
Pagi ini seperti biasa novelia menjalani rutinitas nya sebagai siswa di salah satu SMA. Baru saja duduk dibangku nya dering telpon mengalihkan perhatian nya, dia mengernyitkan alisnya setelah melihat siapa yang tertera dalam layar telpon. Dengan malas dia mengangkat telpon dari orang yang akhir-akhir ini sering mengganggunya. Apalagi kalo bukan sang pacar yang baru seminggu jadian.
" apa?"
" kok jutek gitu sih jawabnya yang?"
" yang yang pala lo peyang? "
" udah sarapan belom yang?"
" udah tadi!"
" beneran?"
" iya beneran!"
" banyak apa dikit?"
" kenapa sih pengen tau banget?!"
" iya nanya aja, namanya juga pengen perhatian sama pacar. Jawab ajah kenapa sih!"
" iya dikit doang" jawab novel memutar bola matanya malas.
" ya udah nanti aku kesana bawain kamu sarapan"
" eh gak usahlah ini juga kan udah mau masuk"
" nggak papa Kok nanti istirahat pertama aku Udah ada didepan gerbang sekolah kamu", ucap fandi antusias.
" terserah deh nolak pun percuma lo pasti tetep bakalan datang".
" tungguin ya nanti aku hubungin lagi".
__ADS_1
ting... ting... ting...
Bel istirahat pertama pun berbunyi. Novelia langsung mengecek ponselnya, dan benar saja ada dua pesan yang masuk ke ponselnya dari sang pacar. Gegas dia beranjak untuk menemui kekasihnya di depan gerbang. Dan benar saja disana sudah ada seorang cowok yang duduk tas motornya sambil memainkan ponsel. Novelia lantas mendekati cowok tersebut. Merasa ada yang jalan ke arah nya cowok tersebut lantas mendongak dan tersenyum.
" hai..."
"hhmmm... "
" kok jawab nya cuma gitu sih yang? Padahal aku udah jauh-jauh kesini loh buat nganterin kamu makanan?!" ucapnya cemberut.
" kan lo yang maksa? gue enggak minta!"
"Cckk!!! Bisa nggak sih manggilnya jangan pakek lo gue lagi?"Fandi berdecak.
" emang kenapa?"
" ya gak enak aja didengar kayak ke temen ajah!"
" good girl! " ucapnya sambil mengusap puncak kepala Novelia.
Novelia tertegun sejenak karna perlakuan itu. Aih seandainya dia mencintai cowok di depannya ini pasti sekarang hatinya sedang berbunga bunga. Seandainya dia bukan cowok freak yang nembak cewek pake cara maksa dan ngancem mungkin dia bisa membuka hati untuknya daripada sakit hati akibat gamon terus. Dan... seandainya dia adalah Riko. Huft Kenapa sulit sekali menghapus namanya di hati.
"hei kok ngelamun? " Fandi melambaikan tangannya di depan wajah Novel.
"gak papa! " jawabnya Novel gelagapan.
"makan yuk! kita kesana", menunjuk bangku panjang yang biasa digunakan para siswa untuk menunggu jemputan atau angkot. Mereka berjalan menuju bangku tersebut. Fandi membuka bungkus nasi tersebut Dan menyodorkannya pada Novel.
"cuma satu? "
"Iya! "
"lo... eh kamu gak makanya juga? "
__ADS_1
"Udah tadi sebelum kesini"
"ya kali aku makan sendirian...masak kamu cuma liatin aku makan doang? "
"gak papa aku tungguin... "
"gak ah! " tolaknya.
"yaudah Sini aku suapin... a...a... " sambil menyodorkan makan ke depan mulut Novel.
Sebenarnya Novel agak baper diperlakukan 'sweet' seperti ini, ya dia hanya manusia biasa yang punya perasaan. Disaat aksi suap menyuap itu ekor mata Novel menangkap bayangan orang yang amat dia kenali. Buru buru dia menjauhkan diri seperti orang yang ketahuan selingkuh padahal pada kenyataannya mereka tak ada hubungan tak pernah. Harusnya dia lebih menjaga perasaan cowok disampingnya ini bukan?
Perubahan sikap Novelia ditangkap jelas oleh Fandi dia menajamkan penglihatannya untuk melihat siapa sebenarnya yang membuat sang pacar verbiage sikap. Sekarang dia tahu siapa yang membuat pacarnya jadi bersikap aneh, ya dia melihat Riko sedang berjalan dengan seorang cewek yang meregangkan lengannya. mereka tertawa Dan terlihat mesra untuk ukuran seorang 'teman'. Fandi tahu tentang Novel Dan Riko, bahkan wajah Rikopun sangat dia kenali karna dia sering ke sekolahnya entah untuk urusan OSIS atau sekedar nongkrong dengan Maria cs. Di sekolah ini boleh keluar gerbang sekolah pada jam pelajaran atau istirahat dengan Surat ijin hanya untuk urusan sekolah atau OSIS, atau menemui keluarga atau teman di tempat duduk panjang dekat post sarapan tanpa membawa tas atau kenyataannya mereka keluar.
Fandi yang mengerti situasi langsung menyodorkan kembali makanan ke arah novel.
"gak ah Udah Kenyan! " tolaknya Novel
"baru dua suap yang?! "
Novel tetap menggeleng. Dengan gerakan impulsifnya Fandi memajukan wajahnya Dan berbisik di telinga Novel.
"makan atau aku cium sekarang!" ancamnya.
Novel mengerjap beberapa kali sampai akhirnya mengangguk kikuk. Aih dia lupa kalau pacarnya ini memang pemaksa. Dia menerima suap demi suap sampai makanan di depannya habis tak tersisa.
"gadis pintar... " ucapnya Fandi sambil mengacak poni Novel.
"dasar tukang maksa tukang ngancem! " sungut Novel dengan bibir mengerucut.
"jangan manyun gitu bibirnya ntar aku beneran khilaf loh! " sambil mengusap sudut bibir sang pacar dengan ibu jarinya.
Sedangkan di sisi lain ada sepasang mata yang diam diam memperhatikan mereka sambil mengepalkan kedua tangannya erat.
__ADS_1