Haruskah Rasa Dikuburkan (?)

Haruskah Rasa Dikuburkan (?)
Bab 1


__ADS_3

Duduk termenung di depan jendela kamar, lalu penglihatan menghadap cahaya rembulan yang warnanya tak secerah seperti biasanya. Kebetulan sekali, warnanya menggambarkan keadaan Rena kala itu.


Dia menghela napas berat. Di rumah yang isinya hanya dia sendiri, sangatlah merasa nyaman. Tetapi kadang, dia merasakan sebaliknya. Fisik tentu saja baik-baik saja, lalu bagaimana dengan hati serta pikiran?


Rena terus saja menatap cahaya rembulan, hingga dia tertidur pulas dengan keadaan menyanderkan kepalanya di sisi jendela tersebut. Tanpa sadar, dia memasuki alam mimpinya yang lalu, awalnya dia baik-baik saja.


Namun ...


"Pergilah!" teriak Rena sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Ber-drama? Ya! Kini dia sedang ber-drama untuk dirinya dan pria yang berdiri di depannya dengan mata berkaca-kaca. Begitu sesaknya dada untuk mengucapkan kata 'pergilah' namun, dia bisa apa?


Dia harus melakukannya, bukan untuknya saja. Tetapi ini untuk pria yang begitu mencintainya tulus, namun dia masih tidak percaya. Jika mereka bisa bersama.


Apa dia mengikuti logikanya? Jelas saja! Dia harus menggunakan logikanya, agar kisah cintanya cepat terhenti, dan dia bahkan berharap kisah cintanya tidak terulang kembali di tahun-tahun yang akan dia jalani kelak.


"Rena ... tolonglah, jangan minta aku pergi," mohon Eza sambil menyatukan kedua tangannya di hadapan Rena yang masih menggenggam tangannya, juga menundukkan kepalanya, serta memejamkan matanya.


"Pergi, Leon. Pergilah ... aku memintamu pergi. Apa kamu tidak mendengarnya?!" teriak Rena ulang sambil menekan setiap kalimat yang dia lontarkan kepada Eza.


"Apakah tidak ada ruang lagi untukku, Ren?" tanyanya sambil menatap Rena yang masih dengan kondisi tadi.


"Apakah tidak ada kesempatan untukku di hatimu, Ren?" tanyanya lagi dengan suara serak.


"Apakah aku—


"Cukup, Leon! Cukup! Mengapa kamu begitu keras kepala, ha? Apakah kamu tidak mendengar semua ucapanku tadi? Tiga kalimat dariku, Leon. Pergilah dari hadapanku. Jangan pernah muncul lagi di depanku, Leon, jangan pernah!" putusnya.

__ADS_1


Rena pun mulai membalikkan badannya untuk siap meninggalkan Eza yang masih terdiam membisu dengan tatapan kosong ke arah Rena yang segera melangkah jauh, dan meninggalkan dirinya di taman kota tersebut.


Tring! Tring! Tring!


"Hah!" Rena terbangun dan terkejut setengah mati. Bisa-bisanya dia memimpikan masa lalu itu? Sudah berapa tahun yang lewat dia melewati masa itu, kini dia memimpikannya?


"Sebentar. Aku terbangun, karena aku mendengar notifikasi di ponselku barusan," monolognya.


Benar saja. Teman semasa SMP-nya kembali menghubunginya. Siapakah teman SMP-nya itu? Rena hanya memiliki satu teman sepanjang masa. Dia tidak memiliki teman semasa SD.


Dia hanya memiliki teman semasa SMP dan SMA. Lalu, bagaimana dengan kuliahnya? Dia tidak memiliki teman. Karena dia selalu mengambil jalan pintas alias tidak mempedulikan orang-orang yang kampus di sana.


"Tumben sekali Indri mengajakku bertemu. Ada apa gerangan, ya?" tanyanya sambil memainkan telunjuknya di dagunya sendiri.


Rena mengangkat kedua bahunya acuh. Tak ingin ambil pusing dan tak ingin memikirkannya. Dia pun menutup gorden jendelanya, dan membaringkan tubuhnya di kasur empuk. Tak berselang lama, dia pun menutup matanya.


***


Rena duduk di kursi sambil menunggu kedatangan dari Indri Runasari. Sesudah memesan minuman, dia memutuskan untuk memainkan ponselnya. Dia membuka aplikasi instagramnya. Dia membuka profilnya, dan tersenyum geli saat melihat beberapa foto di masa lalunya sendiri.


