Hello Chesa

Hello Chesa
Bab 16


__ADS_3

Mentari begitu terik, tapi tidak membuat semangat Kesa luntur untuk tetap menunggu, sambil memegang sebuah kotak di tangan nya.


Kesa membuka kembali kotak itu, memastikan sekarang sudah jam berapa, "Udah jam tiga, gue tunggu ngk yah" gumam Kesa menoleh ke sana kemari, berharap orang yg dia tunggu terlihat, tapi apakah mungkin dia menunggu tanpa ada rencana dengan orang yg dia tunggu, ini seperti dia berharap besar kepada keberuntungan.


Kesa menunduk, dia memutuskan untuk menunggu beberapa menit lagi, sebelum dia akan benar-benar pulang.


"Kesa..!" suara tersebut mampu membuat tubuh Kesa tersentak halus, kepalanya langsung menengadah dan menatap lurus ke depan, apa itu barusan, apa dia sedang mengkhayal?


Kesa menoleh, ekspresi nya berubah drastis saat seseorang tengah berdiri dengan senyuman hangat, dia ingat senyuman itu yg selalu membuat dirinya merasa tenang dan terlindungi, tapi sekarang mungkin tidak


"Jangan pergi dulu Sa, kali ini aja gue mohon" pinta Digo menatap lama sebelum Kesa hendak bangkit dari duduk nya.


Tidak mengikuti kata hati, tubuh memilih untuk tetap diam, Digo segera mendekat dan duduk di sebelah Kesa, meskipun dia harus ekstra jaga jarak. "Sa.. lo nunggu siapa?" tanya Digo hati-hati


"Bukan siapa-siapa" jawab Kesa cepat


"Ohh, itu tadi kebetulan gue lewat, trus liat lo, makanya gue mampir bentar sekalian gue mau ngomong sesuatu, yah mungkin ini takdir kali yah, Tuhan masih kasih gue kesempatan liat lo sekarang sebelum gue jauh dari lo seutuh nya"


Kesa mengernyitkan dahinya, "Maksud lo?"


Digo tersenyum, "Izinin gue bicara sepuluh menit aja Sa, dengerin gue yah"


"Kalo seandainya lo mau bicara yg ngk penting, mendingan ngk usah, jangan buat mood gue hancur gara-gara lo bahas orang lain nanti" sela Kesa


"Engga Sa, kali ini aja-" Digo menunduk menahan nafas,


Digo menatap lurus ke depan sebentar sebelum beralih dan menatap Kesa lekat, senyuman hangat terbit, "Makasih yah udah jadi seseorang yg pernah berarti dalam hidup aku, makasih udah selalu protes tentang kelakuan buruk aku, makasih udah jadi semangat aku, makasih udah jadi mentor terbaik aku, aku ngk pernah jujur tentang siapa aku, aku hanya datang ke kehidupan kamu, tapi , kehidupan aku berubah 180 derajat setelah mengenal kamu"


"Sejak Roy kenalin kamu, walau perkenalkan kita waktu itu sedikit tidak enak di pandang, tapi seenggaknya, itu masih bisa kita ingat kan?"


Digo meraih tangan Kesa dan menggenggam nya erat, "Makasih udah pernah jadi seseorang yg mengisi hati aku, maaf aku udah kecewain kamu Sa, maaf aku ngk bisa nepatin janji, aku terlalu lemah di goda sama nafsu, aku ngk pantes buat kamu, aku ikhlas kamu minta putus, dan aku-"


"Aku mau pamit sama kamu, aku bakalan pergi ke Amerika, jaga diri kamu baik-baik yah, maaf aku udah kasar sama saudara kamu karena salah paham"

__ADS_1


Kesa masih termenung, namun mendengar kata kasar membuat nya mendelik, "Aku ngk tau ternyata Eric itu saudara kamu, terlebih dia ngaku jadi pacar kamu, dan aku paling ngk suka mereka bicara yg engga-engga tentang kamu, entah dia cuman pancing emosi aku, karena waktu itu dia bilang dia udah pernah cium kamu, padahal baru pacaran, aku ngk rela, tapi aku sadar aku lebih bejat dari itu, aku mukulin dia, aku takut kamu jadi bahan pelampiasan nya nafsunya dia"


"Belakang aku tau, waktu Iyan temen kamu dateng, kasi tau kalo aku udah buat kamu kecewa dengan ngelakuin hal bejat di depan kamu, dan itu buat Eric tambah marah dan akhirnya jujur kalau dia saudara kamu"


"Sa... aku bahagia kalo kamu ternyata masih di lindungi oleh orang-orang tersayang kamu, dan aku yakin kamu pasti akan baik-baik saja"


"Dan sekarang aku mau pamitan sama kamu, aku akan pergi jauh, aku rasa kehidupan aku di sini ngk akan bener, dengan pergaulan yg terlalu bebas, jadi aku putusin untuk pergi, tapi aku mau nanti suatu saat kalo aku kembali lagi, tetep inget aku yah, seandainya jika kamu punya pacar aku gpp, aku cuman pengin di kenal sama kamu, pengin di dengar sama kamu, Sa aku masih cinta kamu"


Darah Kesa berdesir, detak jantung mulai tak beraturan, kalimat itu, nada suara yg lembut itu mengingat kan dirinya pada kenangan saat dia bersama Digo.


