hanya sebuah kenangan

hanya sebuah kenangan
sebuah kebetulan


__ADS_3

Aku masih tidak bisa tidur apa yang harus aku lakukan semua masalah ini bisa membunuhku.


Hujan turun pada malam itu dengan derasnya disertai suara petir yang sangat keras tiba-tiba lampu dirumah mati semua menjadi gelap tanpa ada suara sedikit pun.


DUAAAAAAR !


Cahaya yang dipancarkan petir itu menerangu kamarku sesaat di ikuti suara yang sangat keras hal itu membuatku terkejut.


"Astaga. Bahkan langit tidak membiarkanku tidur".


Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki. Suara langkah kaki itu semakin jelas sepertinya menuju kemari dan suara langkah kaki itu tiba-tiba berhenti di depan pintu kamarku. Ini sudah tengah malam semuanya pasti sudah tidur lalu siapa yang ada di depan pintu kamarku.


"Siapa di situ !"


!!


Tidak di jawab. Hening tanpa ada suara sedikit pun. Jelas hal ini membuatku takut dengan keadaan gelap seperti ini tanpa adanya cahaya aku tidak bisa melihat apa pun saat ini.


Berderit


Perlahan pintu terbuka suasananya sangat gelap aku bahkan tidak bisa melihat siapa yang membuka pintu itu lah itu membuatku semakin takut dan sialnya lagi kenapa disaat seperti ini tidak ada alat peneranga sama sekali seperti senter misalnya bahkan lilin pun tidak ada.


DUAAAAR !!


"Kyaaa !".


Sekejap kamarku di sinari cahaya petir dan suara petir yang sangat keras di ikuti suara gadis yang berteriak ketakutan. Saat cahaya petir menerangi kamarku walau hanya sesaat aku melihat seseorang yang sedang berdiri di depan kamarku saat ini dan aku tidak menduganya dia adalah.


"Tina ada apa".


Ternyata adalah Tina sambil memeluk bantalnya dengan mata yang berkaca-kaca seperti ingin menangis.


"Kakak Aku takut~".


Benar juga adikku ini kan takut dengan petir tapi di seharusnya juga takut gelap !!


"Tina kenapa bisa sampi kekamar kakak kan saat ini kondisinya gelap ?"


Dengan kondisi gelap seperti ini seharusnya tidak mungkin Tina bisa kesini tapi bagaimana bisa dia sampai sini sendirian?.


"Aku kesini pakai senter kak~ "


Bibirnya sampai bergetar saat mengatakannya. Adikku benar-benar sedang ketakutan saat ini walau pun dalam keadaan takut adikku tetap terlihat imut.


Tunggu dulu setelah kupikir pikir saat ini bukannya adikku lebih pintar dariku dia bahkan menyimpan senter di kamarnya sedangkan aku. Sebagai kakak Aku merasa tidak berguna aku merasa ingin menangis


" lalu kenapa Tina kesini ?"


"Tina nggak bisa tidur karena suara petir sangat menakutkan. Tadi Tina udah kekamar ayah & ibu tapi pintunya dikunci"


Pasti ayah dan ibu sedang melakukan hal itu. Jelas saja karena situasi dan kondisinya sangat mendukung mereka bahkan tidak memperhatikan jika Tina ada disana untung pintunya terkunci jika tidak.


"Terus Tina juga sudah kekamar kakak Tiara tapi kak Tiara sudah tidur jadi Tina kekamar kak Leon saja".


Kenapa sepertinya aku jadi pilihan terakhir bagi Tina. Sakit hati ini.


"Kak jadi boleh nggak Tina tidur di kamar kakak. Tina takut tidur sendiri".


Tina meminta dengan mata yang berkaca-kaca sebagai kakaknya aku tidak bisa menolak permintaan adikku ini


"Tentu saja boleh. Tina boleh tidur dengan kakak disini".

__ADS_1


"Asik Tina tidur dengan kakak Leon".


Sebenarnya aku sangat senang Tina akan tidur bersamaku hatiku seperti akan meledak karena dipenuhi dengan rasa gembira ini.


Dalam hati aku menjerit dengan keras.


YAHUI~


Rasanya seperti aku bisa menghadapi semua masalahku dengan mudah.


"Kakak Tina mau di bacakan buku cerita sebelum tidur".


Jangankan buku cerita bahkan ensiklopedia pun akan ku baca hingga tamat hanya untuk adikku tercinta.


"Gimana kalo judul-"


"Gimana kalau. si mesum yang kehilangan kesempatan karena nasipnya yang tragis".


Seseorang perlahan mendekat dari balik pintu wajahnya mulai terlihat karena disinari cahaya bulan. Tampak seseorang yang tidak bisa Leon hadapi secara fisik maupun mental.


"Kakak kenapa kua disini".


"Aku terbangun karena karena mendengar suara jeritan hati orang bodoh yang terdengar sangat bahagia karena adiknya menangis".


"Tunggu kau membuatku terdengar seperti orang yang sangat kejam dan siapa yang kau panggil mesum".