"Ya tuhan, segaya inikah aku dulu itu?" tawanya hingga mengundang perhatian pengunjung di sana.


Tiba-tiba saja ...


Dor!


"Allahuakbar, jantungku ..." Indri tertawa terbahak-bahak saat melihat teman SMP-nya terkejut.

__ADS_1


"Kaget, ya?" kekehnya.


Rena memutar bola matanya malas, "ada apa memanggilku?" tanyanya to the poin.


Indri mendapatkan respon seperti itu memasang wajah cemberut, "ih, Rena! Aku, tuh, kangen sama kamu, lho! Kamu, tuh, sibuk terus. Sekali-kali, kek, libur dari kerjaan. Terus jelong-jelong sama aku," ucapnya sambil mengedip-edipkan matanya.


Rena menghela napas berat, "benarkah? Aku baru sadar malahan, Ndri. Kalau aku sekarang sibuk," jawabku padanya.


Indri mengerti perasaan Rena. Dia juga sudah mengetahui kisah cintanya terhadap Eza tersebut. Baginya, keputusan Rena tidak salah. Seorang wanita memang berhak mengatakan itu. Tetapi banyak dari wanita tidak sanggup melakukannya, jujur saja Indri salut dengan teman SMP-nya ini.


Yang terang-terangan meminta prianya itu pergi dari kehidupannya. Tidak seperti dirinya, yang masih bersama dengan kekasihnya—yang mungkin sudah letih bersamanya.


"Kamu merindukannya, Ren?" tanyanya hati-hati.


Rena mengangguk pelan. "jujur, ya, Ndri. Aku berusaha untuk menetralkan hatiku dan pikiranku. Tetapi ... ujungnya tetap saja aku mengingatnya. Kamu masih ingat dengan pria yang kutemui di pinggir jalan itu? Indri mengangguk. "nah, aku seperti ... ingin membuka hatiku padanya, namun susah, Ndri," ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


Indri melihatnya jadi ikut merasa sedih, "tahu, tidak apa yang lebih membuatku tidak bisa membuka hatiku padanya?" Indri menggeleng pelan, "saat aku ingin membuka hatiku, bayangan wajahnya muncul di bola mataku sendiri, Ndri." Indri mendengarnya menjadi bingung.


Sedalam inikah cintanya pada pria itu? Indri memang belum pernah melihat wajah dari pria itu, berbeda dengan Oki Tanesa—teman semasa SMA-nya. Oki sudah melihat wajahnya, bahkan dia juga pernah se-SMP dengan pria itu.


"Ren. Maaf sebelumnya, aku memang tidak tahu, seperti apa rasanya itu. Aku juga tidak tahu, seperti apa cinta itu, tetapi yang jelas, aku yakin, kalau Leon kembali padamu," ucapnya menenangkan Rena.


Rena mengangkat wajahnya dengan tatapan sendu. Indri tersenyum tipis melihatnya, "jika dikatakan jujur, ya, Ren. Akü iri dengan kisah cintamu. Mengapa aku bisa iri? Yah ... karena pria yang kini sedang menjalin dengan hubunganku, dia tidak seperti pria yang mencintaimu. Iya ... aku tidak bermaksud membandingkannya dengan pria yang mencintaimu itu, sih, tetapi 'kan, Ren. Pria yang tulus, dan sangat tulus mencintai seorang wanita, dia tidak akan pernah melepaskannya, pengecualian takdir," nasihatnya.


Namun saat Rena mendengar kalimat akhirnya, yaitu pengecualian takdir, membuatnya bungkam. Dia menjadi membisu saat mendengar dua kalimat yang disampaikan oleh temannya itu.


Yang dikatakan temannya benar. Tidak akan ada sesuatu yang benar-benar bisa bersama, jika tidak kehendak dari tuhan. Namun ... kini yang membuatnya tersadar adalah dia sedang membuat keputusan tanpa menunggu dari-Nya.

__ADS_1


"Indri?" panggilnya pelan. "iya, Ren?" sahutnya sambil menyedot jus tomat yang sudah dipesankan oleh Rena tadi.


"Apa benar cinta itu buta?" Indri langsung menatapnya dengan senyuman. "iya, Ren. Cinta itu buta, apa lagi jika cintanya benar-benar berasal dari lubuk hati paling dalam. Percayalah ... sekuat apa pun takdir memisahkan, mereka akan tetap bersama.


__ADS_2