Haruskah Rasa Dikuburkan (?)

Haruskah Rasa Dikuburkan (?)
Ananda Fahreza Leon


__ADS_3

Ananda Fahreza Leon


Kini, aku berada di Jakarta yang cuacanya panas dan dalam perjalanan pulang ke rumah kelahiranku, aku mendapatkan kemacetan yang begitu panjang.


Syukurnya, aku tidak sendirian di dalam mobil ini. Aku bersama adikku satu-satunya, yaitu Nasywa Alifah. Kami memanggilnya dengan sebutan Alifah.


Alifah menyenggol lenganku, aku pun melihatnya ke samping kanan, "ada apa, Dek?" tanyaku padanya. "bagus, enggak, Bang? Alifah mau beli jam ini, Bang," ucapnya berseri-seri sambil memutar-mutar ponselnya, hanya melihat jam di layar sentuh tersebut.


Aku menghela napas, "dek, jam tanganmu yang dulu 'kan masih ada? Jangan bilang selama Abang tidak ada di sini, kamu boros, hm?" tanyaku padanya, dan tanggapannya hanya cengengesan.


Aku menggelengkan kepala. "sudah, ya, jangan beli apa pun dulu. Pakai yang dulu saja. Jangan mumbazir dan boros," nasihatku.


Alifah mengerutkan keningnya, "bang, Bang. Sejak kapan barang-barang jadi mumbazir?" tanyanya.


Aku terkekeh dan mengusap-usap rambutnya dengan pelan. "dek, pinjam bahunya dong," pintaku.


"Mau tidur, Bang?" Aku mengangguk tipis. Dia pun memberikan bahunya, aku pun langsung menyenderkan kepalaku di sana.


Nyaman? Lumayanlah. Mengapa aku sebut lumayan, dibandingkan nyaman? Karena aku ingin kepalaku bersandar dengan seorang wanita yang kucintai yang entah kapan munculnya.


Lalu sejak itu terjadi, barulah aku menyebutnya dengan kata nyaman. Baru saja ingin memejamkan mata, sorot mataku menatap seorang wanita di pinggir jalan sana dengan rambutnya yang dikuncir seperti kuda.


Aku bertanya-tanya, siapa wanita itu? Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Karena dia masih mengarah ke samping. Aku sangat penasaran dengannya. Sampai-sampai tak sadar, kalau aku menempelkan hidungku ke kaca mobil.


Mungkin adikku melihat, dia pun langsung menegurnya, "woi, Bang! Ngapain, sih, sampai begitu bener?" tanyanya.


Aku pun langsung duduk seperti semula dan bertanya tanpa melihat ke arahnya, "dek, Dek. Itu, tuh, ada wanita di pojokan pinggir jalan sana, siapa? Kenal, tidak?" tanyaku berharap dia mengenalnya walau melihatnya hanya di samping saja.


Alifah mulai mendekat ke arahku, bahkan menempelkan wajahnya ke wajahku. Aku tidak mempedulikannya. Yang terpenting aku mengetahui siapa wanita itu.


Kurasakan wajahnya tidak tertempel lagi dengan wajahku. Aku pun menoleh ke samping dan menatap matanya penasaran. "oh, dia, Bang. Dia kakaknya temen cowok sekelasku, Bang. Kenape, Bang?"

__ADS_1


Aku terdiam sejenak, kemudian aku bertanya, "tahu namanya siapa, Dek?"


"Kalau enggak salah, ya, Rena Kenzura Diana, dipanggil Rena, Bang ... eh, Kak Rena," kekehnya.


Aku tersenyum saat mendengar namanya. Di saat itulah, namanya mulai kutanamkan di hatiku. Aku tidak tahu, apakah dia cantik atau tidak, yang jelas, namanya telah tercantum di lubuk hatiku paling dalam.


"Dek, Dek," panggilku.


"Iya, Bang?" sahutnya.


"Rena Kenzura Diana, 'kan, Dek?" ulangku. Alifah mengangguk pelan.


"Rena Kenzura Diana?" Alifah mengangguk tipis dengan wajah datar.


"Rena. Kenzura. Diana. Benar 'kan, Dek?!" pekikku.


"Astagfirullah Al Adzim, Abang! Iya, betul. Namanya, itu, Rena Kenzura Diana. Ngapa, sih, Bang? Abang suka, ya?" Alifah menaik-turunkan alisnya.


"Ih, Bang! Jangan, Pak. Nanti kita kecelakaan," sewotnya.


"Diam, Dek. Tidak bakal kecelakaan, kok, tenang saja," ucapku meyakinkan.


