Haruskah Rasa Dikuburkan (?)

Haruskah Rasa Dikuburkan (?)
Bab 4


__ADS_3

Sekarang mereka berdua berada di kantin. Usai pelajaran selama satu jam yang penuh dengan mencatat. Mereka memutuskan untuk ke kantin untuk mengistirahatkan otak mereka. Eza dan Fatih sama-sama memiliki kesukaan, yaitu mencatat. Dibandingkan mendengarkan yang diterangkan oleh dosen, mereka lebih suka mencatat.


Karena bagi mereka, mencatat itu membuat tangan bergerak. Tidak hanya tangan saja yang bergerak, tetapi organ tubuh lainnya juga bergerak, seperti mata, telinga, dan tubuh.


Mengapa? Karena semua anggota tubuh yang mereka maksudkan, dapat membuat tubuh berolahraga walau hanya duduk di tempat saja. Lihatlah mereka, yang masih asyik mencatat di buku polos miliknya masing-masing.


Padahal mereka berada di kantin, namun pedulikah mereka dengan keadaan kantin yang begitu ramai dan sangat berisik? Sama sekali tidak mereka pedulikan.


"Fatih, nitip pesanan?" tanya Eza yang menghentikan menulisnya sambil menatap Fatih yang juga berhenti menulis.


"Boleh, deh. Aku nitip makanan ... kebab full daging, ya. Airnya cukup air mineral," pesannya pada Eza yang mengangguk pelan.


Eza pun meninggalkan Fatih sendirian di meja yang mereka duduki. Tak sengaja, mata Fatih menangkap buku polos Eza yang masih terbuka lebar, tanpa ada benda yang menutupinya, hanya sebuah pena saja yang menghalanginya.


Penasaran? Tentu! Fatih sangat penasaran apa yang temannya tulis, sehingga tak berhenti-henti dari tadi. Dia pun berdiri dan melihat isinya yang membuatnya bungkam, namun tak sedikit lama, dia tersenyum tipis saat melihat serta membacanya



"Sebegitu cintanya dia kepada wanita ini. Aku jadi penasaran seperti apa wanita ini. Apakah dia cantik ataukah sangat cantik? Sehingga Eza tidak mau membuka hati untuk wanita mana pun selain wanita ini.


"Hei, kamu, wanitanya Eza. Kamu benar-benar beruntung, apakah kamu tahu itu? Kamu berhasil membuat temanku tergila-gila padamu. Semoga suatu hari nanti, kita bisa bertemu, Wanitanya Eza," lanjutnya.


Tak lama kemudian, dia kembali duduk, dan melanjutkan mencatat apa yang dia lihat di buku perpustakaan yang dia ambil bersama Eza.

__ADS_1


***


Mereka pun sudah menghabiskan makanan sekitar sepuluh menit yang lalu. Kini, mereka memutuskan untuk kembali ke kelas. Entah apa yang dipikirkan oleh Eza. Dia diam saja, tidak ada suara apa pun yang keluar dari bibir tebalnya.


Fatih yang melihat keadaan temannya seperti itu, kadang dia kasihan. Dia juga penasaran, mengapa cinta SMA mereka kandas begitu saja? Apakah ada orang ketiga ataukah salah satu dari mereka selingkuh?


Namun dilihat-lihat dari kelakuan Eza, tidak ada membahas wanita ataupun pria lain di buku polosnya tadi. Apakah jangan-jangan ... wanita itu yang memutuskannya? Tetapi, mengapa?


Ingin sekali dia tanyakan padanya, namun dia urungkan. Takut melanggar aturan hidup temannya. Tepat sekali! Sesaat dia melihat Eza di London di pinggir jalan, di situlah dia ingin berkenalan.


Namun saat itu, Eza menolaknya. Tetapi tidak membuatnya menyerah, dia terus menganggu Eza, dan dia berhasil mendapatkan perhatian dari Eza itu. Tetapi, dia tidak bisa mendapatkan hatinya.


Karena hatinya penuh dengan wanita itu. Jika diingat-ingat kembali tentang pertemuan pertama kalinya dengan Eza membuatnya terkekeh pelan. Eza yang mendengarkannya, jadi bergidik ngeri.


Sebuah pena dia pukul perlahan di pundaknya, Fatih langsung menoleh ke arahnya. Eza menaikkan alisnya sebelah untuk bertanya, 'ada apa?' sampai-sampai dia terkekeh dan itu membuatnya aneh.


