
Novelia, ya dia gadis sederhana yang selalu tampil apa adanya. Postur tubuhnya yang kecil dan cenderung kurus membuatnya selalu diperlakukan layaknya adik kecil oleh teman-temannya. Si cewek tomboy yang suka ngunyah permen karet. Tak ada kesan menarik dari dirinya, hanya kulit yang sedikit bersih di banding teman-temannya yang membuatnya sedikit enak dipandang.
"Vel, jangan cepat-cepat jalannya". Olivia berjalan cepat mengikuti Novelia.
Olivia adalah teman perempuan satu-satunya saat ini yang Novel punya karena rumah mereka yang sebelahan. Novel baru pindah kembali ke kota ini setelah 3 tahun tinggal bersama neneknya di kota kelahiran ibunya itu. Novelia tinggal bersama neneknya karena dia memilih tinggal bersama ibunya ketika orang tuanya bercerai. Sejak saat itu dia seperti enggan mendengar kata 'cerai'.Untung saja mimpi buruk itu sudah berakhir dan dia kembali memiliki keluarga utuh karena ayahnya memilih untuk kembali kepada keluarganya . Meskipun akhirnya Novel harus mengikhlaskan dirinya tinggal jauh dari orang tua karena tidak memungkinkan untuk pindah sekolah lagi. Ya itu sudah menjadi keputusan bersama agar Novel tak perlu lagi beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru lagi dikhawatirkan mengganggu konsentrasi belajarnya. Meskipun tomboy tapi otak Novel lumayan encer, itu kenapa banyak teman yang menempel padanya.
"Vel tahu gak disini tuh ada cowok manis lho yang lagi jadi perbincangan hangat cewek-cewek", Oliv berkata dengan antusias.
"Masa?emang dia siapa kok sampek sepopuler itu?artis?". Novel memutar bola matanya malas. Bukan dia tak tahu tentang hal ini tapi dia malas untuk membahasnya menurutnya sangat tidak penting.
"Ya bukan artis juga kale!!"
"Ya kalo gitu berarti gak penting", ucap Novel penuh penekanan.
"Dasar emak-emak penyuka infotainment".
"Biarin dari pada lo suka jelalatan liatin cowok-cowok gak jelas. Inget kita tuh baru SMP woy".
Novel berjalan setengah berlari sambil terus dikejar Oliv dan tanpa terasa 'bug' dia menabrak seseorang."Kamu gak apa-apa?"tanya seorang cowok sambil mengulurkan tangan ke arah Novelia. Dia yang tadinya kesel langsung dibuat bengong dengan senyumannya yang renyah.
"kok malah bengong?"tanyanya sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajah Novel.
"gak apa-apa".Novel tersenyum canggung^?
"Eh non kok senyum-senyum sendiri". Oliv memukul pundak Novel. Novel cuma nyengir kuda.
"Yaudah kalo kamu gak apa-apa aku pergi dulu", Riko berkata sambil melambaikan tangan pada Novel.
__ADS_1
"Lucunya...dia tuh cowok yang gue ceritain tadi".
"Oh, tapi kok wajahnya kayak familiar ya?", Novel mengetuk-ngetuk kening dengan jarinya."Ayahnya seorang pengajar kah?"
"Yang gue denger sih gitu! Emang lo kenal?"
"Entahlah"Novel mengedikkan pundaknya.
Mereka berdua berjalan menuju kelas dan Novel tidak menyangka dia akan satu kelas dengan Riko. Riko tersenyum manis, membuat hati Novel entahlah rasanya membingungkan. Suasana mendadak menjadi canggung tak ada perbincangan apapun sampai jam pelajaran selesai.
...*********************************...
Riko bukan hanya manis tapi sifatnya yang gampang akrab membuatnya gampang berbaur dan disukai banyak orang. Para siswa dan siswi pun seakan berlomba menjadi temannya, Dia juga disayangi para guru bukan hanya karna sifatnya yang sopan tapi juga pintar.
