
Setelah menemukan rencananya, Bram pun berlalu pergi meninggalkan tempat Misel bekerja. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dimana sudah waktunya Misel untuk pulang. Sebelum pulang Misel menyempatkan diri untuk mampir di supermarket 24 jam. Untuk membeli makanan instan dan cemilan.
Sesampainya dirumah, ibu dan kakak tirinya telah menunggunya. Dengan jahatnya, ibu dan kakak tirinya itu mengambil semua makanan yang dibeli oleh Misel.
"Wah kebetulan Lo bawa makanan.Siniin makanannya gue laper."Ujar Stefani sambil merebut kantong yang berisi makanan
"Tapi kak ini punya Misel. Misel belum makan apapun dari sepulang kuliah sampai sekarang."Keluh Misel
"Tuh dilemari ada makanan kamu ambil aja. Yang itu biarin kasih kakak kamu."Ujar bu Sonia dengan senyum jahatnya. Misel pun menuruti perintah ibunya itu lalu beranjak kedapur mengambil makan yang dilemari. Namun sungguh malang nasib Misel ternyata makanan itu hanya sisaan saja dan sudah anyep. Misel mengelus dadanya berusaha sabar lalu mengambil makanan itu dan membawanya kekamarnya. Sejujurnya Misel tidak mempunyai kamar dia tidur disebuah ruangan beralaskan kasur lantai dekat dapur yang lebih layak disebut gudang itu karena tempatnya selain berdebu, terdapat banyak barang juga disana. Setelah mengganjal perutnya dengan makanan yang sebenernya tidak layak untuk dimakan itu, Misel pun merebahkan diri dikasur lantai kemudian tertidur karena merasa badannya merasa lelah.
Malam telah berganti. Matahari mulai memancarkan sinarnya diufuk timur sana. Hari ini pagi-pagi sekali Tuan Wijaya pergi ke rumah utamanya dimana kedua cucunya berada ditemani sekretaris Ivan. Tidak ada orang di sana dan keadaan di sana sangat berantakan. Dan betapa terkejutnya tuan Wijaya dan sekretaris Ivan ketika melihat lukisan dirinya “dihiasi” serbet.
Mereka lalu masuk ke ruang makan. Terdengar suara aneh tapi tidak ada orang di sana. Tiba-tiba ada benda jatuh dari atas. Mereka lagi-lagi dikejutkan dengan ketua pengurus rumah utama yang ditugaskan untuk mengurus semua keperluan dan kebutuhan dirumah itu tengah diikat ditiang rumah dengan mulut tertutup lakban.
"Apa ada maling tadi malam?"Tanya sekretaris Ivan. Ketua pengurus itu menggelengkan kepalanya lalu sekretaris Ivan membuka penutup mulutnya dan membantu membuka ikatan ditubuhnya ketua pengurus itu.
"Mulai hari ini saya mengundurkan diri tuan."ujar ketua pengurus itu setelah dilepaskan ikatan ditubuhnya
"Kenapa begitu?" Tanya sekretaris Ivan
"Saya sudah lelah melayani tuan muda disini yang kelakuannya seperti iblis tuan."Ujarnya. Tuan Wijaya membulatkan matanya melotot mendengar perkataan ketua pengurus rumahnya itu. Sehingga ketua pengurus itu menunduk takut
“Gapapa...memang sudah keturunannya Iblis,” Ujar tuan Wijaya yang mulai marah. Sebenarnya dia bukan marah karena ketua pengurus rumahnya melainkan Ia marah karena tidak ada kedamaian 1 hari pun dalam rumah itu. Lalu tuan Wijaya menyuruh ketua pengurus itu untuk pergi
Sekretaris Ivan menenangkan Tuan Wijaya agar tidak terlalu jadi pikiran dan khawatir karena pasti sudah bisa menduga ini akan terjadi jika mereka berdua tinggal dalam satu atap bersama mengingat awal pertemuan mereka yang buruk.
"Tenang tuan saya akan mengatasi masalah ini dan akan bicara pada para tuan muda."Ujar sekretaris Ivan
“Mau sampai kapan mereka seperti ini? mereka sudah dua tahun tinggal bersama. Aku tidak bisa lagi membiarkan mereka seperti ini,” keluh tuan Wijaya
"Nanti saya Carikan pengurus rumah baru secepatnya tuan. Bila perlu kita cari orang yang. bisa menyadarkan tuan muda."Ujar sekretaris Ivan
"Ide yang bagus."sahut tuan Wijaya
lalu tuan Wijaya dan sekretaris Ivan pergi meninggalkan rumah utama itu.
Ditempat lain Misel yang sudah berada di restoran tempat dia bekerja. Karena hari ini tidak ada pelajaran di kampus akhirnya dia bekerja di shift pagi. Jadi hari ini Misel bisa pulang lebih cepat.
Saat hendak masuk kedalam toko dimana tempat dia bekerja dia dihadang oleh seorang laki-laki yang tidak dia kenal Dengan tatapan menggoda. Yaaa.. siapa lagi kalau bukan Bram si playboy cap kodok
__ADS_1
"Hai.?"sapa Bram
"Hai.Maaf anda siapa ya?"Tanya Misel
"Apa kamu gak tau saya siapa?"Tanya Bram heran. Padahal seluruh Indonesia tahu siapa dirinya. Lalu kenapa wanita ini tidak mengenalinya?
"Engga... emang kamu siapa?"Tanya Misel balik
"Kenalin. Bram Wijaya. cucu dari tuan Wijaya."Ujar Bram dengan senyum menggoda dibibirnya sambil mengulurkan tangan berkenalan
"Oh... saya Misel."Jawabannya singkat tanpa membalas uluran tangan Bram.
