
"Leon ada yang harus ayah sampaikan kepadamu"
Aku melihat ekspresi ayah yang berbeda dari biasanya. karena biasanya ayah akan pulang saat ada sesuatu yang benar benar serius (Sepertinya ada hal yang sangat serius yang ingin ayah sampaikan padaku) begitu pikirku saat melihat suasana saat ini.
"Sebenarnya ayah sangat berat mengatakannya" aku merasa ini akan memjadi masalah serius karena ayah tidak pernah berkata serius seperti ini sebelumnya.
"Sebenarnya ini menyangkut masa depan mu Leon" apa menyangkut masa depanku. Aku jadi khawatir. saat ini seperti apakah ayah akan membawaku ikut keluar negeri.
atau apakah dia akan tinggal disini mulai sekarang atau mungkin kakakku lah yang akan ayah bawa keluar negeri bersamanya untuk membantunya disana. jika hal itu terjadi itu akan merubah seluruh hidupku karena dapat terbebas dari genggaman kakakku seutuhnya.
"Apa kamu siap mendengarnya Leon. Jika kamu belum siap tidak apa-apa ayah takut kamu akan terkejut setelah mendengarnya".
ayah memang menyayangiku dia takut aku akan terkejut saat mendengar apa yang akan ia katakan pedaku. tapi aku tidak takut walau itu akan berpengaruh kepada masa depanku ataupun hudupku aku akan siap menerimanya.
"Tidak apa-apa ayah aku siap menerima apapun yang ayah katakan" aku tidak ingin membuat ayah kecewa.
"Tapi" sepertiya ayah masih ragu untuk mengatakannya.
"Tidak apa apa sayang katakan saja. Sudah waktunya Leon mengetahuinya aku yakin Leon pasti sudah siap menerimanya" bahkan ibu juga bersikap seperti itu aku jadi penasaran sebenarnya apa yang ingin ayah sampaikan padaku.
"Sebenarnya ayah" kenapa nada bicara ayah menjadi ragu-ragu seperti ini aku jadi tambah penasaran karenanya.
Ayah memasang ekspresi serius saat ini entah kenapa suasana tegang diruangan saat ini semakin kuat. Aku terdiam sesaat dan mendengarkan dengan seksama.
Ayahku mulai mengucapkan kalimatnya dengan ekspresi seriusnya"Ayah ingin meminjam beberapa pakaanmu" dia mengucapkannya dengan suara pelan.
sesaat Tiba-tiba suasana diruangan ini sangat hening seketika. bahkan suasana tegang tadi hilang seketika.
"Bisa ayah ulangi sekali lagi" aku beranggapan mungkin aku yang salah dengar atau mungkin pendengaranku sedang terganggu jadi aku meminta ayah mengatakannya sekali lagi.karena aku takut karena pendengaranku yang salah mendengarnya dan menganggap ayahku menghancurkan suasana yang sangat serius tadi dengan beberapa kalimat darinya.
"Kan sudah ayah katakan. AYAH INGIN MEMINJAM BEBERAPA PAKAIANMU" dia mengatakannya dengan sangat keras
__ADS_1
Setelah mendengarnya aku tersenyum lega (Syukurlah sepertinya kupingku tidak bermasalah dan masih berfungsi dengan baik).
"TUNGGU APAAA" aku terkejut bisa-bisanya dia benar-benar menghancurkan suasana yang sangat serius tadi hanya dengan mengucapkan beberapa kata.
"Hmm~ biar ayah jelaskan". Dia mengatakannya dengan mata tertutup dan sambil mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Saat ayah ayah masih diluar negeri. Ayah sebenarnya telah menyiapkan semuakeperluan yang harus dibawa. Tentu saja surat, tiket, dan dokumen penting sudah ayah pisahkan" aku tau itu memang kebiasaan ayah saat berpergian.
"Saat sedang merapihkan barang ayah. Ayah sadar bahwa ayah akan terlambat sampai bandara jika tida berangkat sekarang"sepertinya aku tau cerita ini akan mengarah kemana.
"Jadi ayah terburu-buru pergi ke bandar untung ayah tepat waktu saat itu".