Novelia dan Riko bersaing dalam banyak hal, bukan hanya pelajaran tapi bahkan kegiatan-kegiatan sekolah lain seperti OSIS. Tapi karena Riko punya banyak teman dan jiwa kepemimpinan yang baik maka Riko lah yang terpilih jadi ketua OSIS. Novelia menerimanya dengan lapang dada, meskipun hanya menjadi wakil dia tetap antusias.
Diam-diam novel mengagumi Riko. Baginya Riko sangat sesuai dengan kriteria cowok idamannya. Novel yang memang hoby nyanyi akan sangat terpesona dengan cowok yang suka bernyanyi apalagi piawai dalam memainkan alat musik.
"Gak mungkin gue suka sama dia!", gumam Novel.
Akhir-akhir ini bayangan wajah Riko berputar-putar di kepalanya. Entahlah ada rasa rindu setiap kali tak melihat wajahnya, dan semangat yang berlipat-lipat setiap kali mau berangkat sekolah. Ibu Fita yang merupakan ibu kandung Novel jelas tahu perubahan sikap anaknya.
"Ibu lihat kamu semangat sekali tiap mau berangkat sekolah?", Bu Fita bertanya penuh selidik.
"Hhmmm masak?apa ada yang salah dengan itu?Bukannya seharusnya ibu senang?"
"iya sih...tapi ibu ngerasa aneh aja. Soalnya gak biasanya aja kamu agak merhatiin penampilan. Inget lho kamu masih SMP gak usah cinta-cintaan apalagi sampek pacaran. Ibu g mau km punya pacar. Ibu tahu seusia kamu pasti sudah mulai ada ketertarikan pada laki-laki, tapi ibu gak mau kamu terlena.Jadikan ini penyemangatmu pergi ke sekolah".
__ADS_1
Bulan berlalu tahunpun berganti, sekarang Novel sudah kelas 2 SMP. Dia selalu bersemangat pergi ke sekolah bukan hanya karna sekarang dia punya banyak teman tapi dia menyukai semua kegiatan di sekolah itu mulai dari OSIS, eskul tari, eskul pramuka yang kakak pembinanya ganteng-ganteng tapi juga guru-guru yang baik meskipun dia harus menelan kecewa cowok kece si pemilik senyum manis sudah hadiah dengan adik kelas yang populer. Tapi Novel juga tak terlalu bersedih baginya perasaannya sekarang tak lebih dari sekadar rasa kagum pada lawan jenis yang biasa terjadi pada masa pubertas seperti dirinya sekarang.
"huft !! " Novel menghembuskan nafasnya kasar. Bayangan tentang beberapa bulan yang lalu terlintas di benaknya saat Riko mengungkapkan ketertarikan padanya dan memintanya menjadi kekasih. Pada saat itu Novel kekeh dengan pendiriannya bahwa dia tidak mau pacaran karna masih terlalu kecil.
"Aku suka kamu vel, dan aku tahu kamupun menyukaiku kan? "ucap Riko sambil menggenggam kedua tangan Novel.
"emang kamu tahu darimana kalo aku juga suka? "tanya Novel menyelidik.
"Olivia, Maria, Fanya dan teman-teman yang lain"
"dasar mulut ember"
"jadi gimana vel?"tanya Riko lagi.
"aku emang suka kamu eh lebih tepatnya kagum tapi kita gak mungkin pacaran Rik"
"tapi kenapa vel? "
"hei kita ini masih 14tahun gak mungkin banget menjalin hubungan ato komitmen dengan sifat kita yang masih childist ini yang ada bukannya seneng malah bakal sering berantem lah kapan sayang-sayangannya kalo berantem mulu! "
"jadi??? "
"aku gak mau, kita berteman aja...kalopun kita mau berkomitmen tunggu lah 4 ato 5 tahun lagi!"jawab novel lugas.
"baiklah kalo itu keputusanmu... tapi aku pegang kata-katamu 4 atau 5 tahun lagi aku akan datang dengan pertanyaan yang sama"kata Riko lesu.
"baiklah aku tunggu waktu itu tiba"
__ADS_1