
Tiga hari setelah kejadian malam itu, jantungnya benar-benar tidak bisa dikendalikan. Apakah dia sebagai wanita harus bahagia? Apakah dia sebagai wanita harus bersorak-sorai? Ataukah dia harus melakukan apa yang diminta ibunya?
Apa maksud ibunya? Apakah ibunya masih mengharapkan kalau dirinya masih bersama Eza? Apa ibunya tidak tahu, kalau hubungan mereka sudah kandas semenjak kelulusan SMA itu?
Tidak mungkin, bukan, Eza tidak menjelaskan atau memberitahukan apa pun kepada kedua orang tuanya? Dia benar-benar pusing dengan permasalahan itu. Dia tidak menyangka, jika ibunya mengatakan itu kepadanya (?)
Secara gamblang (?) Ya Allah!
"Astagfirullah Al Adzim, apa ini, ya Allah? Mengapa engkau uji hamba seperti ini? Hamba benar-benar tidak memahami ini semua," keluhnya.
Tok. Tok. Tok.
Rena menghela napas, "siapa coba datang malam-malam begini, tidak bisakah aku beristirahat sejenak?" kesalnya.
Padahal dia di dalam rumah selama tiga hari. Tidak ada keluar rumah sekalipun, bahkan menginjakkan kaki ke teras rumah saja, tidak dia lakukan. Otaknya benar-benar terisi oleh Eza saja.
Benaknya pun masih saja teringat dengan kenangan-kenangan bersamanya.
Dia pun keluar dari kamar dengan melangkah gontai menuju pintu rumahnya. Setelah dibuka pintu tersebut, dia menatap nanar kepada adik tertuanya, yaitu Alif Lazuardi.
Alif ditatap seperti itu langsung kaget, "kenapa, A? Kenapa Aa jadi lesu, begini? Ada masalah apa, A? Bilang sama Alif, A," tanyanya panik.
Tidak ada tanggapan apa-apa dari Rena. Alif ditambah khawatir dan sekaligus bingung. Tidak ingin ambil pusing, dia pun memasuki rumah Rena dan mengajak Rena untuk duduk di kursi sofanya. Tak lupa mengunci pintu rumahnya.
Alif menuju dapur untuk mengambilkan air putih dan memberikannya kepada Rena. Rena mengambilnya saja, tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun. Alif menghela napas berat. Apakah Aa-nya saat ini sedang memikirkan pria itu lagi?
Benarkah cinta itu indah? Jika memang cinta itu indah, tidak mungkin Aa-nya seperti ini, bukan? Alif mengusap wajahnya kasar. Dia bingung harus melakukan apa di saat Aa-nya seperti ini.
__ADS_1
"Alif, Aa mau bersandar di bahu kamu, boleh?" ucapnya serak. Alif langsung menoleh ke samping dan mengangguk pelan.
"Aa, lagi memikirkannya, ya?" tebaknya dan merasa bahunya bergerak, berarti yang dia tebak benar.
"Kenapa, hm? Apa ... dia menghubungi Aa?" Rena menggeleng pelan.
"Lalu, A? Ada apa, A? Enggak mungkin dong, Aa memikirkannya tanpa alasan jelas 'kan, A?" Rena menghela napas berat.
Dia pun memperbaiki posisinya menjadi tegap. Dia pun menghadap Alif. Alif melihat seperti itu, dia pun juga memperbaiki posisinya menghadap Rena. Rena menarik napas panjang dan menceritakan semuanya tanpa dipotong sedikitpun olehnya.
Alif mendengarkan seksama. Kadang dia mengangguk-anggukkan kepalanya dan mengikuti Aa-nya yang menghela napas panjang. Usai Rena cerita, dia pun menyandarkan kepalanya ke pinggiran sofa berwarna cokelat tersebut.
"Bisa-bisanya, ya, emaknya bilang gitu sama Aa? Apa jangan-jangan ... ibunya menginginkan Aa jadi menantunya?" Rena menatap tajam ke arahnya.
"Ngaco kamu, tuh, Alif. Memangnya apa yang patut dibanggakan sama Aa, huh? Tidak ada, Alif, tidak ada satupun," terangnya.
