
Rena Kenzura Diana, aku memiliki nama panjang, namun aku berharap kisah cintaku tak sepanjang seperti namaku ini. Berharap, sih, tetapi apa yang terjadi pada cintaku?
Aku hanya ingin kisah cintaku berbeda dari lainnya. Berbeda yang kumaksud adalah tidak seperti dunia per-novelan. Why? Ya ... siapa yang mau kisah cintanya seperti novel-novel? Yang berawal benci menjadi cinta. Yang menjadi kakak-adik menjadi saling jatuh cinta. Apa-apaan coba kisah cinta seperti itu?
Ya, memang benar juga rupanya kalau kisah cinta itu berbeda-beda, dan aku mendapatkan perbedaannya. Bukan dari yang kucintai, melainkan aku sendirilah yang membuatnya beda.
Ananda Fahreza Leon.
Tiga kalimat juga namanya, bukan? Aku tertawa hambar. Kami satu sekolah, dan dia ternyata adalah murid baru di sekolahku. Wajahnya tidak tampan, namun wajahnya terasa seperti gula? Ah, seperti aku pernah mencicipinya saja. Eugh! Jangan menggunakan otak kotor, ya, Sob!
Eza. Banyak yang memanggilnya dengan sebutan itu. Tetapi, tidak denganku. Yah ... aku memanggilnya dengan nama ujungnya, 'Leon' seperti pasaran, bukan?
Aku bukan wanita yang mudah berpikiran terbuka dan secepat kilat mendapatkan nama aneh, lucu, ataupun nama yang dapat empunya terkesima, pastinya aku tidak ingin otakku penuh dengan hal-hal tidak penting.
Namun sayangnya, pria itulah yang kini memenuhi otakku. Ya! Dia berhasil memasuki relung hatiku yang terdalam. Padahal dia tidak memperlakukanku selayaknya teman sekolah, tetapi dia memperlakukanku selayaknya ratu!
Ratu? Wanita mana yang tidak ingin diperlakukan selayaknya ratu? Kamu tidak menginginkannya? Mustahil! Namun ... aku yang mempersulit kisah cintaku sendiri. Entahlah ... apakah aku meragukannya? Tidak. Apakah aku merasa dia menipuku? Ah, tidak juga.
Hanya ... aku merasa mustahil jika bersamanya. Dalam segi kasta atau apa pun, dia tidak bisa bersamaku. Tetapi, bagaimana dengan takdir (?)
***
Pertama kalinya, aku melihatnya di perpustakaan sekolah. Saat itu, dia sedang mencari buku—i don't know and aku tidak mengurusnya. Karena saat itu, aku dipinta penjaga perpustakaan untuk merapikan buku-buku yang berserakan di bawah.
Bukan karenaku, ya! Tetapi itu semua gegara anak sekolahan yang sama sekali tidak bisa merapikannya hanya barang sedetik pun, paham? Jengkel? Jelaslah! Aku merapikannya sendirian saja.
Waktu itu ... teman sekelasku, Oki. Ya, Oki Tanesa. Dia gadis bar-bar, namun dia tidak seperti wanita lain yang mencari perhatian hanya untuk disegani oleh kaum adam. Mengapa aku menyebutnya seperti itu?
Cause dia adalah wanita multitalenta. Dia jago dalam hal apa pun. Tetapi satu yang dia tidak bisa, yaitu melupakan ... Frans Alzion. Who? Dia adalah teman sebangku dari Leon. Teman terdekatnya juga.
Sejak kapan Oki berhubungan dengan Frans? Sejak SMP. Ya! Mereka satu SMP dan satu SMA, namun mereka kini saling acuh, hanya karena ada kesalahpahaman, dan di antaranya tidak ada yang mau memperbaikinya.
Biasalah ... anak pertama sesama anak pertama, kalian tahu apa yang kumaksud, bukan? Eits! Merembet ke mana-mana, 'kan.
Lanjut tadi. Di saat Oki bilang padaku, kalau dia kebelet mau ke toilet. Jadi terpaksa dia tinggal, aku hanya mengiyakannya saja. Tetapi sampai bermenit-menit kemudian, bahkan berjam-jam lewat, dia belum datang juga.
__ADS_1
Dari situlah aku kesal dan jengkel padanya. Sampai-sampai aku mengatakan dalam hatiku, aku akan menghajarnya habis-habisan, biar dia kapok!