***


Kini nampaklah seorang gadis mengenakan kacamata sambil melihat-lihat yang di tangannya itu. Dia terlihat fokus dan terkadang sambil terkekeh kecil. Hingga sampailah pintu kamarnya terbuka.


Dia melihatnya, tersenyum lebar, dan mengatakan, "ada apa, Bu? Apa Ibu membutuhkan bantuan Alifah?" tanyanya sambil menghampirinya.


Lilis menggeleng pelan dan menghampiri anak perempuannya sebelum dia tiba terlebih dahulu, "tak apa, Alifah. Ibu hanya ingin bertanya padamu. Apakah kamu sedang sibuk, Nak?" Lilis kembali menarik lengannya untuk mengajaknya duduk di pinggiran kasur.

__ADS_1


Alifah menggeleng pelan. "Sama sekali tidak sibuk, Bu. Alifah cuman baca novel, nih. Ibu, ibu mau bertanya soal apa?" Lilis menghela napas sejenak dan menatap dalam ke mata anaknya itu.


"Apakah kamu setuju jika Abang dijodohkan dengan Rena, Nak?" Alifah menatap dalam ke mata ibunya. Dia pun tersenyum lembut padanya.


"Tentu saja, Bu. Alifah sangat menyetujuinya, jika Abang dipasangkan dengan Kak Rena. Kak Rena itu wanita baik, Bu. Selama di SMA, Kak Rena sangat menjaga Abang, lho, Bu," terangnya yang membuat ibunya semakin yakin untuk menjodohkan putranya dengan Rena.


"Tetapi, Bu? Ibu tahu sendiri, bukan, kalau Kak Rena memutuskan Abang dari SMA? Mungkinkah Kak Rena mau menerima perjodohannya, Bu?" Ibunya kembali tersenyum menanggapinya.


"Alifah, Rena masih mencintai abangmu, percayalah pada ibu," jawabnya yang membuat Alifah bingung.


Dia bisa mengerti wajah kebingungan dari putri satu-satunya itu, "jika memang Rena tidak mencintai abangmu lagi, lalu mengapa sampai sekarang dia masih sendiri dan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya dibandingkan mencari pengganti abangmu, hm?" Alifah terhenyak mendengar penuturan ibunya.


Benar saja, yang dikatakan ibunya. Kak Rena masih mencintai abangnya, tetapi mengapa Kak Rena memutuskan hubungannya dengan abangnya? Dia tidak mendapatkan jawabannya dari abangnya, karena abangnya masih berdiam diri menahannya sendiri saja.


Lilis menghela napas, "ibu sangat ingin putra ibu berjodoh dengan wanita itu. Ibu akan menyatukan mereka, bagaimanapun caranya akan ibu lakukan agar mereka bisa bersama sampai maut memisahkannya," tegasnya.


"Ibu? Bukankah jodoh tidak bisa dipaksakan?" tanya Alifah yang membuat ibunya menoleh ke samping.


"Benar sekali. Namun, jika mereka saling mencintai, tak mungkin, bukan, jika Allah memisahkannya begitu saja? Walau ada kemungkinan tidak bisa bersama, tetapi jika Allah berkehendak, siapa yang berani melawan kekuasaan-Nya?" jawaban dari ibunya membuat Alifah tercengang.


Lilis menatap lurus ke depannya, "asal kamu tahu, Nak. Kisah cinta abangmu sama seperti kisah ibu zaman dulu bersama ayah kalian." Alifah membulatkan matanya. Bagaimana bisa?


Alifah pun menarik lengan ibunya untuk menatapnya langsung dan memintanya untuk menceritakannya. Lilis tersenyum dan mengusap kepalanya perlahan.

__ADS_1


"Dulu, ayahmu sangat mencintai ibu, lalu ibu pun seperti Rena yang memutuskannya terlebih dahulu, karena bagi ibu, kami berdua tidak bisa bersama. Kasta ibu dan ayahmu, tempat kelahiran ibu dan ayahmu, latar belakang ibu dan ayahmu, jauh sangat berbeda, Nak. Oleh karenanya, ibu meminta ayahmu pergi dari kehidupan ibu. Sekitar ... lima tahun, ibu memutuskan untuk pergi ke suatu tempat, dan berharap menemukan seseorang yang lebih baik dari ayahmu, dan lagi pastinya sama dengan ibu," ucapnya sambil menghela napas.


"Namun ... apa yang ibu dapatkan setelah menempati tempat itu berbulan-bulan? Nyatanya ... ibu kembali lagi bertemu dengan ayah kalian."


__ADS_2