Haruskah Rasa Dikuburkan (?)

Haruskah Rasa Dikuburkan (?)
Prolog


__ADS_3

"Pergilah!" teriak Rena sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Ber-drama? Ya! Kini dia sedang ber-drama untuk dirinya dan pria yang berdiri di depannya dengan mata berkaca-kaca. Begitu sesaknya dada untuk mengucapkan kata 'pergilah' namun, dia bisa apa?


Dia harus melakukannya, bukan untuknya saja. Tetapi ini untuk pria yang begitu mencintainya tulus, namun dia masih tidak percaya. Jika mereka bisa bersama.


Apa dia mengikuti logikanya? Jelas saja! Dia harus menggunakan logikanya, agar kisah cintanya cepat terhenti, dan dia bahkan berharap kisah cintanya tidak terulang kembali di tahun-tahun yang akan dia jalani kelak.


"Rena ... tolonglah, jangan minta aku pergi," mohon Eza sambil menyatukan kedua tangannya di hadapan Rena yang masih menggenggam tangannya, juga menundukkan kepalanya, serta memejamkan matanya.


"Pergi, Leon. Pergilah ... aku memintamu pergi. Apa kamu tidak mendengarnya?!" teriak Rena ulang sambil menekan setiap kalimat yang dia lontarkan kepada Eza.


"Apakah tidak ada ruang lagi untukku, Ren?" tanyanya sambil menatap Rena yang masih dengan kondisi tadi.


"Apakah tidak ada kesempatan untukku di hatimu, Ren?" tanyanya lagi dengan suara serak.

__ADS_1


"Apakah aku—


"Cukup, Leon! Cukup! Mengapa kamu begitu keras kepala, ha? Apakah kamu tidak mendengar semua ucapanku tadi? Tiga kalimat dariku, Leon. Pergilah dari hadapanku. Jangan pernah muncul lagi di depanku, Leon, jangan pernah!" putusnya.


Rena pun mulai membalikkan badannya untuk siap meninggalkan Eza yang masih terdiam membisu dengan tatapan kosong ke arah Rena yang segera melangkah jauh, dan meninggalkan dirinya di taman kota tersebut.


Eza tak sanggup menatap kepergian dari wanita yang begitu dicintainya, disayanginya, juga diidam-idamkannya. Dia pun menundukkan kepalanya. Tak berselang lama, hujan pun turun membasahi dirinya yang masih membeku di tempat yang di mana di sana adalah saksi perpisahan dan inikah keinginan semesta kepada kedua lawan jenis yang begitu mencintai, namun memilih berpisah (?)


***


Rena memasuki kamarnya, dan tak sengaja ayah dan ibunya melihatnya dengan keadaan berantakan. Namun, mereka mengacuhkannya saja. Berbeda dengan kedua adik laki-lakinya yang cemas saat melihat kondisi kakak perempuan satu-satunya itu.


"Abang juga enggak tahu, Ali," bisiknya kembali.


Ting!

__ADS_1


Ali melihat ponselnya. Dia melihat ada line dari teman sekelasnya, yaitu Alifah. Dia pun segera membacanya, dan pesan itu membuatnya shock.


"Bang, Abang Alif, Bang!" teriak Ali sambil menggoyangkan lengannya.


Merasa tidak tenang akibat ulah kedua anaknya, ayahnya pun menegur keributan mereka. "bisa tidak kalian ke kamar? Ribut di sana saja. Jangan di sini. Ayah dan ibu ingin menonton, paham?" Alif dan Ali mengangguk malas.


Tak ingin ribut yang berakhir bersitegang dengan orang tuanya. Ali menarik lengan Alif dengan paksa. Mau tidak mau, Alif mengikutinya, dan mengikuti jejak adik bungsunya itu.


Setelah memasuki kamar, Ali menyerahkan ponselnya, dan meminta Alif membacanya. Yang tadi wajahnya malas, sekarang wajahnya berubah menjadi tanpa eskpresi.


***


"Argh!" teriak Eza dalam kamarnya. Setelah menimbang-nimbang untuk tidak mengangkat kepalanya untuk sekedar ingin melihat apakah benar wanita yang dicintainya itu pergi meninggalkannya? Namun, dia terpaksa mengangkat kepalanya, karena hujan terus mengguyur tubuhnya, dan dia juga sudah mulai merasakan kedinginan sampai ke tulangnya.


Ya, setelah melihat yang sebenarnya, dia pun memutuskan pergi dari tempat itu menuju rumahnya. Karena yang bisa mengerti kondisinya hanya adik perempuannya. Adik satu-satunya yang dia miliki di dunia ini.

__ADS_1


Tiba di rumah, dia pun menghubungi adiknya untuk memasuki kamarnya, dan dia akan menunggunya di sana. Tak berselang lama, adiknya datang dan Eza pun mulai menceritakan kronologisnya, lalu tak sanggup melihat keadaan abangnya, dia memeluk erat tubuhnya yang dingin akibat hujan lebat tadi.


"Shut, tenang, ya. Adek Abang di sini. Nangis saja, ya, jangan ditahan," ucapnya tulus sambil mengelus punggungnya.


__ADS_2