
" justru aku bertanya pada kalian, tidakkah ada jalan keluar dari pada itu "
" gak ada, Anjas. Kau juga tau kami melakukan ini karena keadaanku, nenekku sekarat aku gak mau membuat tambah masalah pada orang tuaku " seru Zara dan aku memang telah tau kalau nenek Zara sudah 1 minggu koma itulah yang membuat dia menghabis waktu untuk menjaga neneknya.
" kau juga tau kan, aku anak pertama dan masih ada 3 adikku lagi sedangkan yang bekerja hanyalah ibuku. Tolong...... " aku juga tau orang tua Gea sudah lama bercerai ditinggal pergi kawin lari dengan perempuan lain.
Kami sangat dekat hingga cerita satu sama lain itu bukan masalah.
" biarkan aku berpikir " aku pergi melewati Zara dan Gea.
.
.
Malam hari yang sunyi walau sangat banyak orang disini namun semua dalam keadaan tertidur.
Aku benamkan kepalaku dalam bantal perlahan air mataku menetes begitu deras membuat pulau dalam sarung bantalku.
Namun rasanya sangat sesak seakan aku tak bisa bernafas, semua ini butuh diungkapkan namun aku tak tau dengan siapa.
Akhirnya aku tulis di buku diaryku.
Dear diary
Malam ini biarkan kesunyian dan gelapnya malam menjadi saksi ketidak berdayaanku.
Namun aku juga tak bisa egois dengan pilihanku ini aku bisa menyelamatkan mereka yang aku sayangi.
Hati seperti terhempit duri yang tajam, seakan sulit keluar dari belenggu masalah ini.
.
.
Keselembar selanjutnya.
Aku tercekik...
Sesak....
Aku ingin menghilang...
Aku ingin mati....
.
.
Selembar selanjutnya
Namun kalian alasanku untuk berjuang, aku ingin lulus dengan kalian temanku Zara.... Gea ...
Aku akan coba sebisaku, semoga tak terjadi apapun. Jujur aku takut sekali.
Adikku Vemo Bramanstio hanya kau yang membuat aku takut untuk menghilang dan melakukan hal ini lebih jauh, ibu dan ayah menitipkan kau bersamaku namun aku sudah lama menelantarkanmu dengan menitipmu dengan paman pasti berat untukmu.
Tunggu kakak, setelah lulus kakak akan cari kerja dan kita akan tinggal bersama, tunggu ya sebentar lagi.
__ADS_1
.
.
Kami tercengang membaca diary itu pasalnya nama lengkap Vemo tercantum disitu. Dengab serentak aku, Faisal dan Bima menatap Vemo berharap dia akan menjelaskan apa ini semua.
" Baiklah, dia memang kakakku yang banyak mengatakan dia kabur dari asrama dan ada juga yang mengatakan kalau dia bunuh diri dan juga ada yang mengatakan kalau dia dibunuh, aku gak tau jelasnya "
Tatapan Vemo sangat senduh hingga kami bisa merasakan.
" Kenapa kau tak mencarinya? " sahut Bima yang memang orangnya seenaknya.
" aku masih berumur 7 tahun, pamanku mencoba mencarinya namun itu semua tak ada hubungannya dengan sekolah ataupun asrama jadi mereka tidak tanggung jawab akan kehilangan kakakku, namun tak lama setelah paman mencoba mencari semampu pamanku ada dua siswa meninggal dengan misterius di asrama karena itu asrama ditutup permanen "
" Ini bukan salah Vemo, aku tau Vemo sangat tertekan saat mengetahui kakaknya menghilang " bela Faisal
" Hanya kakak dan pamanku yang aku percayai , dialah keluarga kandungku satu-satunya namun dia menghilang serasa hilangnya tempat aman dimuka bumi ini, tak ada rumah tempatmu berpulang dan tak ada orang yang menunggumu " matanya Vemo semakin berkaca-kaca melihat sosok Anjas yang sedang tertidur.
Aku menepuk pundaknya dan tersenyum kecil mencoba menyemangatinya " kau sudah dewasa kawan, kau dapat tumbuh dengan baik sampai saat ini . Kita akan temukan kakakmu "
Faisal ikut tersenyum penanda kalau dia setujuh.
