
Rena menghela napas panjang, "apa yang dikatakan Indri benar? Jika benar, mengapa banyak yang saling mencintai terpisah pada akhirnya? Lalu mengapa yang tidak saling mencintai, malah hidup bersama sampai nyawanya tidak ada?" monolognya
"Itulah takdir namanya, Rena," pukas Fadlan dan menoleh ke arahnya. "hei, kamu?" kikuk dan membuatnya berhasil tersenyum tipis.
"Lagian siang-siang begini, malah memikirkan soal cinta. Mending pikirin daganganmu ini, Rena," tunjuknya ke arah toko roti panggang yang sudah berhasil didirikan oleh Rena dua tahun yang lalu.
Rena tersenyum, "bukan begitu, kok. Ah, iya, ada apa ke sini, Lan?" Fadlan hanya menggeleng pelan melihat tingkah gemas dari Rena.
"Biasalah. Aku mau beli roti pangganglah, apa lagi?" Lagi, lagi, Rena dibuatnya kikuk. Sepertinya alam sadar Rena dipenuhi oleh Eza sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangan Fadlan dan apa yang jadi keinginan Fadlan ke tokonya itu.
"Ah, maafkan aku. Konsentrasiku pecah," sesalnya.
"No problem, Rena. Buatkan saja sekarang. Aku akan menunggunya." Rena mengangguk secepatnya.
"Rasanya mau ditambahin dengan rasa lain, Lan?" Fadlan menatap dibalik kaca yang di sana sudah ada beberapa rasa lain dan diangguki Fadlan, "rasa apa, ya?" Rena mengerutkan keningnya.
"Rasa ... rasa cappucino saja, deh, Ren." Rena pun langsung memulai pembuatan roti panggangnya, tak perlu berlama-lama. Roti panggangnya siap.
"Ini, Lan. Tumben rasanya ditambah, Lan?" sela Rena penasaran.
"Iya, nih, Rena, soalnya sepupuku dari kampung mau datang. Jadi kata mama, sediain roti panggang saja, simple, dan pastinya enak. Apa lagi kalau kamu membuatnya," ucapnya sambil menggoda Rena.
Rena menggeleng-geleng tidak percaya. Kalau Fadlan berani menggodanya, "kamu!" gertak Rena. Kedua lengannya dikibas-kibaskan ke langit.
"Sorry, Ren. Yasudah, aku pulang dulu. Dah, ingat! Jangan ngelamun, nanti dagangannya dicuri lagi," kekehnya.
Rena mengangguk malas. Dia sangat berbanding terbalik dengan Leon, baginya. Fadlan Ayatama memiliki sikap humoris tinggi kepada siapa saja, berbeda dengan Ananda Fahreza Leon, dia memiliki sikap humoris itu juga. Hanya saja, ke orang dia kenal. Tidak ke semua orang.
"Lho, lho, kenapa aku jadi membandingkan mereka berdua?" pikirnya.
__ADS_1
Dia lelah. Entah mengapa, dia lelah menghadapinya sendiri. Dia butuh pria itu di sampingnya. Tetapi, apa yang bisa dia lakukan? Dia pun juga tidak tahu, bagaimana dengan Leon sekarang?
Apakah Leon masih ingin mengejar-ngejarnya? Ataukah Leon sudah memiliki kekasih lain, parahnya mungkinkah Leon sekarang sudah mempunyai istri dan anak?
Astagfirullah Al Adzim, Rena mengusap dadanya dan beristighfar. Mengapa otaknya jadi berpikir tidak-tidak? Bukankah yang dikatakan Indri sudah nyata? Dia jadi bingung dan bimbang.
Apakah dia harus merubah dirinya menjadi lebih baik lagi (?) Rena mengangguk tipis, sepertinya dia harus merubah dirinya dan tampilannya. Bukan sekedar karena Leon, melainkan dia ingin mendapatkan pasangan sholeh untuknya dan anak-anaknya nanti.
"permisi, Mbak? Totalnya berapa, ya?" Rena menoleh dan mendapati pembelinya. Dia pun mulai menghitung yang dipesan pembelinya, dan mengatakan harganya.
Lalu kebetulan, pembelinya memberikan uang pas, dia pun berterima kasih. Pembelinya pun pergi, "alhamdulilah. Thank u, God," monolognya.
Tak selang berapa lama, salah satu adiknya Rena datang ke toko rotinya, dan menghampirinya, "ehem!" sapanya yang membuatnya terkejut bukan main.
