Hanzo Bayangan

Hanzo Bayangan
Waktu Berjalan Di Tempat


__ADS_3

Kami berpikir telah menyelesaikan misi namun kami tak kunjung kembali ke dunia nyata.


Ada kejadian aneh, peristiwa yang di alami Anjas terulang kembali.


" Faisal ada apa ini, kenapa itu terjadi "


Melihat kilasan itu terulang kembali.


" Kak Anjas terjebak pada waktu yang sama " menatap dengan sendu.


" Maksudnya " seru Vemo yang terdengar bergetar


" Waktu kematian kak Anjas seakan berjalan di tempat, jadi dia akan terus mengulangi kejadian pahit itu " jawab Faisal yang ragu - ragu.


" Apa penyebab ini terjadi "


" Aku juga kurang tau Abdi, Vemo, Bim aku cuma seorang Indigo bukan paranormal yang semua tau tentang dunia luar ini "


" Bagaimana untuk menghentikannya " aku melihat Vemo sangat gelisah


" Hanya satu,  kita harus kembali ke dunia nyata, menemukan makam kak Anjas dan menguburkannya dengan layak " menatap Vemo dengan serius


" Ayo kita selesaikan ini "


" Tapi kita gak tau apa yang di inginkan oleh keadaan ini, soalnya kita belum kembali - kembali " seru Bima iya memang masuk akal.


" Lebih baik kita ikuti kak Anjas karena dia adalah kunci kita kembali " kami mengikuti intruksi yang diberikan Faisal.


Setelah kejadian itu terulang dia menyusuri asrama kami dan duduk tepat di ranjang Zara tapi kak Anjas hanya menatapnya hingga hari esok datang.


.


.


Di sekolah


" Gea... Aku sudah tidak tahan lagi,  dadaku sakit aku tersiksa dengan rasa bersalah ini " suara Zara menggelegar  memenuhi jalan di samping gudang.


" Pelankan suaramu Zara, apa kau mau memberitahu seluruh murid disini.  Aku juga tersiksa Zara dia itu sahabatku sepicik apapun aku. Aku ingin dia baik - baik saja "


" Kalau begitu, ayo temui pak Tomi, kita tanya dimana Anjas " air mata mereka berdua mengalir


" Baiklah,  ayo kita temukan Anjas " mereka saling berpelukan.


.


.


Alampun ikut membantu kini tinggal kita yang akan menemukannya

__ADS_1


Siang itu kami berniat mau pergi ke tempat dimana Anjas dibawah tapi siang itu sebelum  kegiatan sekolah berakhir Pak Tomi datang ke sekolah.


" Pak Tomi...  " Di depan kantor dengan mata menajam suara membulat sudah tepat di hadapan pak Tomi.


" Gea...  Zara.... " sekilas terlihat raut wajahnya takut.


" Jangan berbicara disini " menarik tangan mereka


Sudah ada di parkiran dekat dengan toilet guru.


" Di mana Anjas, setelah hari itu dia tidak pernah pulang ke asrama " Sahut Gea yang memang mempunyai senti mental yang keras.


" Bapak gak tau, sesudah dia dari rumah bapak dia pergi pulang sendiri " dengan nada suara yang tenang.


" Gak mungkin,  maksud bapak Anjas kabur dan memang tidak mau sekolah " Zara menggeleng - geleng pertanda dia tidak setuju dengan pernyataan pak Tomi yang ambigu.


" Tapi tenang saja, kalian bedua akan tetap mendapat nilai matematika sempurna " tersenyum dan kami hanya membalas dengan tatapan tak berdaya.


" Ambil tugas kalian terakhir aku langsung mengurusnya soalnya aku tidak akan bekerja lagi disini.  Jadi cepatlah "


Semua murid masih sibuk di sekolahan aku perlahan jalan ke arah Asrama untuk mengambil tugas ujian.


Asrama yang sangat sepi tanpa satu penghunipun membuat kami sekilas mengingat kebersamaan kami dengan Anjas.


" Gea haruskah kita seperti tidak terjadi apa - apa " terus berjalan ke dalam kamar Asrama


" Bukankah ini yang kita inginkan " dewan wajah datar


" Tapi kalian terlambat " suara berat seperti suara moster membuat kami ketakutan tak menentu apalagi kami melihat siapa itu pemilik


" Kenapa kau disini Pak Tomi,  ini asrama puteri " pak tomi menghantam punggung Gea setelah dia mengatakan itu dengan balok yang dia bawah sesaat Gea langsung pingsan tersungkur di lantai.


