
Novel duduk di kursi belajarnya menyiapkan buku-buku pelajaran untuk besok pagi sekaligus mengecek PR yang harus dikumpulkan besok.Tak sengaja dia melihat boneka dan coklat pemberian ****fandi**** diatas meja belajar nya. Ada setitik rasa bersalah bercokol dihatinya karena sampai saat ini dia belum mampu membuka hati untuk fandi. Padahal fandi sudah begitu baik padanya, dia tidak pernah telat menanyakan novel sudah makan atau belum? Apa dia bahagia hari ini? Gak sedih lagi kan? ngisiin pulsa tanpa diminta padahal dia yang selalu ngubungin novel al hasil pulsanya nggak kepake, sudah dilarang pun tapi tetap aja yang namanya fandi keras kepala. Bahkan beberapa kali datang kesekolah novel pada jam istirahat cuma buat nganterin makanan. Bahkan kalau dia tau novel belum makan atau tidak nafsu makan dia akan datang bawa makanan dan menyuapi nya. Sebaik itu memang tapi mau bagaimana lagi bukankah perasaan tidak bisa dipaksakan? **Fandi** memang badboy, perokok, peminum, suka tawuran, suka balapan, Tapi dia lebih dari sekedar mampu untuk menghargai perempuan. Tidak pernah berhianat, Selingkuh, atau ngegosthing cewek. Dia tipe cowok yang romantis, pengertian, perhatian, rela melakukan apapun untuk orang yang dicinta bahkan mungkin dia akan memberikan seluruh isi dunia jika dia mampu. Bahkan dia berjanji akan membuang semua kebiasaan buruknya jika itu membuat novel tidak nyaman sedikit demi sedikit dia sudah mulai berubah. Selama berpacaran dengan novel fandi tidak pernah minum alkohol, balap liar, dan tawuran hanya saja untuk merokok masik belum bisa menghilangkannya sekaligus. Tapi setiap kali bersama novelia pandi tidak pernah menghisap batang nikotin tersebut, alasan nya dia tidak mau orang yang dia sayang mendapatkan dampak buruk dari dari kebiasaannya tersebut. Hanya Satu yang fandi tidak bisa lakukan untuk novel yakni menggeser posisi Riko di hati novel.
Novel termenung beberapa saat, memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan nya dengan fandi. Dia sadar betul hubungan yang dijalaninya ini tidak sehat hubungan yang penuh dengan kepura-puraan. Yang pura-pura bahagia jadi pacar fandi yang sebenar nya untuk siapa. Bukankah hubungan seperti ini menyakiti keduanya? Lagipula novel tidak bisa berjanji apakah suatu saat fandy mampu menggantikan Riko dihatinya atau bahkan Riko tidak akan pernah terganti.
" aku harus segera mengakhiri semuanya, semakin lama bertahan akan semakin menyakitinya". gumam novelia.
" mumpung sekarang dia hanya sekedar tertarik dan suka padaku, kalopun bilang sayang paling juga sayang sebagai teman karna sudah terbiasa denganku satu bulan ini. Aku khawatir jika semakin lama diabakan sayang dan cinta pada ku sedangkan aku tidak bisa membalas perasaannya. Bukankah itu akan lebih menyakitkan?" Tanya novel pada dirinya sendiri.
" yah aku sudah memutuskan untuk mengakhiri nya besok", tekad novel dalam hatinya.
Novel bergegas naik ke atas ranjang, menarik selimut hingga sebatas leher dan bersiap untuk istirahat setelah sebelumnya membaca doa terlebih dahulu.
Ting ting ting
Bel pertama pun berbunyi menandakan kegiatan belajar-mengajar segera dimulai. Novelia mengikuti semua plajaran dengan serius dua minggu lagi ujian kenaikan kelas dia tidak mau nilai-nilainya turun bisa di omelin tujuh hari tujuh malam nanti.
Disaat jam istirahat Novel mengirim pesan pada Fandi untuk memintanya datang ke sekolahnya.
...me: kamu sibuk nggak? ...
