
Setelah Alex melemparkan uang pada Misel, Bram memungut uang itu dan melemparkan kembali kepada Alex sehingga uang itu berhamburan.(Duh dari pada uang dihambur-hamburin mending kasih author atau para readers aja deh babang tampan😂😂)
“Alex apa kamu gila?? Jangan kau perlakukan wanitaku seperti itu.”Ujar Bram dengan nada marah
“Apa??Wanitaku??” Sahut Alex dengan senyum menyeringai. Dan tanpa aba-aba Alex memukul wajah Bram.Bugh....
“Alex!!!Bram!!Berhenti!!” Teriak Ketrin.Mendengar teriakan Ketrin alex dan Bram pun berhenti. Ketrin yang merasa kesal pun pergi meninggalkan mereka. Lalu Alex pun menyusulnya. Misel adalah orang yang paling terpukul atas semua itu. Ia mengejar Alex dengan membawa beberapa uang yang dihamburkan itu tanpa memperhatikan Bram .
“Tunggu! Aku tahu kalian dengan mudah membuang-buang uang sebanyak ini. Tapi banyak orang di dunia ini yang tidak bisa melakukannya.”
Alex tidak menghiraukan perkataan Misel Ia terus berjalan pergi tapi Misel tidak tinggal diam Misel terus mengejarnya. Alex merasa kesal lalu menarik tangan misel dengan kasar dan menekannya ke dinding. Ia berkata ia tidak tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Misel.
“Enyahlah dari hadapanku dan keluargaku. Dengan kata lain, menjauhlah dari Bram jika kau tidak ingin melihat semua semakin memburuk.”
Dengan sekuat tenaga Misel balik menarik balik Alex dan menekannya ke dinding.
“Namamu Alex Wijaya bukan? Berhentilah mengatakan hal-hal yang tidak kauketahui. Ini peringatan terakhir untukmu. Jika kamu menyentuhku lagi, kamu akan mati.”
Alex menyeringai tanpa menjawab perkataan Misel kemudian melepas tangan Misel lalu pergi begitu saja. Ia melihat Ketrin sedang menangis di dekat motornya. Hatinya ikut hancur.
Bram menyusul Misel dan bertanya apakah Misel baik-baik saja. Misel terlihat memang marah.
"Apakah aku serendah itu dimata kalian?"Tanya Misel dengan mata berkaca-kaca
“Bukan begitu Misel maaf aku....” Bram tidak bisa melanjutkan kata-katanya Lalu Misel mengembalikan semua barang yang dikenakannya termasuk uang yang telah diberikan dan dijanjikan oleh Bram. Hanya tersisa gaun putih polos yang dikenakannya.
__ADS_1
Ia juga melepas sepatu pink yang dipakainya dan melemparnya ke arah Bram. Bram pun memungut sepatu itu.
“Kamu wanita yang unik aku merasa tertarik.”Gumamnya
Saat Misel berjalan pergi meninggalkan hotel itu, Alex lewat dengan motornya sambil membonceng Ketrin. Alex sempat melirik ke arah Misel namun ia kembali fokus dan mengacuhkan Misel.
Alex mengantarkan Ketrin pulang. Ternyata Ketrin melamun hingga tak sadar ia sudah sampai di depan rumahnya. Alex pun bertanya apakah Dia begitu menyukai Bram meski Bram tidak pernah meliriknya sedikitpun.
"Apakah kamu sangat mencintai laki-laki brengsek itu?"Tanya Alex
"Siapa? Bram maksudmu?Sahut Ketrin
"Iya siapa lagi?"Tanya Bram lagi
“Tentu. Tapi kamu Jangan khawatir, aku akan membuatnya kembali seperti dulu padaku.”Jawab Misel sambil tersenyum. Alex hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu pamit kembali pulang.