"Iya terus"
"Tanpa ayah sadari barang-barang yang telah ayah siapkan ternyata ketinggalan untung saja saat itu ayah membawa tike, surat, dan dokumen yang diperlukan".
Aku sudah menduganya akan jadi seperti ini "STOP!!. Aku mengerti intinya ayah tidak membawa baju ganti dan ingin meminjam beberapa bajuku. Begitukan?".
"Kalo itu biar ibu yang menjelaskan". Kenapa malah ibu yang menjelaskan dan juga kenapa firasatku menjadi tidak enak ya.
"Sebenarnya ibu sudah berhenti bekerja dan mulai sekarang ibu akan tinggal dengan anak-anak ibu yang tercinta". Apa ibu akan tinggal dengan kami. Bukannya itu berita bagus tapi kenapa firasatku masih tidak enak.
"Asik ibu akan tinggal dengan kita" Melihat Tina senang aku jadi ikut senang. Aku jadi melupakan firasat burukku tadi. Biarlah mungkin itu hanya perasaanku saja.
"Dan Leon sebenarnya masih ada hal yang belum ayah sampaikan padamu" apa masih ada lagi?. Biarlah palingan hanya hal-hal yang tidak penting lainya. Saat ini suasana hatiku sedang cerah aku tidak ingin merusak momen bahagia ini.
"Ya ini tidak terlalu pentingsih. Cuma kamu akan bertunangan dengan anak temannya ayah itu aja kok" aku tidak memperhatikan perkataan ayah tadi karena suasana hatiku yang sedang gembira ini.
"Oh cuma tinangan. Oke" aku benar-benar tidak memperhatikannya.
"baik Leon kita sepakat" di mangatakanya sambil melihatku dengan senyum lebar di wajahnya.
__ADS_1
( tunggu dulu ayah tadi bilang tunangan!) firasatku tidak enak sekarang sepertinya aku melupakan sesuatu yang penting.
Aku langsung memastikannya apakah aku salah "Tunangan?".
"Iya tunangan" setelah mendengarnya mukaku langsung pucar dan mulai mengeluarkan keringat dingin.
"EHHHH!!~".
"kenapa ayah tidak mengatakanya padaku dari awal" dia pasti sengaja membuatku lengah sebentar ayah pasti sudah merencanakan ini semua dan ayah menganggap hal ini tidak penting agar aku terjebak olehnya.
"Leon sebagai lelaki kita tidak boleh menari apa yang telah kita ucapkan" disaat seperti ini dia malah berkata seperti itu sambil tersenyum lebar. aku sepertinya benar-benar telah di jebak oleh ayahku sendiri.
kenapa aku bisa lupa sifat ayah sebenarnya. aku harusnya tau dia lebih mengerikan dari kakakku.
(KENAPA AKU BISA MELUPAKAN HAL SEPERTI ITU) aku berteriak dalam hati karena hal yang harusnya bisa kuhindari tetapi aku dengan mudahnya terperangkap dalam jebakannya.
"baiklah ayah kau menang tapi lain kali aku tidak akan terjebak dengan jebakanmu lagi" jika aku terjebak lagi mungkin sesuatu yang lebih buruk dari ini akan terjadi padaku.
"ho~ ho~ Leon kamu tidak akan bisa keluar dari perangkap dan tipumusliha ayahmu ini karena ayahmu ini adalah ahlinya" aku tau itu bahwa terlepas dari perangkap ayah tidak lah mudah tapi.
"hal itu akan ku lakukan dengan mudah karena aku belajar dari ahlinya". akan ku balas perbuatanya nanti.
aku dan ayahku karena ada rasa tidak mau mengalah kami saling menatap tajam kearah masing-masing saat kami saling menatap semakin tajam bahkan seperti ada kilatan listrik dari mata kami dan saling bertabrakan satu sama lain.
"baik lah jadi siapa yang akan menjadi tulanganku" aku menanyakannya aja aku tau siapa wanita yang akan menjadi tunanganku.
"ayah sudah menduga bahwa kamu akan mengatakan itu tenang di adalah wanita yang cantik kok kalo nggak salah namanya adalah Linda".
"oh ternyata Linda yang akan memjadi tunanganku"
(tunggu Linda!!).
__ADS_1
"APAAA!!~".