Haruskah Rasa Dikuburkan (?)

Haruskah Rasa Dikuburkan (?)
Bab 5


__ADS_3

"Apa benar cinta itu ... sebelas per dua belas dengan kisah cinta orang tua sendiri?"


"Masa, sih? Aku enggak bisa berpikir jelas soal ini. Bagaimana bisa dan bagaimana mungkin (?) ... huh!" Alifah menghembuskan napas pelan. Dia pun membaringkan tubuhnya di kasurnya.


Dia masih tidak paham apa yang dimaksud oleh ibunya. Secara logika, bisa saja kejadian lampau terulang ke zaman sekarang. Namun ... bukankah itu terlalu dramatis? Memikirkan yang berulang-ulang membuat kepalanya pening.


Alifah memutuskan untuk mengambil ponsel di atas meja samping kasurnya, dia pun membuka aplikasi WhatsApp. Tak sengaja dia melihat kontak Eza, yaitu abangnya. Dia menekan foto profilnya dan foto profilnya itu adalah abangnya sendiri.


Dengan posisi berdiri, bersandar di pilar kampusnya (?) Mengenakan kacamata, di bahu kanannya ada tas ranselnya, lalu telapak tangannya ditaruh di saku celana jeans.


Dia memperhatikan pose abangnya dan mendekatkan pupil matanya ke foto itu, dia tersenyum seraya berkata, "ganteng bat abangku," kekehnya.


Tiba-tiba saja ...


Drt. Drt. Drt.


"Eh, buset? Abang langsung menelpon dong," girangnya. Dia mengangkatnya seraya berkata, "halo?"


^^^[Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, Adek?]^^^


"Wa'alaikummusallam warahmatullahi wabarakaatuh, iya, Abang?"


^^^[Dek ... ] terdengar napasnya pelan. Alifah tersenyum, pasti abangnya sedang tidak baik-baik saja saat ini.^^^


"Kenapa, hm? Ada masalah, ya?" tebaknya terkekeh.


^^^[Disebut masalah, sih, tidak. Abang-nya saja yang tidak habis pikir, kenapa selalu memikirkannya.} Alifah mendengarnya, jadi tersenyum tipis.^^^


"Sudah, tak apa. Abang 'kan masih ada rasa, makanya gitu. Coba aja Abang enggak ada rasa sama Kak Rena. Abang enggak mungkin begini 'kan?"


Eza menghela napas berat. Dia sama sekali tidak bisa menghilangkan rasanya, walau dia coba, berarti dia sama sekali melupakan janjinya kepada Rena. Tetapi terkadang, dia hanya ingin bisa melihat Rena secara langsung.


Yah ... bisa dikatakan, dia sedang merindukannya (?)


^^^[Minggu depan, Abang ke sana, Dek. Ayah sama Ibu, bagaimana? Sehat? Kamu sendiri, Dek? Kok, kamu tidak sekolah?]^^^


"Oh, ya?! Wah! Ibu pasti senang, nih. Alhamdulillah, Abang, kami semua sehat. Abang juga gimana? Alifah enggak sekolah, Bang, karena libur."


^^^[Kok, libur? Dalam agenda kegiatan apa, jadi diliburkan sekolah di sana, Dek?]^^^

__ADS_1


Alifah tertawa geli mendengar penuturan Abangnya.


"Biasalah. Kakak kelas kami mengadakan imunisasi," kekehnya.


^^^[Hah? Sejak kapan ada imunisasi kayak kalian, Dek?]^^^


Alifah menggeleng cepat, "ish! Maksudnya itu ... kek apa, sih, namanya? Alifah lupa, Bang," ucapnya mendramatisir.


Hembusan napas panjang dia dengar dari seberang sana. Alifah, namanya. Dia sangat mudah lupa dengan apa pun. Namun, dia tidak mudah lupa tentang yang menyakitinya.


Cukup lama terdiam, Alifah berhembus pelan, "abang? Dua hari yang lalu, Alifah sama Ibu, ketemu sama Kak Rena," tuturnya.


Tak ada sahutan, sepertinya abanganya memintanya untuk melanjutkan pembicaraannya.


"Setelahnya, kami saling sapa dan menanyakan kabar. Apa Abang tahu? Kak Rena kini sangat cantik dan anggun, lho, Bang. Sebelumnya kalau enggak salah, ya, Bang. Alifah ada lihat satu pelanggan yang sepertinya dekat dengan Kak Rena, Bang."


^^^[Cowok?]^^^


Alifah terkekeh geli mendengar suara abangnya yang langsung menyambar bagaikan ikan koi yang kelaparan di kolamnya.


