
...Happy Reading!!!...
"Azura!!!!" teriak seorang pria mendekati Azura.
"Hm?" Azura menoleh, lalu ia tersenyum lebar mendapati orang yang ia kenal namun sudah lama tidak pernah bertemu.
"Ah, kak Dafa apa kabar"? riang Azura langsung memeluk pria yang katanya bernama Dafa itu.
"Baik, kamu gimana kabarnya?" tanya Dafa sambil melepas pelukannya.
"Baik kak, wahhhh udah lama kita ga ketemu, terakhir kita ketemunya saat kakak lulusan kuliah ya?" Azura begitu berbinar binar ketika bertemu dan berbicara dengan Dafa, lelaki cinta pertamanya itu.
"Hahahaha kamu masih sama ya? Selalu ceria dan antusias" ucap Dafa tersenyum manis menatap Azura.
"Hehehe" tawa Azura seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu ngapain disini?"
"Aku mau ke Cafe itu, soalnya ini jam makan siang, aku bosan dengan suasana di kantin kantor, lagi pula sengaja agar dapat suasana baru" jelas Azura.
"Ayok, sekalian kita berbincang bincang... sudah lama kita tidak mengobrol" ajak pria itu menarik tangan Azura menuju Cafe itu.
Azura tersenyum lebar dan dengan begitu antusiasnya, bagaimana tidak? lelaki yang kini bersamanya adalah lelaki yang selalu melindunginya dan selalu berada disisinya kala susah maupun senang saat ia masih kuliah dulu sekaligus cinta pertamanya.
Setelah mereka memasuki Cafe tersebut, mereka langsung menduduki kursi, mereka memilih kursi yang berada dekat dengan jendela yang menampakkan pemandangan di luar memperlihatkan banyaknya kendaraan yang sedang berlalu lalang.
"Gimana kak masih? atau udahan?" tanya Azura seraya meletakkan salah satu tangannya untuk menopang wajahnya.
Dafa mengerutkan dahinya kemudian segera mengerti apa yang dimaksud dengan ucapan Azura.
Tiba tiba seorang pelayan datang dengan menanyakan sesuatu mengenai apa yang akan mereka pesan untuk disantap.
"Masih donkkkk, udah jadi malah tapi belum sepenuhnya."
"Eh? belum atau belum jadi?"
"Belum..."
"Lah kenapa? kakak?..." tanya Azura curiga.
"Jangan mikir macem macem, hari ini jadi pasti " ucap Dafa dengan nada yang meyakinkan.
*****
Di Mansion
"Dari mana saja kamu?" ucap pria yang tengah duduk di sofa yang berada di ruang tengah.
"Kau tahu kan?" jawab Azura.
Eshar menatap Azura dengan ekor matanya dengan sinis. Baru saja ia ingin melanjutkan ucapannya namun tiba tiba datang kedua orang tuanya masuk tanpa permisi.
"Dasar bocah" ucap Kinanti tiba tiba seraya mengeplak kepala Eshar dengan pelan.
"Aduh, apaan sih bu?" protesnya setelah menerima geplak-an ibunya.
"Kamu yang apa-apaan masa sikap kamu begitu sama menantu kesayangan ibu" ucap Kinanti melangkahkan kakinya mendekati Azura yang tengah berdiri tak jauh dari mereka.
Kinanti mengelus lembut telapak tangan Azura penuh sayang, ia lanjut memeluk Azura dengan masih sama lembutnya kemudian ia melepas pelukannya dan dengan tegas berkata.
"Mulai sekarang kalian tinggal di mansion utama bareng ayah dan ibu!" titahnya yang tak menerima bantahan.
__ADS_1
"Apa?!" seru Azura dan Eshar serentak lalu saling memandang satu sama lain dengan tatapan sama sinisnya.
"Apa-apaan sih bu?" protes Eshar untuk yang kedua kalinya.
"Sayang... lihatlah anakmu yang kurang ajar itu, dia berani melawanku" adu Kinanti seraya memeluk lengan suaminya manja, pria paruh baya itu sedari tadi sudah berada di antara mereka dan hanya diam menonton saja.
"Eshar" ucap Vero, namun terdengar ada nada penekanan di sana.
"Aish... iya iya" Eshar mengalah dan langsung berdiri kemudian berjalan menuju kamarnya.
"Mau kemana kamu? jangan kabur ya."
"Ke kamar ingin mengambil ponselku bu." ujar Eshar masih melanjutkan langkahnya tanpa menengok ke arah mereka.