" Aku bisa teriak pak, jangan mendekat " Zara melangkah mundur hingga di terpojokkan di tembok jalan buntuh dengan cepat pak Tomi mendekapku lalu melingkarkan kain berbentuk panjang dan mencekekku dengan benda itu.


Aku menghalangi kain itu menjerat leherku dengan tanganku tapi pak Tomi semakin kencang mengencangkan ikatan itu sekuat tenagahnya. Aku hanya bisa merontah - rontah dengan menendang barang - barang yang ada di dekat kakiku dan menggerakan tubuhku tak menentuh tapi itu semua hanya sementara karena tenagaku sudah habis beserta nafasku.


Di saat hembusan terakhir nafasku yang ada dipikiranku hanya penyesalan telah menuntun Anjas ke dalam dekapan moster.


Ini adalah tetesan air mataku yang terakhir kalinya.


.


.


Sore pukul tiga anak - anak mulai pulang ke asrama


" Aaaaa.......  "


" Ahhhh.....  Mayat.....  "

__ADS_1


Mereka melihat Gea dan Zara tergantung di gagang penyangga atam dengan keadaan yang sangat mengenaskan.


Mata Gea mendelik dengan lidah yang menjulur. Keadaan hampir persis tapi lidah Zara tak  menjulur.


Karena itu Asrama puteri ini di tutup dan peristiwa ini di selidiki tapi hasilnya masih nihil hingga di anggap ini peristiwa bunuh diri.


Karena itulah Anjas tetaplah dikenal dengan orang hilang dan ada juga yang berkata dia bunuh diri di suatu tempat.


" Kenapa sangat kejam, kebenaran terkubur rapat "


" Tidak Abdi, Alam dan sang pencipta akan menunjukan jalan untuk mencari kebenarannya " sahut Faisal yang masih tidak ku mengerti maksudnya.


" Faisal benar, cepat atau lambat yang pantas di hukum akan tetap dihukum " Vemo menambahkan tapi ini semakin membuat aku tak mengerti


" Aku mohon jangan pakai kata kiasan, agar aku cepat mengertinya " sahut Bima yang ingin aku ucapakan sudah terucap oleh dia.


" Tomi guru sialan itu sudah ditangkap dengan tuduhan pemerkosaan serta percobaan pembunuhan dengan dua orang gadis.   Dia di fonis 25 tahun penjara tapi hukumannya jauh lebih berat karena dia dinyatakan gila jadi dia di tahan di RS Jiwa warta " sepertinya Vemo memperhatikan perkembangan pencarian kakaknya.


" Apakah dia masih hidup "


" Iya dia masih hidup,  itu hukumannya menderita hidup kematian tidak menerimanya " terlihat sekali aura tatapan amarahnya Vemo.


Tapi waktu kak Anjas tetap berjalan di tempat peristiwa menakutkan itu berulang lagi hingga dia duduk di  ranjang Zara hingga pagi akan tiba.


Kamipun mengikutinya sesaat dia berhenti diikuti kami berhenti tepat di belakangnya.


" Kenapa kalian mengikutiku " suaranya menggema pelan membuat suasana tambah horor


" Kak Anjas bisa melihat kami "  Faisal mulai berkomunikasi karena hanya dia yang bisa.


" Kami disini ingin tau kak Anjas selama ini ada dimana. Aku temannya Vemo adikmu kak "


" Tidak mungkin, adikku masih kecil "


" Iya kami datang dari masah depan dan kami hanya sementara disini "


" Bolehkah aku titip pesan untuknya "


" Tentu boleh kak "


Kali ini kami tak bisa mendengar suara kak Anjas jadi kami hanya memperhatikan kata - kata Faisal.


Setelah percakapan singkat kak Anjas dan Faisal. Kak Anjas pergi ke tempat dia di kuburkan dan kami juga seakan di sedot tak menentu hingga kami kembali ke dunia nyata dengan posisi semula saat kami memulainya.


" Baiklah ini permainan belum selesai kita harus teruskan "


Jam menunjukan jam 2:30  malam kami seakan lama di dimensi lain tapi nyatanya itu tidak membuang waktu.


.

__ADS_1


.


Masih ada dua perjalanan lagi akankah kami menemukan jawaban akan pertanyaan yang selama ini kami tahan atau yang kami cari.


__ADS_2