"Nih, lihat telapak tangan Aa sekarang?" tunjuknya ke arahnya. "dulu, saat Alif menyentuh telapak ini, rasanya sangat-sangat halus. Namun, sekarang? Telapak ini kasar, A. Aa tahu apa maksud Alif?" Rena menggeleng polos.
Alif mencubit kedua pipinya gemas yang membuat Rena mendelik tajam ke arahnya. "itu pertanda Aa adalah seorang wanita pekerja keras, paham?" Rena mengedikkan kedua bahunya acuh.
***
Seberkas sinar matahari mulai menerangi sebuah kamar bernuansa biru muda. Di bawah selimut terdapatlah seorang pria yang masih terlelap dengan keadaan tengkurap. Tidak ada komentar apa pun di saat dia terlelap seperti itu.
Namun tak lama kemudian, suara getar dari ponselnya membuatnya terusik. Mau tak mau, dia mengangkatnya dengan kasar.
"Halo, halo, Za? Ini aku, Fatih. Kamu di mana?" tanyanya di seberang sana dengan suara lebih keras. Karena suara-suara dari teman-teman sekelasnya, sangat menganggu suaranya.
__ADS_1
^^^[Hm, aku masih dalam selimut. Kenapa?] ucapnya yang sambil memejamkan matanya, tanpa peduli dengan lainnya.^^^
Suara hembusan napas panjang dapat didengarnya, "bangun, Za. Waktunya kuliah. Jangan bermalas-malasan. Jika Rena mengetahuinya, matilah kamu," ucapnya dan ...
Tut. Tut. Tut.
Nama yang dipanggil 'Za' tadi mengerutkan keningnya. Apa hubungannya dengan wanita itu? Dia saja tidak pernah lagi meneleponnya. Jangankan menelponnya, apakah dia di Indonesia sana mencari kabarnya? Dia terkekeh kecil.
Dia pun mendudukkan dirinya di kasur, perlahan dia membuka matanya, dan tak sengaja dia melihat Rena yang tengah tersenyum padanya. Dia terkejut, dia pun kembali membuka mata dan menutupnya kembali.
Dalam hitungan ketiga, dia mulai membuka matanya kembali. Apa yang sekarang dia lihat? Dinding. Dia menghela napas berat. Tak ingin membuat temannya menunggu di kelas, dia langsung saja ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
Lima belas menit kemudian, dia siap. Dia pun menuruni anak tangga. Karena dia di apartemen sendirian saja. Jadi dia membeli makanan di luar saja, mudah 'kan? Dia sangat jarang memakan makanan di rumah.
Kebiasaannya hanya makan di luar dan siap saji. Kadang jika dia ketahuan seperti itu, dia diomeli, namun dia tetap mengulanginya lagi. Entahlah, selama Rena tidak ada di sampingnya. Dia terlihat kacau. Baik dari luar maupun di dalam.
Apakah dia tidak berniat untuk mengganti posisi Rena dengan wanita lain? Dia bukan tipe yang mudah membuka hati. Sekali dia membuka hati, ya ... dia perjuangkan hati itu sampai benar-benar bisa hidup bersama dengan orang yang dia cintai.
Kini, dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak ingin terburu-buru dan tak ingin tergesa-gesa, dia ingin menikmati perjalanannya dengan tenang. Walau hati dan pikirannya, sangatlah tidak tenang.
Sekitar setengah jam, tibalah dia di kampus terkenal di London. Dia pun segera menelepon temannya itu dan memintanya untuk menghampirinya di parkiran kuliah. Mendapatkan perintah untuk ke sana, temannya itu pun buru-buru menemuinya.
Sambil menunggu kedatangan temannya, dia menatap langit biru yang cerah. Kebetulan di London memasuki musim panas, jadinya cuaca sangatlah terik jika dilihat oleh mata telanjang. Tetapi tidak mempengaruhi kepadanya, karena baginya ini nyaman.
Apakah ada kenangan terindah di musim panas, sehingga dia menyukai musim panas di London? Entahlah.
"Eza!" teriak seorang pria yang menghampirinya dengan napas ngos-ngosan.
__ADS_1
Ya, dia adalah Ananda Fahreza Leon dan pria yang menghampirinya itu adalah Fatih Akbar.