"Boleh kita bicara sebentar?"Tanya Bram
"Maaf saya harus bekerja. Permisi."Jawab Misel dingin karena merasa tidak penting bicara dengan orang yang tidak dia kenal dan waktu dia bekerja sudah akan dimulai. Misel pun melangkah meninggalkan Bram namun dicegah oleh Bram.
"Tunggu. Apakah seperti ini caramu melayani pelanggan?"Tanya Bram.
"Ck.. baiklah mau bicara apa?saya kasih waktu lima menit ya karena saya harus bekerja. Saya gak mau sampai dipecat gara-gara telat masuk kerja."Sahut Misel
"Baguslah kalau kamu dipecat." Ujar Bram dengan enteng
"Enak sekali kamu bilang begitu. Emang kamu pikir cari kerja itu gampang apa?"
"Gampang sekali. Bekerjalah denganku!"
"ish.. sepertinya ini orang gak waras ya. buang-buang waktu saja. saya permisi."ujar Aulia namun masih dicegah oleh Bram dengan terus menghadang langkah Misel.
"bekerjalah denganku. Aku ada pekerjaan bagus untukmu. Sepertinya kamu seorang pekerja keras. Kamu seorang mahasiswi bukan?biasanya seorang mahasiswi membutuhkan biaya yang besar." Tanya Bram yang sebelumnya sudah mencari tahu tentang Misel
"Tahu apa anda tentang saya. Jangan sok tahu karena anda tidak mengenal saya begitupun saya yang tidak mengenal Anda. Minggir."Ujar Misel kesal karena terus-terusan dihadang oleh Bram sedangkan waktu bekerjanya sudah terlewat sepuluh menit. Lalu Misel pun berlalu pergi meninggalkan Bram
"Argh... Baru kali ini gue dicuekin gini sama cewek. Dan apa tadi dia bilang?dia gak kenal Gue? penasaran gue dua cewek kaya apa sampai gak kenal gue." Gumam Bram kesal. Lalu dia ikut masuk kedalam toko tersebut. Saat masuk, didalam ternyata Misel tidak ada yang ada hanya tiga orang pelayan restoran yang lain. Satu diantaranya adalah perempuan dimana perempuan itu mengenal siapa Bram sehingga membuat dia salah tingkah kadang curi pandang. Pelayan laki-laki itu kemudian menghampiri Bram dengan ramah.
"Selamat pagi tuan. Maaf toko kami baru buka. Apa tuan mau pesan sesuatu?" Tanya pelayan laki-laki itu
"Emmmm.. tolong panggilkan pemilik resto ini."Titah Bram
"Ya?"pelayan itu kaget
__ADS_1
"Saya ada urusan dengan bos mu. jadi tolong panggilkan dia sekarang."
"Maaf tuan. bos kami belum datang ."
"Oh ya??"
"Iya tuan."jawab pelayan itu lalu tiba-tiba Misel muncul dan melihat Bram masih disitu juga. Tapi Misel tidak menghiraukannya karena Misel berpikir Bram orang stress tanpa dia tahu siapa Bram sebenarnya.
"Apa kamu mengenal perempuan itu?"Ujar Bram menunjuk pada Misel yang baru saja bergabung dimeja kasir bersama teman kerjanya.
"I-iya tuan dia Misel salah satu karyawan disini."Jawabnya gelagapan. Misel yang mendengar namanya disebut mengerucutkan bibirnya kesal. Sampai teman disebelahnya gresysia mengerutkan dahinya bingung.
"Misel. Apa kamu ada masalah sama tuan Bram?"bisik Greysia
"Enggak.. aku baru aja kenal barusan bagaimana bisa aku buat masalah sama dia."ujar Misel. Greysia kaget mendengar Misel berkata bahwa dia baru mengenal sosok Bram.
"Astaga.Kamu baru kenal dia barusan?"Tanya Greysia. Misel pun mengangguk
"Ya ampun Misel kamu ini gimana sih. Dia itu cucu tuan wijaya pengusaha terkenal pemilik hotel mewah dan mall terbesar yang suka masuk TV dan sekarang lagi gencar-gencarnya berita beliau mau nikah lagi untuk yang ketiga kalinya."Ujar Greysia memberi tahu siapa Bram sebenarnya. Sontak saja Misel kaget dan memaki dirinya sendiri dengan apa yang dia lakukan pada Bram barusan. Tanpa sadar Bram yang mendengar percakapan mereka itupun menghampiri mereka dimeja kasir diikuti oleh pelayan laki-laki dibelakangnya.
"Bagaimana, apa kamu sudah tau siapa aku?"Tanya Bram. Misel hanya terdiam membisu.
"Jika kamu tidak ingin kena masalah, maka temani aku ngobrol sebentar." Pinta Bram
"Udah sana temenin aja Misel. Daripada nanti kita kena masalah."Bisik Greysia. Misel pun menuruti nya lalu menemani Bram ngobrol di restoran itu sambil menikmati secangkir kopi.
"Sudah jangan basa-basi. Apa mau mu tuan?" Ujar Misel
"Bekerjalah denganku. Aku akan membayar berapapun yang kamu mau."
"Bekerja sebagai apa? bukannya tuan sudah banyak pelayan dirumah?Anda kan cucu tuan Wijaya."
"Aku tidak mempekerjakanmu jadi pelayan."
"Lalu?"Tanya Misel
"Berpura-puralah jadi tunanganku."
"APA???"Teriak misel
__ADS_1