
" lepaskan kedua temanku " Vemo dan Bima berteriak dengan makhluk aneh itu.
Tapi sayangnya makhluk itu dari awal tak dapat berkomunikasi dengan Bima dan Vemo.
" Bangun... Hanzo atau teman anak yang menampungmu ini akan hancur dan terkurung dalam tempat kegelapan ini " menatap Abdi yang masih tak sadarkan diri.
Sesaat setelah itu muncullah cahaya dari tangan makhluk yang menggengam leher Faisal sedangkan Faisal sudah tak berontak lagi , Faisal sangat lemas karena kekurangan oksigen.
Tiba-tiba tangan Abdi mencapai leher makhluk itu dia genggang dengan kuat sedangkan kepalanya masih tertunduk ke bawah.
" kau benar-benar sangat bosan hidup, apa kau ingin mati kedua kalinya " suaranya sangat berbeda dengan suara Abdi, yang kami dengar lebih berat dan menggema hingga siapapun yang mendengarnya seakan bulu kuduk tegak semua dan aurah hitam pekat keluar dari tubuhnya.
Setelah terasa ada yang mencekek mahluk itu, dia melepaskan tangan yang menggengam leher Faisal hinggal Faisal jatuh dengan keras.
" Faisal kau tak papa " kami menghampiri Faisal dan memeriksanya .
" uhhhhukkkk... Uuuuuhhhhuuuukkk.. . " dia batuk-batuk. Aku tau pasti dia kekurangan oksigen.
" Iya gue gak papa " Faisal menarik nafas dalam.
Kami melihat pertempuran Abdi dengan Makhluk itu.
" Akhir...nya.. Kau ke... Luar juga " suara makhluk itu terbata-bata akibat cengkraman kuat dari tangan Abdi yang tak habis pikir tangan kecil itu bisa melakukan dengan makhluk besar itu.
Abdi menegakan kepalanya, dia tidak lagi menunduk dan terlihat mata Abdi hitam pekat membuat kami takut.
Tangan Abdi satu lagi yang bebas mencekram tangan makhluk itu lalu melepaskannya dari lehernya Abdi, dalam sekejam Abdi melayang diudara setelah tangan itu sukses lepas dari leher Abdi.
" Faisal.... Abdi, apa yang terjadi dengan dia? " Vemo semakin khawatir.
" aku juga gak tau Vem.. Seperti apapun Abdi,, dia telah menolong kita " menatap Vemo dan Bima.
" hahaha.... Makhluk rendahan sepertimu berani sekali menantangku " Tangan Abdi yang bebas mengeluarkan cahaya Hijau mudah pekat lalu diarahkan ke makhluk itu.
Makhluk itu menghilang, namun Abdi masih melayang-layang. Karena peristiwa itu juga kami sangat takut dengan Abdi yang sebenarnya lebih mengerikan dari makhluk tadi.
Abdi mendekati Vemo dan Bima sesaat itu mereka tak sadarkan diri.
" kau apakan kedua temanku " tatapan tajam Faisal mengarah ke Abdi seperti tidak takut dengan Abdi yang sedang berubah mengerikan.
" Mereka hanya tertidur " suara gema dan berat.
" Keluar dari tubuh Abdi, jangan ganggu dia " Faisal coba berkomunikasih dengan Abdi yang seperti kerasukan.
" kenapa aku harus keluar dengan ragaku dan rohku ini " dalam sekejam sudah ada dihadapan Faisal.
" kau melihatnya saja manusia biasa, aku adalah dia dan dia adalah aku. Kami satu "
__ADS_1
Abdi langsung mendekat dan berbisik ditelinga Faisal.
Faisal mematung saat dia mendengar Abdi berbisik.
" jangan perna memancingku keluar lagi, aku tak mau menyakiti badanku. Mereka berdua tidak akan ingat denganku yang sebenarnya. Jika kau, aku tak bisa menghapusnya karena kau ditakdirkan dapat melihat, berbicara, dan mengingat ini semua "
Abdi pingsan di pundaknya Faisal.
" Abdi... Akhirnya kau kembali "
Kami kembali ke dunia nyata dengan sikap duduk dengan memegang boneka.
" emmmhhh.. " sadar Bima dan Vemo, Faisal sudah sadar terlebih dahulu.