"Aish.. lihatlah anakmu itu, tidak ada sopannya sama sekali terhadap orang tuanya sendiri."
Sementara Azura ia hanya menahan tawanya melihat ekspresi wajah suami pura-puranya itu, jujur saja ia merasa sedikit iri melihat keharmonisan keluarga itu.
"Andai saja keluargaku masih utuh, yahh keluargaku utuh... tapi, apa mereka masih termasuk keluargaku? Melihat sikap mereka, sepertinya mereka tidak menganggap ku sebagai salah satu keluarganya" batin Azura mengingat perilaku keluarga tirinya selama ini.
Eshar yang sudah menuruni anak tangga tidak sengaja melihat raut wajah Azura yang tampak murung.
"Sayang sini" ucap Eshar tiba tiba sambil merentangkan kedua tangannya.
Azura menatap bingung ke arah Eshar 'Apa-apaan pria itu?' pikirnya.
"Sayang..." panggilnya sekali lagi dengan senyuman yang dibuatnya semanis mungkin.
"Ra? itu suami kamu manggil kamu lho" Kinanti menyenggol lengan Azura menggunakan sikut miliknya.
"Ah, i-iya bu" Azura berlari kecil menuju suami kontraknya itu, ia membalas pelukan suaminya itu.
Hangat, pelukan itu terasa hangat dan nyaman bagi Azura, ntah mengapa kesedihan yang baru saja ia rasakan lenyap ntah kemana perginya.
Azura yang mendengar itu ntah mengapa merasa kecewa, lalu ia mulai menyadarkan dirinya, sadar... bahwa pernikahan ini tidak didasari oleh rasa cinta melainkan hanya sebuah perjanjian.
Mereka saling melepaskan pelukan satu sama lain, ntah mengapa Eshar merasa tidak rela ketika Azura mulai melepaskan pelukannya.
"Udah ayok... jangan bermesraan mulu" ajak Kinanti yang hendak meninggalkan mereka.
"Oh iya, untuk barang-barang kalian biar para pelayan aja yang bantu pindahkan" lanjutnya menghentikan langkahnya kemudian menarik lengan suaminya untuk ikut dengannya meninggalkan sepasang sejoli itu.
"Bagaimana ini?" tanya Azura panik, namun pria yang berada di sebelahnya hanya memasang wajah datar seolah-olah ia tak peduli.
"Apanya yang bagaimana?" bukannya menjawab Eshar malah bertanya balik.
"Masa iya ntar kita tidur satu kamar?"
"Ya mau diapain lagi? Lagi pula kamu tidak perlu khawatir, aku tidak tertarik dengan triplek sepertimu."
"Apa? triplek? apa kau buta? ini kau sebut datar?" ucap Azura membusungkan dadanya seraya menunjukkan jari telunjuknya ke dadanya sendiri.
Eshar yang melihat itu menahan tawanya, kemudian meneguk ludahnya kasar lalu membuang mukanya ke arah berlawanan di mana Azura berdiri saat ini.
"Hey! ada apa dengan mukamu itu? apa kamu sakit? kok merah?" tanya Azura berusaha menyentuh dahi Eshar.
"Ck, berisik" ucapnya seraya menghindar dari sentuhan tangan istri kontaknya itu.
"Ishh... lagi pula nanti kalau kita ketahuan jika selama ini tidak tidur satu kamar bagaimana? bukankah para pelayan yang akan mengurus barang-barang kita? bagaimana jika mereka memberitahu ibumu atau ayahmu?" tanya Azura beruntun.
Eshar mengerutkan keningnya, terlihat ia sedang berfikir, mencerna setiap pertanyaan beruntun yang di lemparkan kepadanya. Beberapa saat kemudian terlihat ia sedang mengeluarkan ponselnya dari dalam saku miliknya kemudian mengetikkan sebuah nama dan tertera-lah nama yang ia cari di layar ponselnya, kemudian ia menghubungi nomer tersebut.
__ADS_1
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...****************...
......................
...Hai semua..... mohon dukungannya ya... agar aku semangat untuk membuat novel ini, dengan cara;...
...-like...
...-Komen...
...-dan suport tentunya...
^^^Terimakasih...^^^
...SAMPAI JUMPA SEMUANYA DI EPISODE BERIKUTNYA..........
●
•
●
•
●
•
●
•
●
•
●
•
●
•
●
•
●
•
●
•
__ADS_1
●
^^^Byeeeee.....^^^