"Seharusnya Anda tidak bersikap seperti itu Tuan muda."Ujar sekretaris Ivan
"Memangnya salah apa kalau aku memberikan hadiah pada kakek?"Tanya Bram dengan polos
"Tidak salah. Hanya caranya saja yang salah. Tuan Wijaya juga sudah menyiapkan hadiah untuk Anda tuan muda."Sahut sekretaris Ivan lalu Ia memperlihatkan foto seorang gadis di ponselnya.
“Ini adalah tunanganmu yang sesungguhnya. Ia cucu dari Tuan Gunawan pemilik dari perusahaan pertambangan.” Tambahnya lagi
"Apa artinya ini aku dijodohkan?"Tanya Bram
__ADS_1
"Iya Anda akan bertunangan dengan cucu dari tuan Gunawan ini."
"Enggak. Aku gak mau jodoh-jodohan. Udah kaya jaman Siti Nurbaya aja."celoteh Bram
"Tidak ada penolakan besok Anda akan bertemu dengan wanita itu dan harus membuat kesan yang baik."Titah sekretaris Ivan. Bram mendengar kata tidak ada penolakan itupun merajuk.
"Anda sebaiknya pergi jika kau ingin tetap menjadi pewaris dari tuan Wijaya.” Ujar sekretaris ivan mengingatkan
“Terserahlah atur aja,” Ujar Bram cuek.
Setelah mendapat jawaban dari Bram walaupun terpaksa sekretaris Ivan pun pergi dengan diiringi sendal Bram yang melayang mengiringi kepergian sekretaris Ivan.
Hari telah berganti. Seperti biasa setiap pagi sekretaris Ivan datang untuk mengurus semua keperluan dan jadwal pekerjaan tuan Wijaya. Disaat Tuan Wijaya dan sekretaris Ivan tengah mengobrol, Tuan Wijaya berkata pada sekretaris Ivan bahwa pernikahannya yang ketiga ini adalah yang terbaik. Bukan karena istri barunya, melainkan karena peristiwa langka yang ia lihat semalam. Semalam ia melihat seorang gadis membuat Bram berlutut, dan ternyata ia juga melihat bagaimana gadis itu menegur Alex mengenai uang.
Ia berkata gadis itu tidak biasa dan menyuruh Sekretaris Ivan untuk mencari tahu siapa Misel sebenarnya.
Ditempat lain pagi-pagi Misel melakukan aktivitasnya sebelum berangkat kuliah atau berangkat kerja dimana ia sudah membereskan rumah. Ia mendekati ibu tirinya dan berkata ia ingin meminta bantuan. Ibu tirinya langsung menolak tapi Misel memohon agar sekali ini saja ibu tirinya mendengarnya.
Ia bertanya apakah ibu tirinya bisa meminjami uang untuk ia bisa membayar uang bulanan kuliah. Ibu tirinya langsung marah dan membentak Misel bahwa selama ini Misel selalu menyusahkannya. Ia menolak mentah-mentah permintaan Ha Won dan menyuruhnya pergi.
"Misel mohon Bu. Sekali ini saja."Ujar Misel memohon
"Ibu bilang enggak ya enggak. Kalau ibu bayarin uang bulanan kuliah kamu terus uang bulanan kuliah kakak kamu gimana? Udah sana pergi."Sahut ibu tirinya Misel dengan nada marah. Misel pun pergi.
Sementara itu berita mengenai gadis misterius yang menjadi tunangan Bram sang cucu tuan Wijaya itu mulai beredar di berbagai media. Beredar foto Bram bersama Misel tapi wajah Misel tidak terlihat jelas karena dari samping dan tertutup oleh Bram.
__ADS_1
Ibu tiri Misel juga melihat berita itu dan berpendapat gadis misterius itu mirip dengan Misel. Tapi Stefani kakak tirinya misel berkata tidak mungkin gadis itu adalah Misel.
Akhirnya ayah Misel menelepon. Sayangnya ia menelepon ibu tiri Misel. Ibu tiri Misel dengan mudah berbohong kalau Misel dan Stefani pergi kuliah bersama dan sangat akrab tak terpisahkan.Dan Ia terkejut saat ayah Misel berkata besok akan pulang