***
"Kalau capek, istirahat saja dulu. Biar aku saja yang membereskannya," ucapnya sambil meletakkan buku-buku sesuai dengan nama dan rak-nya.
"Iya, terima kasih," jawabku yang mulai mencari tempat untuk meluruskan pinggang dan kakiku yang terasa pegal-pegal.
Tidak usah berpikir macam-macam! Lagi pula kalian pun dapat menebaknya siapa pria itu, Ananda Fahreza Leon. Pria yang tergila-gila atau benar-benar mencintaiku (?)
"Kita sekelas, bukan?" tanyanya yang memecah keheningan dan bisa jadi mengambil kesempatan untuk mengenaliku (?)
"Maaf?" Dia terkekeh. "aku pernah melihatmu di pinggir jalan depan sana." Aku terperangah, ketika mendengar lontaran akhirnya.
"Hah? Demi apa?" jawabku setengah terkejut.
"Demi kamu," kekehnya. Aku pun memasang wajah datar, dan tak berselang lama, dia menyelesaikan pekerjaanku. Aku melihatnya sangat puas—ah, tidak! Melainkan sangat-sangat puas.
"Thank u, Boy," ucapku tulus dan mulai beranjak dari tempat dudukku tadi. Sebelumnya, yah, aku membersihkan rokku dulu.
Secepat mungkin aku memalingkan wajahku. Lalu, jantungku mulai tidak baik. Buru-buru aku keluar dari perpustakaan dan menuju kelasku. Aku tidak peduli lagi dengan pria tadi.
Bisakah dari sana dikatakan bahwa aku ... mulai menyukainya (?)
***
Ah ... sekilas cuplikan masa lalu tentang remajaku, mengingatkannya. Ya ... anggap saja bahwa aku masih menginginkannya (?) Entahlah ... setelah kejadian itu, aku tidak tahu di mana dia sekarang.
Apakah dia masih di negara Indonesia atau luar negeri? Namun yang kudengar dari salah satu adikku, dia sekelas dengan adik Leon, bernama Alifah. Leon pergi ke London, setelah aku memintanya pergi.
Jika aku tidak memintanya pergi, kurasa dia tidak akan melanjutkan studinya. Karena kala itu, kami berdua akan lulusan dari SMA, dan mulai memasuki jenjang pendidikan tinggi, yaitu kuliah.
Aku kuliah mengambil jurusan psikologi sampai S2, setelahnya aku memutuskan berhenti. Aku melanjutkan pekerjaanku tidak seimbang, alias aku lebih memilih mengembangkan usaha kecil-kecilan, yaitu berdagang roti bakar, tepat di sebelah toko baju, dan toko buku.
Alhamdulillahlah, hasilnya memuaskanku, dan juga bisa memberikan uang kepada keluargaku, dan kedua adikku. Apakah aku membuka hati untuk orang baru? Boro-boro untuk membuka hati, melupakan Leon saja aku tak mampu.
__ADS_1
Apakah dia begitu spesial di hatiku? Tentu saja! Aku sangat sulit jatuh cinta, sekali jatuh cinta. Jangan harap, kubiarkan dia pergi. Tetapi di sini, aku malah memintanya pergi.
Kamu tahu 'kan seperti apa rasanya nyaman? Yang ke mana-mana selalu bersama? Yang di mana-mana dia ada, selalu menemani, bahkan mengukir kenangan agar bisa diceritakan di masa tua? Itulah yang kuinginkan.
Namun, bisakah semua itu kembali lagi (?)
***
Aku, wanita diam-diam yang masih mencintainya di kala aku merasa sendiri.
Aku, wanita diam-diam yang masih merindukannya di kala aku merasa sedih.
Aku, wanita diam-diam yang masih mengingatnya, kapanpun, dan di manapun, dia selalu ada di hatiku.
Hei, Leon.
Bagaimana kabarnya?
Apakah ada pengganti dari diriku?
Ha-ha-ha, maafkan aku, Leon.
Aku tidak bermaksud untuk melukai hatimu itu.
Anggap saja, aku memberimu tantangan, dan kuharap ... kamu bisa melakukannya (?)
Huh, Leon...
Sepi rasanya tanpa hadirnya dirimu.
Senyumanmu yang meneduhkan, masih kuingat.
Perhatian dan kasih sayangmu pun, masih terbayang di benakku.
Aku merindukanmu, Leon.
__ADS_1
~ Rena Kenzura Diana.