
Rasa takut meremasku hingga ke ujung sarafku.
Harapanku dan kenangan hilang sirna ke dalam jurang keputus asaan.
Maafkan aku hanya segini aku bisa berjuang mempertahankan prinsipku.
Air mataku lagi-lagi menetes dengan deras menghadapi takdir yang merenggut kebahagiaan yang aku rasakan.
" Apa-apaan ini pak Tomi, lepaskan aku " di kasur yang besar lebar ini perlahan menjauhkan diri dari dia yang melangkah semakin dekat memegang cambuk dan tersenyum licik.
" aku sangat menyukai tatapanmu, mukamu yang basah itu serta nada panggilanmu yang bergetar " dengan melotkan mata dan langkahnya semakin dekat.
Aku merahi apapun yang ada didekatku lalu meleparkannya.
" bkuuuu..... "
" bkuuuuu.... "
Suara bantal yang satu persatu kulemparkan padanya namun sayang bantal itu dengan mudah ditangkisnya.
" Pak Tomi kenapa kau melakukan ini padaku " Nada suaraku semakin bergetar saat dia merahi tanganku dan menariknya hingga aku langsung ada didepannya.
" aku akan menjawabnya kalau kau panggil aku mas " dengan nada dominan dan penekanan, tangannya membelai pipiku lembut dengan jari telunjuknya.
" Ma..s kena...pa mas mela..ku.. Kan ini " aku mengulang pertanyaan dengan terbata-batah karena aku sangat takut, yang ada dihadapanku ini bukanlah manusia tapi iblis.
" suaramu sangat merdu sayang, baiklah aku akan jawab " dia bangkit dari hadapanku lalu duduk di kursi yang tak jauh dari ranjang ini.
" jawabannya karena kau. Aku menyukaimu saat pertama kali melihatmu, semenjak aku bertemu padamu saat itu kau jadi fantasi gilaku sayang " seluruh tubuhku bergetar mendengar kalimat akhir yang dia ucapkan begitu menakutkan melebihi cambukan yang dia berikan.
" kau ingin tau apa fantasiku padamu " dia menatap cambuknya yang dia putar-putar pada salah satu tangannya, senyum piciknya terukir jelas dari sini di sinari cahaya remang-remang membuat semakin nyata dalam otakku aku tak akan tertolong.
Aku menelan ludahku dengan sulit, tanganku menggengam seprai disana dengan kuat , merasa geram ingin keluar dari sini namun sama sekali tak dapat aku lakukan.
" Dari remaja aku di diagnosa mempunyai kelainan mental menyukai gadis kecil lebih mudah dari ku apalagi bertubuh kecil sepertimu " melirikku tajam lalu menatap langit-langit ruangan ini.
" Aku bukanlah guru matematika " dengan pelan dan cepat namun itu yang membuat aku semakin bertanya lalu dia itu siapa? Kenapa dia ada disekolah menjadi guru.
Dia menyilangkan kakinya dan duduk lebih santai " aku tau kau pasti bertanya, kalau aku bukan guru kenapa jadi guru iya kan " dia tersenyum lebar menatapku dengan tatapan piciknya.
__ADS_1
" Aku Tomi Bayangkara, direktur perusahan Walpana bagian distribusi perencanaan pembangunan. Awalnya aku ke sekolahanmu ini meninjauh wilayah tanah kalian namun aku terpesona denganmu pada saat pertama bertemu, kau ingat saat di gerbang sekolah itu mata indahmu melihatku sekilas "
Aku coba mengingatnya.
Ingatan itu.
Pagi itu aku berangkat ke sekolah dengan Zara dan Gea.
Di gerbang terlihat sosok gagah berjas memakain sepatu ala kantoran memasuki sekolah namun sepasang mata itu menatapku dengan pekat namun aku sama sekali tak kenal aku hanya mengalihkan pandanganku melewatinya masuk ke lingkungan sekolah lebih dalam.
" aku ingat.
Pak Tomi orang yang memakai jas itu kan " menatapnya dengan sendu, karena tenagahku habis.
" brapo.... Ternyata kau ingat sayang " senyum senangnya terlihat jelas dimataku yang mulai kehilangan kesadaran.
