HARUS KAMU

HARUS KAMU
Bab 02


__ADS_3

...Happy Reading!!!...


Azura menundukkan kepalanya saat keluar dari ruangan tersebut, ketika ia membuka pintu tiba tiba salah seorang memanggil namanya dengan nada sedikit berteriak.


"Hei!!" panggil seorang gadis .


"Ada apa, Azura?.. kenapa kamu telat?..." timpal Tasya lagi sekaligus berperan sebagai sahabat Azura.


"Ah! ti...dak apa apa!.." jawab Azura dengan sedikit gugup terlihat seperti memiliki sebuah rahasia.


"Yakin?..." tanya Tasya untuk memastikan.


"Iya, kok.." Jawab Azura untuk meyakinkan Tasya.


"Huftt...... kamu tau kan kita itu sahabatan udah lama, kalo kamu kek gini ya... aku bisa ngerti kok.." ucap Tasya yang mencoba mengerti kepada Azura.


"Makasih, ya..." Ucap Azura kepada Tasya yang sedikit merasa lebih membaik.


"Iya..." ucap Tasya sambil mengajak berpelukan dengan Azura.


"Heh! kalau bukan gara gara cowo gila itu, mungkin aku bisa datang tepat waktu! dasar cowo gila pede.... patesan dia selalu lajang, orang sikapnya gila... siapa coba yang mau dengan cowo gila kek dia?" Batin Azura yang terus menerus mengoceh.


*Jam istrirahat


Drttt Drttt


*Telepon berdering


"Siapa sih? mengganggu sekali" oceh Azura kesal.


"Sudahlah jawab saja dulu..." ucap Tasya yang mencoba meredakan amarah Azura.


"Baiklah..." ucap Azura sambil melihat layar ponselnya itu.


"Nomer tidak dikenal?.... " gumamnya sembari berpikir.


"Angkat saja dulu..." ucap Tasya


"Halo?..." Ucap Azura mengangkat telepon tersebut.


"Halo!..." apa kabar nona?..." suara dari Seberang telopon.


"Kamu?... bagaimana caramu mendapatkan nomorku?!..." tanya Azura Kepada Eshar.


Ya.... orang yang berada di seberang telepon itu tidak lain dan tidak bukan adalah Eshar.


"Menurutmu? mengapa aku meminta Hpmu Saat itu?...." Jawab Eshar kepada Azura.


"Kau!!...." bentak Azura di sambungan itu.


"Oh iya calon istriku, dimana kamu sekarang?..." tanya Eshar dengan nada ciri khasnya.


"Siapa calon istrimu?!!... dasar GILA!!!..." tanya Azura kesal dengan berteriak


"Siapa lagi?... kamulah.... Sayang...." Eshar mencoba merayu Azura.


Tutttt... tuuttt.... tuuttt...


Azura mematikan telepon dari Eshar, karena sudah tak tahan mendengar ucapan Eshar yang menurutnya begitu menggelikan.


Keesokan harinya...


*Di kantor Ezhar


"Hahhh....! jika saja ibu tidak selalu memaksaku untuk menikah, aku pasti tidak senekat ini" ujar Eshar yang saat ini berada di ruangannya.


Ia mengeluarkan handphonenya dan mengetikan sebuah nama di handphone miliknya itu, keluarlah nama 'calon istriku' dan ia langsung menghubungi kontak tersebut.


Drttt... Drttt... Drttt...


"Halo" Jawab dari seberang telepon.


"Halo...! Apakabar nona?!" senyum simpul langsung terukir di bibir Ezhar saat ia mendengar suara Azura.


"Kamu, bisa tidak jangan menggangguku lagi?" ucap Azura yang mulai tersulut emosi.


"Haah... sudahlah, lupakan saja! omong omong ada apa kamu menelpon ku?" timpalnya lagi dengan nada ucapan kembali seperti semula.

__ADS_1


"Yah.... bisa kita bertemu terlebih dahulu sebelum lanjut ke inti topik?" tanya pria itu sambilan menuju ke sofa yang berada di dekatnya.


"Hah?? ada apa? bukannya kita sudah tidak ada urusan lagi?" tanya Azura yang mengerutkan dahinya.


"Mari bertemu di Cafe xxx jalan lestom siang ini Jika kamu telat, mari kita lihat apa yang akan terjadi!" Ucap Eshar dingin yang langsung membuat Azura tersentak kaget.


*DI TEMPAT TUJUAN


"Mungkin aku gila, mengapa aku menurutinya begitu saja? Hahhh!" batin Azura menghela nafas sekaligus mencelingak celingukkan kepalanya bertujuan untuk mencari keberadaan Eshar.


"Aku datang, ada apa?" Azura duduk di kursi yang menghadap Eshar.


"Kamu terlmbat 2 menit!" Ucap Eshar yang mengambil sebuah lembar kertas ntah apa isinya, yang berada di sampingnya.


"Aku hanya telat 2 menit, mengapa dia membesar besarkannya?." batin Azura sedikit kesal.


"Baca ini! jika kamu setuju kamu boleh menandatantaninya!" tawar Eshar yang memberikan surat itu kepada Azura.