...fandi: nggak kok, Kenapa? kangen? ...
...me: nggak kok gak papa jangan GR!!! ...
...fandi: bilang aja kalo kangen beb!!!...
... **Me**: halu!!!! eemmmmm kamu bisa ke sekolah nggak? ...
...fandi: tuh kan kangen??!! ...
...Me: dibilang gak ya gak!!! ...
...fandi: oke oke bercanda sayang... emang Ada apa? ...
...Me: aku mau bicara sama kamu, ...
...Fandi: Kok kayak yang serius?! ...
__ADS_1
...Me: BANGET!!! ...
...Fandi: yaudah aku berangkat sekarang. ...
...Me: NO!!! nanti aja pulang sekolah...
...Fandi: Oke. ...
ting ting ting
Bel pulang sekolahpun berbunyi. Novel melangkahkan kakinya keluar gerbang sekolah dengan pelan sambil merangkai kata yang pas yang terdengar tidak terlalu menyakiti. Dirinya memang tak mencintai Fandi Tapi mengingat segala kebaikan yang cowok itu kalian selama satu bulan ini padanya ada rasa tak tega membuatnya bersedih. Ketika telah sampai di gerbang Sudah berdiri seorang cowok sedang menunggunya. Melihat kedatangan Novel cowok tersebut lantas tersenyum San menghampirinya. Dia berjalan dengan tangan kanan dia letakkan di belakang tubuhnya Dan tangan kiri dia masuk ke saku celananya. Interaksi mereka cukup menyita perhatian karena memang keadaan sekolah yang ramai. Biasanya Novel akan keluar agak akhir menunggu Lebih sepi untuk menghindari keramaian Dan berdesakan.
"hai... aku seneng akhirnya kamu minta aku datang kesini biasanya kan aku yang maksa dateng", Fandi menyunggingkan senyuman kecil.
"hhmm emang tukang maksa sih! " kata Novel ketus.
Tak menggubris perkataan Novel Fandi melangkah majuh memangkas jarak antara mereka lalu menyodorkan setangkai nawarin merah di hadapan Novel.
"Buat kamu... semoga kamu suka ya... " ucapnya tersenyum lebar.
Novel mendongak menatap netra tajam laki-laki di hadapannya. Fandi mengangguk mengisyaratkan Novel untuk mengambil bunga tersebut. Tangan Novel terulur menerima nawarin tersebut, tapi hatinya tak akan goyah dia tetap dengan rencananya. Novel melangkahkan kakinya untuk duduk di bangku panjang yang ada disana diikuti oleh fandi. Hening beberapa saat menyelimuti mereka. Novel masih tetap menatap lurus kedepan melihat orang berlalu lalang di jalanan. Fandi menyerongkan duduknya Demi bisa melihat ke arah Novel.
Novel tak sedikitpun menoleh seolah tak terusik dia tetap dengan posisinya. Hingga beberapa menit berlalu Novel masih setia dengan kebungkamannya, hingga genggaman tangan mengalihkan perhatiannya. Kembali menatap ke depan dan membuang napasnya dengan kasar.
"Aku mau putus!!! "
Pernyataan Novel mengejutkan Fandi.
"Aku salah apa? " masih mencoba untuk tenang.
"Kamu nggak ada salah, dari awal hubungan kita yang salah! "
"Bukannya kita sepakat untuk mencoba? "
"Kita sudah mencoba! "
Fandi menatap dalam Novelia yang masih setia menatap lurus ke depan, mengamati ekspresi yang ditunjukkan Novel. sayang yang terlihat hanya ekspresi datar seolah kata yang terucap tak bermakna.
__ADS_1
"ini baru satu bulan sayang... masih banyak waktu untuk mencoba"
"buat apa mencoba kalau akhirnya sama? bukankah cuma buang buang waktu?bukannya itu lebih menyakitkan ketika suatu saat nanti kita baru sadar bahwa apa yang kita lakukan sia-sia? " Novel menolehkan sepenuhnya pandangannya menatap dalam mata Fandi menyelami isi kepala masing-masing.