Penglihatanku berbayang, tubuhku seakan lemas sekali. Aku sudah lama menangis mungkin aku dehidrasi.
" heyy... Kita belum main ke intinya kau sudah lemas " dia menyodorkan aku sebotol air mineral. Aku langsung meminumnya dalam benakku aku harus bisa keluar dari sini hidup-hidup.
Tanpa ku sadari dia sudah ada disampingku. Dia membisikkan " aku lebih suka mangsaku juga menikmati permainanku " dia mencium pipiku.
Aku langsung mendorongnya dengan kuat hingga dia menjauh beberapa langkah dariku dan itulah kesempatanku untuk melemparkan botol air minum yang masih tersisa lebih dari setengah pas mengenai pelipisnya.
" Krekkkkk... "
" krrrreeekkk..... "
Bunyi pintu yang terus coba aku buka.
" *******, wanita ******... "
Tangan yang kokoh itu menarik diriku kuat dan melemparkan tubuhku kebelakang tanpa tau tepat dibelakangnya ada meja.
Kepala bagian sampingku kena bagian ujung meja yang membuat aku terluka dan mengeluarkan darah serta jatuh terbaring lemas di lantai.
" Dasar wanita murahan, kau mencoba bermain-main padaku " aku tak tau apa yang di ambilnya tetapi sekarang dia sudah ada di atas tubuhku dan membenturkan benda itu tak lama kepalaku bagian pelipis atas alis sangat sakit dan ada tetesan darah yang jatuh dibulu mataku membuat penglihatanku terhalang.
Rasanya sangat sakit tenagaku seakan hilang, aku sunggu tak mampu bertahan.
__ADS_1
Ku rahi apapun yang ada didekat tanganku tapi sayangnya tak ada hanya terasa basah dan becek saat aku sekikas lihat itu darahku sendiri yang sudah banyak keluar dan membuat genangan kecil dilantai.
" Ve...mo " hanya itu yang ku ucap lirih, karena dia lah satu-satunya tanggung jawabku di dunia ini. Hingga aku gak sanggup lagi menahan kesadaranku.
Vemo
" Sial... Kakak.. " aku mencoba merahi laki-laki biadap itu namun sayang yang aku hantam hanyalah angin karena aku tidak bisa menyentuh mereka, yang hanya aku bisa lakukan sekarang menonton penderitaan kakakku dan menangis sejadi-jadinya.
" sabar Vem, jika begitu menyakitkan seharusnya lebih baik kita tidak tau " Faisal menatapku dengab pekat.
" Gak Faisal, aku bersyukur bisa tau semuanya. Aku bisa tau kalau kakakku sangatlah sayang padaku " tangisku sedikit redah.
.
.
" ahh.... Sial banget aku kelewatan terlalu emosi hingga dia mati gini " merasa bingung.
Dia mengangkat tubuh Anjas ke atas kasur lalu digulunglah selimut menyerupai kepompong menutupi tubuh seluruhnya.
Dia menggendong tubuh Anjas yang menyerupai kepompong itu dimasukkan ke dalam mobil.
Di bawahnya mobil ke tempat tanah lapang yang kosong tak jauh dari tempat megah tadi.
Dia keluar dan mengambil cangkuk yang seperti sekop besar, mulai mencangkul.
" apakah dia akan mengubur kakakku Abdi " Vemo memandangku dengan tatapan tak percaya.
" sepertinya Vem " yang berharap itu tak akan terjadi namun hanya harapan kelabu.
" Tapi kakakku masih hidup " tangis dari Vemo semakin kencang dan kami hanya bisa menjadi penonton.
Dia menggendong Anjas dan memasukkan nya langsung berbentuk kepompong kedalam lubung yang sudah siap lalu menutupnya kembali dengan tanah.
Sangat keji, padahal Anjas hanya lemas kehilangan banyak darah namun dia langsung menguburnya hidup-hidup.
Zara. Gea
" Kenapa pak Tomi membawah Anjas ke tempat semewah ini " seru Gea yang sudah mengikuti Anjas sampai ke apartemen mewah ini.
__ADS_1
" aku tak tau Gea, bagaimana ini, apa kita masuk untuk tau itu " kami saling memandang.
" mana mungkin lihat penjagaannya, sangat ketat " memandang apartemen mewah itu.