Alifah hanya memutarkan bola matanya jengah, "gegara suka sama Kak Rena. Abang jadi hilang akal. Padahal belum melihat orangnya lagi," gerutunya.


Aku mendengarnya, tetapi aku acuhkan saja. Aku kembali menyenderkan kepalaku di bahunya. Alifah tetap saja mendumel, aku terkekeh-kekeh mendengarkannya.


***


Setelah bertahun-tahun aku tidak pulang ke rumah. Kini aku menginjakkan kakiku ke rumah ini lagi. Rumah yang begitu besar nan menawan. Jangan lupa juga sama yang mendiami rumah ini.


Tentunya, tampan-tampan dan cantik-cantik, tawaku renyah. Aku terdiam sejenak, memikirkan sudah berapa lama aku di London, ya? Lalu, mengapa juga aku ke mari lagi? Entahlah.

__ADS_1


Aku hanya mengikuti perintah dari Papah saja. Maklumlah, anak pertama, dan paling mendapatkan beban di bahunya. Siapa, sih, yang tidak dapat beban dari orang tuanya kepada anak pertamanya? Kamu? Ha-ha-ha, bullshit, Men!


Aku tidak tahu. Jika aku sudah didaftarkan ke SMAN Melati 2 oleh Mamah sendiri. Yah, aku acuh-acuh saja. Tidak ingin ambil pusing. Mamah bilang, mulai Senin depan aku akan masuk sekolah itu.


Yang bikin aku terperangah dan tak menyangka adalah aku akan satu sekolah, bahkan satu kelas dengan seorang wanita yang begitu kucintai dan kusayangi, Rena Kenzura Diana.


Aku sudah tidak sabar menunggu waktu di mana, aku bisa menjumpai kekasihku itu. Ea! Jadian saja, belum. Aku sudah membayangi bahwa kami tak dapat dipisahkan. Tak ingin menunggu waktu itu, aku mulai mengistirahatkan otakku yang mulai menggilai wanita itu.


***


Manis.


Itulah yang bisa kukatakan pada diriku saat melihat pertama kalinya wajahnya itu. Wajahnya yang bulat, kedua matanya sendu, bulu matanya pendek, alis yang panjang disertai tipis, dan bibirnya halus.


Ah, ya tuhan ... sungguh indah sekali ciptaan-Mu. Tak sabar aku ingin mendekatinya. Tetapi aku tak ingin terburu-buru, takutnya dia ilfeel. Melihat dari kejauhan saja, aku bisa melihat ekspresinya saat didekati oleh pria kelasnya, dia seperti risih.


Aku mengangguk pelan dan mendapatkan ide untuk membuat rencana agar bisa dekat dengannya, dan itu berhasil. Aku sangat senang! Hari-hari berlalu, minggu, bulan, bahkan ke tahun, kami kian mendekat.


Namun aku tak menyadarinya, bahwa ada kejanggalan terjadi di dirinya. Tetapi aku tak tahu itu apa, lambat laun ... dan akhirnya aku mengetahui alasan yang sebenarnya. Apakah aku shock? Tentu saja.


Bahkan pernyataannya itu dapat membuatku hancur lebur. Fisikku yang berawal baik, kini penuh luka, dan membiru. Hatiku dan jiwaku? Sangatlah hancur, Sob, hancur sekali.


Aku tak menyangka, bahwa akhir kisah cintaku seperti ini. Bagiku, alasannya sama sekali tidak masuk akal. Tetapi tak memungkinkan, bukan, kalau aku tak menghargai dan menghormatinya?


Mau tak mau, aku menerima keputusannya. Dia memintaku pergi. Menjauhinya, dan menjauhi dunianya, segalanya yang bersangkutan dengannya, dan percayalah ... aku tak mampu melakukannya.


Dengan luka yang membiru dan hancur lebur dari fisik dan hatiku, aku kembali ke London. Hari-hariku sangatlah kacau tanpanya. Tetapi aku berusaha, agar terlihat baik dan tenang. Dari sanalah, aku menutup diriku dari siapa pun.


Hanya adikku saja yang bisa mengerti kondisiku ini, namun aku tak bisa bergantung padanya selalu. Karena adikku juga bersekolah sama sepertiku, parahnya aku naik ke tingkat lebih tinggi dibandingkannya.


Aku menghela napas berat, dan aku berjanji pada diriku sendiri. Aku tidak akan putus asa, aku akan tetap menunggu sampai di mana dia bisa menerima cintaku dengan setulus hatinya.

__ADS_1


Satu lagi, tak peduli dengan kasta atau apa pun. Jika Allah menghendaki aku dan Rena bersama. Maka, itu akan terjadi, dan aku percaya pada takdir Allah dibandingkan keputusannya.


__ADS_2