"Ha'ah, Bang, cowok. Alifah enggak bisa lihat secara dekat, sih. Karena posisi Alifah itu ... di seberang sini. Sedangkan toko Kak Rena 'kan di seberang sana."


"Yep!"


^^^[Wah! Ternyata salah satu impiannya terwujud, ya]^^^


Terdengar suara Eza yang mulai antusias, saat mendengar bahwa Rena memiliki toko sendiri. Sepertinya, abangnya benar-benar sangat mencintainya, bahkan sangat tulus, pikirnya.


Lalu percakapan random pun, mulai dilakukan oleh mereka. Hingga Alifah terlelap tanpa memutuskan teleponnya. Sedangkan Eza, sudah bisa menebak bahwa adiknya itu terlelap tidur dengan keadaan tenang.


***


Hari menjelang sore. Rena memutuskan menginap di rumah orang tuanya. Dia merindukan rumah kecilnya, juga kamarnya. Apakah desain kamarnya masih seperti dulu? Apakah benda-benda di kamarnya masih seperti dulu susunannya?


Ah, dia benar-benar sudah tidak sabar untuk melihatnya. Karena dia ingin menambah polusi udara tanpa campuran asap dari knalpot motor dan mobil lainnya.


Maka dia menggunakan sepeda saja, hitung-hitung dia berolahraga. Sudah dua bulan rasanya, dia tidak berolahraga, hanya karena kerjaannya menumpuk.


Pastinya ... bukan pekerjaan yang berada di toko, melainkan pikirannya, kini telah menumpuk akan satu nama, yaitu Ananda Fahreza Leon.

__ADS_1


Dia tidak tahu, harus melakukan apa. Agar bisa melupakannya dengan mudah, dan menghilangkan rindu yang begitu dalam. Sampai terkadang ... dadanya menyesak, karena tangisannya begitu menyayat relung hatinya.


Drt. Drt. Drt.


^^^[Halo, Ali?]^^^


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, apa, Aa?"


^^^[Wa'alaikummusallam warahmatullahi wabarakaatuh. Aa akan ke rumah. Pinta Alif jangan ke mana-mana, ya.]^^^


"Oke, A. Hati-hati di jalan, ya."


^^^[Siap!]^^^


Tut. Tut. Tut.


Selesai menelponnya, dia pun mulai mengayuh sepedanya. Benar-benar menguras tenaganya. Karena dia sudah hampir dua bulanan tidak bersepeda.


"Tak apa. Tubuh ini harus diberi pelajaran, biar dia ingat bahwa tubuhnya perlu keringat," monolognya bercampur kekehan.


***


Tak perlu lama, Rena tiba di rumahnya yang sederhana dan warna dinding yang tidak mencolok. Rumahnya tidak besar, berukuran sedang yang muat untuk lima anggota keluarga, sepertinya itu.


Rena menaruh sepedanya di samping rumahnya. Lalu, dia berjalan menuju rumah. Sebelum itu, dia mengetuk pintu rumah, dan terbukalah pintu rumah selebar-lebarnya, dengan disambut kedua adik-adiknya itu.


Rena melihatnya tersenyum. Hanya kedua adiknya saja, yang menyambutnya. Bagaimana dengan orang tuanya? Apakah mereka menyambut kehadirannya? Tentu saja, tidak, tuk jawabannya.


Namun Rena tak mempermasalahkannya, karena dia sudah terbiasa dengan kelakuan orang tuanya yang berbeda dari orang tua lainnya. Padahal Rena adalah anak kandung mereka, anak tertua dari lainnya.


Namun, lihat? Dia diperlakukan layaknya anak tiri yang tidak dibutuhkan kehadirannya. Alif dan Ali memintanya masuk. Maka Rena pun memasuki rumahnya, lalu Alif menutup pintu rumahnya. Sedangkan Ali, dia berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman dingin untuk kakaknya itu.


Rena duduk di sofa yang dia belikan di tahun lalu. Itu hasil keringatnya sendiri, dengan susah payahnya dia mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk membanggakan kedua orang tuanya dan adik-adiknya.


Namun ... dia tak mendapatkannya. Dia hanya mendapatkannya dari kedua adiknya saja. Sedangkan orang tuanya sendiri? Sama sekali tidak didapatkannya.


"Baru ingat dengan rumah, ya?" Pintu kamar dekat dapur terbuka lebar menampakkan seorang wanita paruh baya yang menampilkan wajah datar.


Rena melihat itu beranjak dari sofa dan menghampirinya. Dia mengambil lengan ibunya untuk menyalaminya, namun segera ditepis ibunya dengan kasar.

__ADS_1


"**C**ih! Anak tidak tahu diri." Ibunya pun berlalu ke dapur. Rena tersenyum getir.


__ADS_2