Dia pun menoleh ke belakang sambil menatap horor pada adiknya itu. Adiknya hanya mengedipkan sebelah matanya, "ish, ish, Aa mikirin apa, hayo? Jadi Aa, terkejut saat aku berdehem. Lagi mikirin Abang Eza, ya?" godanya, dan apa yang diucapkannya benar sekali.
"Ada urusan apa ke sini, Ali?" tanyanya mengalihkan topik. Ali melepaskan tasnya, dan duduk menempati kursi yang baru saja Aa-nya duduki, "enggak, A. Ali capek, habis pulang dari sekolah. Boleh enggak Ali minta minuman, A?" Rena mengangguk, "sebentar. Aa buatkan, ya." Ali mengangguk semangat.
"A? Aa jualannya sampai pukul berapa?" tanya Ali yang sedang menaruh gelasnya ke meja.
"Tergantung, Li. Kalau rotinya sudah habis. Aa tutup tokonya. Kenapa memangnya, Li?" Ali menatap serius ke saudari tertuanya itu.
Rena yang ditatapnya seperti itu, menelan ludah takut-takut. "apa, sih, Li!" ketusnya. Ali hanya memutar bola mata jengah, "jangan mikir aneh-aneh, A. Ali cuman mau bilang, boleh enggak kalau Ali kerja time, A? Kerja separuh waktu gitu, A, boleh? Lagian, nih, ya, A, Ali bosan di rumah, mana Bang Alif kadang minta uang sama Ali, Aa." Rena mengernyitkan dahinya heran.
"Lho? Ayah tidak kasih uang sama kalian?" Ali menjawabnya, "Kasih, kok, A."
"Lha, terus, kok, Alif masih minta uang sama kamu?" tanyanya bingung.
"Haduh, A. Mana Ali tahu. Lagian Ayah kasih uang ke kami cuman sepuluh ribu doang, A. Kadang Ayah kasih uang lima ribu doang. Aa 'kan sudah pernah sekolah seperti kami. Aa tahulah permasalahan kami apa sekarang ini," adunya dan hal itu membuat Rena kasihan.
__ADS_1
Dia tidak habis pikir dengan ayahnya itu. Mengapa begitu pelit sekali dengan uangnya, padahal Rena juga memberikan uang per-bulan sebesar dua juta. Walau sedikit saja yang bisa dia berikan kepada kedua orang tuanya, namun itu murni dari keringatnya sendiri. Tidak dari otaknya saja.
Rena tersenyum manis, "baiklah, kamu bisa bekerja paruh waktu di sini." Ali tersenyum lebar.
Rena pun mengambil dua lembar uang untuk adiknya itu. "nih, Aa kasih uang seratus ribu. Nanti suruh Alif ke sini, ya?" pinta Rena yang diangguki Ali.
"Wah, banyak banget, A! Terima kasih banyak, A. Ali sayang Aa," peluknya yang disambut dengan hangat oleh Rena sendiri.
"Iya, Aa juga sayang sama Ali. Belajar yang rajin, ya, jangan nakal, oke?"
"Oke, A. Mulai kapan, nih, Ali bisa kerjanya, A?" tanya Ali yang sudah tidak sabaran.
"Eum ... mulai besok juga bisa, Li." Ali mengangguk semangat.
"Besok lepas dari pulang sekolah, Ali langsung ke sini, ya, A." Rena mengangguk sekilas.
***
Tak terasa siang berganti sore, lalu sore berganti malam. Rena pun siap-siap menutup tokonya. Sebelumnya, sorot mata Rena tak sengaja menatap gadis muda bersama ibunya.
Rena tak asing dengan kedua orang tersebut. Namun Rena, tak ingin mempedulikannya. Karena itu bukan keharusan darinya.
Tetapi siapa sangka, kalau mereka berdua menyapanya.
"Selamat malam, Kak Rena," sapanya.
Rena mendongak, "eh? Selamat malam, Alifah." Tepat sekali, dia adalah adik dari Eza dan ibunya Eza.
"Nak Rena, apa kabar?" tanya ibunya Eza. Seingatnya, namanya itu Lilis Tahyani.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Bu, Rena baik. Kalau ibu sama Alifah, gimana?"
"Alhamdulillah baik juga, Nak Rena. Oh, ya, nanti Eza kembali lagi ke sini. Jangan lupa sambutannya, ya," ucapnya yang berhasil membuat jantungku berdetak kencang