"kamu terlalu naif!! kamu tidak benar-benar mencoba,selama ini hanya aku yang berusaha Dan kamu tidak. kamu pernah membuka hatimu malah kamu menguncinya rapat-rapat, gimana aku bisa masuk kalau aku gak punya kuncinya. mau aku dobrakpun percuma karna pasti akan rusak Dan tidak riuh lagi. Entah kamu masih takut untuk mencintai atau memang tak mau dia tergantikan. Bukan gak bisa Tapi kamunya yang gak mau!" ucap Fandi menggebu.
"kamu tahu nggak aku Udah mulai sayang sama kamu, aku Udah terbiasa dengan adanya kamu... " ucap Fandi menundukkan kepala terdengar lirih.
"justru karena itu aku nggak mau memberikanmu hadapan palsu sedangkan aku nggak bisa..."
Fandi mendongakkan kepalanya ke atas bersamaan dengan jatuhnya tetesan air dari pelupuk matanya. Novel terhenyak melihat pemandangan itu, apakah cowok dihadapannya ini menangis?Perasaan bersalah semakin menguasai hatinya.
"Bukan gak bisa Tapi nggak mau!! " ucapnya dengan Nada naik satu oktaf. Fandi mencoba mengatur napasnya membuang marah yang menguasainya. Setelah Lebih tenang ditatapnya kembali wajah gadis yang sebentar lagi jadi mantan ini.
"Baik aku terima semua keputusan kamu. Percuma mempertahankan semua bukan sekarang atau kapanpun akan tetap sama. Semua juga salahku, aku yang memaksakan sekarang biar aku juga yang menanggung sakitnya sendirian ", ucapnya Lebih tenang.
"Boleh aku peluk untuk terakhir kalinya?" pintanya.
Novel diam tidak menerima ataupun menolak permintaan Fandi, dia tidak pernah terlihat kontak fisikly berlebih dengan Lawanda jenis biasanya hanya sekedar pegangan tangan atau rangkulan saja.
"Sorry, aku tahu permintaanku keterlaluan, aku tahu kamu tak pernah seintim itu dengan cowok apalagi aku bukan orang yang kamu cinta", ucapnya tersenyum getir.
"Oh ya aku punya sesuatu buat kamu, anggap saja ini hadiah terakhir dari aku, Dan kamu gak boleh nolak", sambil mengeluarkan sebuah kotak dari celananya. Dibukanya kotak tersebut ternyata isinya kalung dengan inisial nama Novel.
"Aku pakein ya..."
Novelia hanya mengangguk sebagai jawaban, dia lantas berbalik membelakangi Fandi. Fandi membuka pengait Dan memakaikannya di leher novel lantas merangkul pundak Novel berniat mencuri kecupan di pipi Novel refleks Novel menghindar. Novel mendelik sebal.
"Fan...!!! " Novel melotot
"Sorry... aku kan mau Minta kenang-kenangan ", Fandi menyengir seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
"aku mau kamu jangan sedih lagi ya habis ini. selalu bahagia.... aku iri padanya yang dicintaimu sedalam ini", ucapnya sendu. Digenggamnya tangan Novel dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya mengelus pipi Novel. Fandi beranjak menuju motornya, memasang helm, menstater motor, membunyikan klakson setelahnya melaju dengan kecepatan tinggi.
Sedangkan disisi gerbang ada seseorang yang mengamati mereka. Meski tak mendengar semua pembicaraan mereka, Tapi melihat semua adegan di depan matanya hatinya seperti diremas. Dia tahu tak punya hak apapun pada gadis itu, tapi rasa cemburu tak bisa dikendalikan. Banyak gadis datang dan pergi dalam hidupnya tapi nama Novelia seakan tak pernah bisa terhapus. Apalagi melihat phisycal touch yang terjadi diantara keduanya, karna dia tahu Novelia tidak pernah bersentuhan fisik dengan lawan jenis. Riko memegangi dadanya kemudian memukul tangki motornya kuat.
"aaarrrggghhh....!!! "
__ADS_1
Riko melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.