"Sa aku mohon jangan benci aku"


Kesa tersentak saat mendapati pria itu menangis dengan genggaman tangan yg semakin erat, "Gi" panggil Kesa parau


Digo cepat-cepat menatap wajah Kesa, dia barusan mendengar Kesa memanggil nya Gi? itu adalah panggilan tersayang dari Kesa.


Kesa meraih wajah Digo, mengusap air mata yg mengalir dengan jari jempol nya, bukan nya berhenti menangis, Digo malah tambah meringis bahkan mendekat dan mendekap Kesa dengan erat.


"Maksud ka..kamu apa?"


"Yah, hati aku sakit, batin aku sakit, setelah lama aku kehilangan seseorang, aku menemukan nya kembali, tapi dia kembali pergi"


Kesa menahan nafas nya sebentar, apa maksud dari Digo? "Aku udah ketemu sama ibu kandung aku, seseorang yg udah ngelahirin aku, setelah sekian lama pergi karena tidak tahan dengan perilaku ayah yg sangat kasar membuat ibu tidak tahan dia pergi ninggalin aku di umur lima tahun, aku hidup sendirian sejak saat itu"


Digo masih tak ingin melepas dekapan nya, masih menangis dengan pilu, "Aku udah ketemu sama ibu, tapi dia harus pergi lagi Sa, dia udah pergi, aku ngk bakalan pernah ketemu sama dia lagi, aku frustasi Kesa, makanya aku mabuk, aku udah kehilangan ibu aku, dia udah meninggal"


"Aku telfon kamu berkali-kali tapi kamu ngk angkat, aku masih hancur karena aku sendiri, apa yg bisa aku lakuin saat sendiri, aku cuman bisa kembali ke sifat aku yg dulu, minum sendirian dan juga mabuk sendirian"


Kesa menahan getir, mulai melonggarkan pelukan nya, Digo secepat nya menghapus air matanya, Kesa tidak tahan hingga dia juga ikut menangis, hatinya terasa tercabik-cabik, begitu sakit mendengar Digo kehilangan ibu nya.


Apalagi yg dia tau, selama ini Digo hanya selalu tertawa, tidak pernah mengatakan kalau Digo yak punya seorang ibu, atau dia punya seorang ayah yg kasar, "Maafin aku Gi" lirih kesa memeluk Digo erat.


Digo membalas nya lebih erat, menyalurkan rasa sakit nya, berharap bisa membaginya dengan seseorang yg sudah setahun lebih dia percaya.

__ADS_1


...°°...


Kesa duduk diam di kamar nya, di kursi belajar itu, dia hendak mengerjakan pr nya namun tidak bisa fokus saat mengingat Digo.


"Tok...tok...tok..!" suara ketukan di pintu mengalihkan atensi Kesa


"Masuk aja ngk di kunci"


Devano segera masuk sambil membawa ponsel nya, tanpa bicara apapun dia malah langsung duduk di kasur Kesa lalu sibuk dengan ponsel nya. Kesa tak mengubris, sudah biasa Dev melakukan itu, berbeda dengan Eric jika dia yg bertamu ke kamar nya pasti hal pertama yg Eric lakukan adalah protes, seperti kenapa warna gorden itu tidak sesuai dengan warna bantal, atau kenapa guling nya warja hijau tapi batal warna biru.


Atau kalau tidak, maka pria itu yg akan mengacak-acak kamar Kesa, lalu membereskan nya kembali sesuai dengan keinginan nya.


Bertepatan saat Kesa mulai melamun kembali, malah anak yg satunya lagi menyelonong masuk ke kamar Kesa, "Kenapa Jendela nya belum di tutup?" ketus Eric langsung saja ingin protes.


Tidak ada sahutan membuat Eric tentu heran, biasanya anak ini akan membalas dengan jawaban cepat, seperti dia masih ingin melihat bintang, atau dia ingin udara segar.


"Aduh bg mending kalian bersua keluar deh, ngerusak suasana tau ngk" bentak Kesa tiba-tiba membuat Dev hampir saja menjatuhkan ponsel nya karena kaget.


Eric malah lebih kaget, dia kaget bukan karena dirinya yg di usir, malahan mengapa tiba-tiba Kesa tidak care dengan Devano yg ada di sini?


"Kenapa lo, putus sama pacar baru" heran Eric


"Udah saa keluar, mood gue tambah hancur, emang yah semua laki-laki itu sama, KELUAR"


"Busyet dah" keduanya kaget lagi saat Kesa teriak kata Keluar yg hampir membuat gendang telinga pecah, "Lo kenapa si? kalo lo punya masalah sama cowok lo, janga samain sama kita lah, ya emang cowok semua sama, karena batang semua" tukas Eric tak ada filter nya


Kesa mengacak-acak rambutnya kesal, "Udah keluar" usir Kesa menarik keduanya, usai sampai di pintu lalu mendorong keduanya agar segera keluar, dan mengunci pintu kamar rapat-rapat.


Dev dan Eric saling pandang sejenak, "Kenapa tu?" heran Dev


Eric menaikkan kedua bahunya pertanda tidak tahu juga.


...~selamat membaca~...

__ADS_1


__ADS_2