Apa yang sebenarnya ia katakan menggap ku seperti orang bodoh. Mana mungkin aku berbuat macam-macam pada adikku sendiri.


"Mesum ?"


Suara tadi jangan-jangan !.


"Tina kamu tidak perlu memikirkan apa yang kakak Tiara katakan tadi ya !.


"Tapi kakak mesum itu apa ?"


Bagaimana aku harus menjawabnya apa yang harus aku katakan kepada Tina aku tidak bisa mengatakan kebenaran arti kata itu apa yang sebaiknya aku lakukan.


"Tina sekarang sudah malam sebaiknya kamu tidur. Ayo pindah ke kamar kakak nanti kakak ceritakan dongeng yang bagus buat Tina".


"Asik dibacakan dongeng kak Tiara".


"Leon .... nggak jadi ayo Tina kita tidur"


"Baik kak Tiara. Selamat malam kak Leon".


Tina pergi dengan kak Tiara dan sekaranf aku sendirian disini dikamar ini aku kesepian rasanya aku ingin menangis.


Hujan mulai reda akan tetapi udaranya masih terasa dingin dengan ruangan gelap gulita karena mati lampu ditambah tidak ada suara sedikit pun walaupun suasananya cukup mendukung untuk tidur tetapi terasa hampa dan kosong disini tanpa ada yang menemani.


Lebih baik tidur sekarang dari pada nanti aku kesiangan tapi aku benar-benar pengen nangis.


Sakitnya tuh disini.


◇


Biip~ biip~ biip~


Suara telpon berdering di pagi hari dimana matahari bersinar dengan cerah.


Hari dimana aku masih setengah sadar karena aku baru bangun tidur.

__ADS_1


"Waaaaah~. Iya sebentar".


Mendekat ke arah sumber suara aku bangun dari tempat tidurku walaupun nyawaku belum kupmul semua alias setengah sadar aku mengambil telpon yang ada dimeja kamarku.


Perlahan mendekatkan telpon itu ketelingaku.


"Halo dengan siapa ini ?".


"Baru bangun ?".


"Iya baru bangun ini siapa ya".


"Katanya kamu mau minta saran dariku jadi nggak nih ?. Aku tunggu sekarang di tempat biasa !".


"Ah !! Ternyata Ardi tunggu sebentar aku akan kesana. nggak lama kok cuma sebentar".


Kau berlari kekamar mandi dan mandi secepat kilat.


Dengan menggunakan kaos puih polos dan celana olahraga pangang aku pergi ketempat Ardi berada.


Aku berlari secepat mungkin agar tidak terlambat tetapi berbagi masalah membuat ku terlambat.


Terlihat Seorang wanita sedang kebingungan mencari sesuatu setelah ku tanya ternyata anjingnya lepas dari talinya saat dibawa jalan-jalan tanpa berpikir panjang aku menolong wanita itu mencari anjingnya yang hilang


Tanpa di duga Tidak sengaja dijalan aku berjumpa seorang nenek yang terlihat membawa banyak sekali belanjaan tidak tanggung-tanggung aku langsung menolongnya sekalian mencari seokor anjing yang hilang tadi.


Setelah aku menolong nenek tadi aku lanjut mencari lagi anjingnya seorang anak yang bolanya tersangkut dipohon dia berusaha mengambilnya dengan cara memanjat pohon itu tetapi dia tidak bisa turun aku lari ke pohon itu dan verusaha menolongnya.


"Ayo turun biar kakak tangkap nanti !".


"Tapi kak~".


"Tidak apa. Percaya pada ku".


Dia berpikir sebentar dan sepertinya dia sudah percaya padaku. Dia mulai melompat dari pohon itu dan aku berhasil menangkapnya.


Setelah dia menjelaskan kenapa dia bisa di atas pohon aku pun mengambil bola yang ada diatas pohon itu dan memberikannya kepada anak itu.


"Terima kasih kak".


"Sama-sama lain kali jangan melakukan hal seperti tadi lebih baik minta bantuan orang dewasa oke"


"Baik kak".


Dia pergi oh iya aku harus mencari anjing yang hilang itu.


Guk~ guk~


"Suara anjing sepertinya suaranya berada di dekat sini".


aku mencari dan mendekati sumber suara itu dan yang ku lihat sangat tidak terduga.


Seorang wanita bermain dengan anjing yang sedang ku cari dan aku sangat mengenal siapa dia.


"Linda kenapa kamu disini".


dengan suara yang sedikit kesal. Menginat apa yang terjadi padaku hingga saat ini itu semua karena dia.


"Oh Leon. Bagus sekali aku tidak perlu mencarimu lagi aku ingin bicara denganmu".


Seharusnya itu yang aku katakan dia mengambil kalimatku yang seharusnya ku ucapkan padanya.

__ADS_1


"Kebetulan sekali aku juga sedang mencarimu"


Wajah kami saling bertatapan tapi tidak ada kebaikan didalamnya.


__ADS_2