"Hm!?? apa ini?" tanya Azura sambilan menerima surat tersebut.


"Perjanjian nikah kontrak! kamu mengatakan bahwa kamu tidak ingin menikah denganku bukan?" jawab Eshar menatap Azura


"Bukankah ini sama saja?" tanya Azura terheran dan sedikit kesal.


"Tidak itu tidak sama, maka jika kamu ingin tau lebih lanjut bacalah terlebih dahulu isi surat itu!"


(Setelah membaca)


"Bagaimana? apa kamu setuju dengan kontrak itu?" tanya Eshar sembari memberi pena miliknya kepada Azura.


"Tidak!" ucap Azura tegas.


"Jika kamu menjawab 'tidak' itu artinya 'iya', cepat tandatangani surat ini!"


"Bagaimana bisa seperti itu? Baiklah, Iya! bukankah kata 'iya' artinya 'tidak'?" tanya Azura menatap Eshar.


"Baik, silakan tanda tangani surat ini! jika kamu membuang buang waktuku lagi, lihat apa yang aku lakukan kepada teman baikmu itu!"


"Kau!!!! pengecut!" ucap Azura menggunakan nada sedikit tinggi.


"Tanda tangan!" ucap Eshar menggunakan ekspresi membunuh dan dengan mengeluarkan aura yang mematikan.


"Tapi.... hah.. tak apalah, lagi pula hanya 1 tahun saja" batin Azura sembari menggenggam pena yang diberikan Eshar tadi dan menandatangani surat kontrak tersebut.


"Hemm" senyum simpul terukir tiba tiba di bibir Eshar, tanpa sepengetahuan Azura tentunya.


"Jika sudah selesai apakah aku sudah boleh pergi?" tanya Azura dengan menatap malas kepada Eshar.


"Ikut aku, bawa aku ke rumahmu!" perintah Eshar ke Azura.


"Oh! hmmmmm... tunggu! apa? untuk apa?"


"Hei!! apakah kamu baca kontraknya? dipasal 2 tertulis 'pihak ke-2 (Azura) akan tinggal di rumah pihak ke-1 (Eshar) selama perjanjian masih berlangsung' bukan??" selidik Eshar dengan wajah datar.


"Oh! he.. he.. he.." tawa paksa Azura sedikit panik dengan pandangan memandang kearah lain


"Apa wanita ini tidak membaca surat kontraknya? apa dia tidak takut jika aku menjebaknya? dasar!!!! tingkat melindungi dirinya rendah juga!" batin Eshar kesal sambil mengerutkan dahinya.


"Cepatlah!!" ucap Eshar berjalan menuju mobil dengan diikuti oleh Azura dari belakang.


Setelah itu, mereka menuju ke rumah Azura menggunakan kendaraan Eshar untuk mengambil barang miliknya. Mobil itu memecah belah jalanan di tengah kota dengan kecepatan sedang.


•°••°••°••°•~~★☆♡♥★♡☆■□♥♡★


*Di Mansion Eshar


"Taruh semua barangmu di ruangan itu!" tunjuk Eshar ke salah satu ruangan.


"Ok" jawab Azura membawa barangnya menuju ruangan yang ditunjuk oleh Eshar sebelumnya.


Saat Azura selesai menaruh dan merapihkan barangnya di ruangan tersebut, ia menuju ke ruang tengah dan duduk di sofa sambil ikut menonton TV di samping Eshar.


Kruyuk~~~


Bunyi perut Azura yang terdengar bernada.


"Ayo!" ajak Eshar kemudian beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Hah? kemana?" tanya Azura kepada pria yang sudah berdiri di depannya saat ini.


"Cari makan, aku sudah lapar, apa kau tidak?" Eshar mengulurkan tangannya kepada Azura.


"Ah... iya!" jawab Azura sambilan membalas uluran tangan Eshar sebelumnya dengan tersenyum lembut.


Eshar yang melihat itu, seketika langsung memalingkan wajahnya berusaha menutupi wajahnya yang memerah dan juga ntah mengapa hatinya terasa aneh ,disaat itu juga ia langsung menghempaskan genggamannya dan langsung bergegas menuju mobil.


"eehh? apa kau sakit?? mengapa mukamu merah??!!!" tanya Azura setengah berteriak kepada Eshar yang sedang berjalan.


"Berisik! cepat, ayo jalan!"


Fyi, mereka sudah menandatangani surat KUA, tidak ada yang tau apakah itu asli atau tidak kecuali Eshar dan Secretarisnya. Surat tersebut sebagai bukti jikalau ibu Eshar meminta bukti karena tidak percaya bahwa anak lelakinya sudah menikah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


...****************...


......................


...Hai semua..... mohon dukungannya ya... agar aku semangat untuk membuat novel ini, dengan cara;...


...-like...


...-Komen...


...-dan suport tentunya...


^^^Terimakasih...^^^


...SAMPAI JUMPA SEMUANYA DI EPISODE BERIKUTNYA..........























^^^Byeeeee.....^^^

__ADS_1


__ADS_2