang bisa mengakhiri semua ini.
dia terdiam memejamkan matanya tanganya yang menyentuh dagu sepertinya dia sedang memikirkan sebuah solusi untuk masalah ku ini.
dan tiba-tiba dia membuka matanya dan itu membuat ku terkejut. sepertinya dia telah mendapatkan solusi atas masalah ku ini dia memang sahabat sejati
"apa kau telah mendapatkan solusinya".
"iya".
"apa itu beritahu aku".
"begini. sebaiknya kita harus segera "
"segera.....?"
"segera masuk kekelas karena bel tanda pelajaran akan di mulai telah berbunyi".
dan harapanku jatuh begitu saja dibuatnya
"apa kau tidak kasihan pada ku jika aku kembali kekelas itu sama saja aku masuk kekandang singa tau".
"dari pada masuk kekandang singa mungkin kau akan lebih dulu bertemu seorang malaikat sepertinya"
"malaikat-malikat apa maksutmu".
__ADS_1
"......"
"apa mungkin dia seorang gadis tang cantik?".
"......mungkin"
"benarkah dimana?"
"......"
entah mengapa Ardi seperti memberiku isyarat bahwa aku harus melihat ke belakang dengan gerakan tubuhnya.
aku mulai menoleh kebelakan dan aku melihat.
"bu melati. selamat pagi"
"pagi Ardi dan apa yang kau lakukan di sini?"
bu melati(kakakku) tersenyum dengan ramah saat menjawah salam dari Ardi tapi aku tau maksut dari senyumannya itu tersimpan kegelapan didalamnya. dan sepertinya Ardi juga mengetahuinya aku.
aku bisa tau karena dari tadi kaki Ardi gemetar ketekutan
"sebenarnya itu..."
"Haaah. baiklah aku tidak akan memintamu melanjutkannya. sebaiknya kamu kembali kekelas karena pelajaran sudah dimulai".
"baik bu melati" perlahan Ardi berjalan menuju kelasnya da aku mengikutinya dari belakang berharap bu melati(kakakku) tidak menyadarinya.
"dan untuk Leon sepertinya kita harus bicara" dan dia menyadarinya.
"baik bu Melati".
memang benar apa yang dikatakan Ardi bahwa aku akan bertemu dengan malaikat.
tapi bukan malaikat seperti yang aku inginkan melainkan malaikat maut yang kudapatkan.
kakakku membawaku ke ruangan guru (sepertinya akan ada badai yang akan menimpaku).
"Leon. kenapa kamu tidak masuk ke kelasmu tadi" dia benar-benar menyeramkan aku tak tau harus berkata apa sepertinya aku harus membuat alasan yang cukup meyakinkan.
"tidak aku hanya dari toilet tadi" aku mencoba membuat alasan aga tidak membuatnya curiga tentang masalahku ini.
"Leon jangan berbohong".
"eh~"(kenapa dia bisa tau) aku terkejut saat kakakku mengetahuinya bagaimana caranya dia mengetahuinya apa dia juga tau tentang masalahku?.
"pasti kau pikir aku tidak menetahunya" jadi dia benar-benar mengetahunya.
" Hah~ bagaimana pun juga aku ini kakakmu. tentu saja aku tau kebiasaanmu setiap hari" tenyata walaupun dia galak dia masih sayang kepadaku bahkan dia tau kebiasaanku.
sepertinya aku tidak bisa berbohong kepada kakakku lagi "sebenarnya aku ada masalah di kelas jadi aku agak ragu saat ingin masuk kedalam kelas".
"begitu ya. tapi bagaimana pun masalah yang kau miliki dan seberat apapun rintangan yang harus kau lewati. kau harus meng hadapinya jangan melarikan diri karenanya" kenapa kakakku bisa jadi bijak seperti ini?.
"baik bu melati" aku tidak bisa memanggilnya kakak karena saat ini aku masih di sekolah.
"sebaiknya kamu kembali kekelas. aku tadi sudah menghubungi guru yang sedang mengajar di kelasmu jadi kau bisa tenang"
__ADS_1
"baiklah aku akan pergi kekelas dulu terimakasih atas nasihatnya" aku berjalan pergi meninggalkan ruangan guru agar aku bisa segera masuk ke kelasku.
sementara di ruang guru "dia memang selalu jadi sumber masalah bagimana aku tidak mengetahui tebiasaannya itu. biarlah aku juga harus menjalankan tugasku menjadi guru".