" Kalian gak papa Vemo, Bima "
" kami baik-baik saja " seru kami berdua dan diikuti Abdi yang mulai sadar.
" Abdi.... " seru kami bertiga dengan serentak .
" gue baik-baik ajah ".
" Ayo kita hentikan saja " dengab wajah pucat Bima.
" Tidak bisa Bim, permainan ini harus diselesaikan dulu. Semua kita harus mengajuhkan pertanyaan kita " Boneka itu mulai bergerak.
" aku yang akan bertanya. Aku ingin tau Bagaimana bisa ada penungguh asrama ini " Astaga inilah selama ini yang ingin Vemo tahu.
" baiklah " bonekah jalangkung itu bergerak dan menulis BAIKLAH .
Sesaat kami berada di lingkungan yang kami kenal iya asrama kami namun anehnya ini bukan asrama cowok tapi asrama cewek.
" apa ini " Bima bingung
" Ini asrama kita sebelum asrama ini jadi asrama cowok " Vemo menatap Bima.
" Kau udah tau ceritanya Vem " aku ingat dia selalu memancingku ingin menceritakan penunggu asrama ini.
" Aku hanya tau ada cewek yang bunuh diri, mayatnya tak ditemukan dan yang tau hal itu bunuh diri dari buku diary cewek itu. Tapi tak lama ditemukannya diary itu ada 2 cewek tak lain teman mereka mati mengenaskan di asrama ini "
" benarkah ada cerita seperti itu " Bima nampak tak percaya.
" Kan aku mengatakan itu yang aku tau, aku tak tau kalau itu benar atau tidak. Makanya aku ingin tau " Kembali menatap kami, namun aku melihat matanya seakan tidak semuanya diceritakan bukannya mau sok tau seseorang tapi kalian pasti pernah dengarkan perumpamaan.
Mata adalah jendela hati
Atau mungkin juga ini hanya firasat tak berdasarku.
__ADS_1
" Lebih baik kita selesaikan teka-teki ini atau kita tak bisa kembali dan terkurung disini "
Keadaan disini nampak aneh bagaimana tidak kami bisa melihat mereka tapi mereka tak bisa melihat kami. Kami seperti roh yang kasat mata.
Ditempat seperti gudang yang tak jauh dari Asrama kami.
" Anjas... Coba pikirkan, kita bisa dapat nilai bagus dan uang kalau kau mau jalan dengan pak Tomi "
" Aku tidak mau Zara, pak Tomi orang yang benar-benar mesum, aku yakin dia ada niat jahat padaku " menghadap Vicia Zara dan Feriska Gea.
" Ayolah Anjas, tidak ada yang bisa menyelamatkan nilai matematika kita, ini demi masa depan kita, kalau pak Tomi sukanya denganku biar aku tapi ini kan dia menyukaimu " Gea mendorong tubuh Anjas hingga jatuh.
Kami sangat geram melihat hal yang tak adil ini.
" Tapi kita kan bisa cari jalan lain, kita bisa lebih rajin belajar kita masih ada kesempatan ".
" Jangan munafik lo " Zara menunjuk muka Anjas dengan jari telunjuk dan nada suara tinggi.
Zara dan Gea meninggalkan Anjas yang masih tersungkur di tanah.
.
.
" Kita gak bisa berbuat apa-apa " seruku yang memang sangat geram pada tindakan kasar itu.
" gak bisa, karena permintaan Vemo hanya ingin tau tentang kisah ini dan jika kita mengubahnya masa depan juga akan berubah Abdi " Faisal menjelaskan dengan pandangannya masih pekat memandang Anjas.
.
.
Anjas kembali ke asrama dengan hati yang gunda.
Zara dan Gea seakan menjauhinya secara natural namun membuat orang-orang bertanya juga karena mereka dikenal sangat dekat satu sama lain.
" Ada apa sama kalian bertiga Anjas, aku melihat hubungan kalian semakin renggang " teman satu kelas yang cukup baik.
" hanya kesalah pahaman biasa saja " dengan senyum palsunya agar semuanya tak jadi pembicaraan.
" iya kamu jelasi, minta maaf duluan itu gak kalah kok " nasehat yang baik namun berbeda dengan masalah ini itulah yang ada dipikiran Anjas.
.
.
Di jalan menujuh Asrama
__ADS_1
" kau akan terus seperti itu Anjas " seru Gea yang menghentikan perjalananku.