" ayolah, kita harus selesaikan ini " sahut Bima menyusul.
.
.
.
Disekolah
" Ayo lakukan, tapi kalian harus janji jangan tinggalkan aku sendiri " kami bertiga berbicara disamping toilet perempuan.
" iyalah kita kan teman, jangan khawatir kami janjikan Zara " Gea bersaliman denganku dan juga Zara itu tanda setempel akan janji itu.
.
.
" kita harus persiapkan dirimu, kau kan akan kencan " semangat Zara yang memang ahli dalam hal ini iya dia sudah ada kekasih beda dengan kami berdua.
.
.
Malam itu setelah absen kami bertiga berniat kabur dari asrama semuanya telah terpikirkan dengan matang, kami pergi keluar sebelum gerbang ditutup tanpa pengetahuan pak satpam.
" Akhirnya bisa kabur juga, pak Tomi tunggu di cafe rasi bintang, kami gak akan jauh dari tempat itu, tenang ajah " tangan kedua temanku itu tergandeng dileherku.
Di cafe rasi bintang
Aku perlahan berjalan mendekati tempat duduk telah ada penghuninya iya tak lain pak Tomi.
Laki-laki ya cukup tampan namun dia sudah sangat dewasa terlihat badan tegapnya, muka dewasa datar dan lagi umurnya sudah 29 tahun.
" Permisi pak " senyum kecilku menyapanya agar tak terlalu canggung, tepat berada disampingnya yang sedang duduk.
__ADS_1
" Silakan duduk, aku sudah menunggu lama " matanya menataku dengan keseluruan membuat aku tak nyaman dan langsung duduk.
" ini " dia memberikan aku setumpuk bunga lily putih, cantik sekali namun harumnya tawar.
" terimakasih pak " dia menatapku tajam
Perlahan tangannya yang dimeja menggenggam tanganku.
" jangan panggil aku bapak, saat ini kita sedang kencan " menatapku lembut tapi ini mala membuat aku sangat frustasi.
.
.
" tapi aku bingung harus panggil apa pak, aku terbiasa panggil bapak disekolah " pembelaanku karena panggilan bapak pada laki-laki ini memang cocok.
" panggil mas ajah terdengar merdu bila kau memanggil itu Anjas " tatapannya sangat pekat aku benar-benar tak nyaman langsung ku arahkan mataku ke daftar menu.
Aku merasa heran apa yang pak Tomi suka dariku. Tubuhku kecil sedikit berisi, pendek, rambut panjang coklat gelap, mata hitam biasa dan keluarga miskin jadi apa yang menjanjikan dariku.
.
.
Setelah selesai makan
" ayo ikut aku " dia mengiringku disampingku mengarah ke mobilnya, karena ini seperti perjanjian aku mengikutinya dan tak membantah sedikitpun.
Saat sudah ada di mobil dan akan berangkat.
" mas Tomi ini mau kemana " tanyaku yang sangat ragu akan bertanya atau tidak.
" ke inti acara malam ini sayang " dia tersenyum sedikit lebar dari sebelum-sebelumnya dan terus menancap pedal gas.
" inti... " aku bingung bukannya ini adalah intinya hingga kami sampai di perumahan sangat mewah ini.
" ayo turun " Laki-laki itu sudah turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil.
Aku terdiam sejanak, iya aku berpikir dan mulai memahami situasi apa ini.
" kenapa kau bawah aku ketempat mewah ini, apa yang akan kau lakukan padaku " seru ku yang sudah penuh kemarahan.
" aku berkata panggil aku mas " dengan penuh penekanan.
Dia mendekatiku lalu langsung membopongku ke pundaknya hingga aku ada dibelakangnya pas di punggunya, aku terkejut dengan perlakuannya aku semakin meronta - rontah tanda perlawananku.
kini kami sampai disebuah ruangan yang sepi dan aneh karena nuansa ruangan curam dengan cahaya remang-remang, terlihat benda-benda aneh itu samar.
Datanglah pak Tomi masuk dan langsung mengambil seperti cambuk.
Astaga apa ini, aku rasa ada yang lain dengan pak Tomi.
clutt....
clutt...
dua cambukan berhasil mendarat di paha dan punggunku yang masih terbalut gaun indah.
__ADS_1