Hello Chesa

Hello Chesa
Bab 9


__ADS_3

Kesa kini berdiri di pojok ruangan, memegang sapu, yah dia paling malas dengan piket kebersihan kelas, dan hari ini jadwal nya.


Semua orang bahkan sudah pulang sekolah, hanya beberapa yg tinggal. Roy tidak peduli dengan kebersihan itu, intinya dia hanya duduk santai di atas meja memperhatikan orang lain bekerja.


Intinya hanya tiga orang yg bekerja, selainnya hanya menonton saja, pura-pura ikut kerja padahal tidak juga. Iyan sudah pulang lebih dulu, Roy baru saja pergi, sementara Kesa masih duduk santai di teras kelas sementara teman-teman piket lainnya masih sibuk bermain ponsel usai selesai kebersihan.


Di bawah sana, Kesa bisa lihat. Eric sudah berjalan hendak pulang bersama teman-teman nya, dan saat itu juga Kesa ikut turun dati atas karena sedari tadi dia memang menunggu Eric.


"Eh.. Kesa..!" panggil seseorang dengan nada cepat, membuat Kesa menghentikan langkah nya. Kesa menatap datar. dia adalah Kevin.


"Gimana keadaan Putra?" tanya nya berbasa-basi, sembari ikut berjalan sejajar menuruni tangga bersama Kesa, Kesa hanya bersikap santai. "Udah mendingan katanya" balas Kesa


"Oh ya gue tadi baru aja dari kantor gue ngk sengaja liat mantan lo di parkiran"


"Maksud lo?" Kesa menghentikan langkah nya menatap Kevin tajam Kevin mengangguk pelan. "Yah.. gue ngk tau ngapain sih, tapi dia cuman duduk diam di atas motor nya aja" lanjut Kevin serius.


"Mantan?" gumam Nathan tak sengaja mendengar tangkap pembicaraan keduanya karena dia juga usai dari kelas. Nathan sengaja berjalan lambat agar tidak ketahuan tengah menguping, sementara Kesa sudah berjalan sedikit tergesa-gesa dan menatap Eric yg sudah hampir sampai ke parkiran.


Kevin ikut berjalan cepat, begitu juga dengan Nathan yg anehnya juga begitu penasaran akan apa yg terjadi.


"Kita duluan ya Ric!" ucap Nico yg segera mendapat anggukan dari Eric, Regan juga Andre ikut dengan Nico ke arah yg sama, sementara Eric ke parkiran.


"Gue pergi aja kali yah, kalo dia sampe liat gue bareng bg Eric bisa salah paham, tapi...!" Kesa terdiam saat melihat dari kejauhan keduanya tak saling pandang sedikit pun karena memang keduanya sama-sama tak saling mengenal, namun dalam derajat yg sama, sama-sama kelas 12, sama-sama mantan kedua osis tapi dari sekolah yg berbeda.


Melihat Kesa diam. Nathan malah menyelonong saja karena motor nya tepat di samping seseorang yg entah siapa dia pun tak kenal, seseorang itu masih diam di atas motor sport nya dengan jaket kulit hitam.


Kesa bergegas saja pergi berharap mereka tak melihat, jadi dia pura-pura tidak tau.


"Kesa..!" satu nama terucap dari dua orang yg berbeda, Kesa terjerembab menghentikan langkah kakinya, tubuhnya lemas mendengar suara yg familiar dan itu secara bersamaan.


Eric menatap seseorang itu heran, begitu juga sebaliknya, yah... namanya adalah Digo Andrian, keduanya saling beradu pandang sedikit lama. Hingga berhenti sesaat Kesa berbalik dan melihat pemandangan yg begitu mengerikan.


Kesa berjalan mendekat, namun memilih mendekati ke arah motor Eric,


"Oh jadi dia alasan lo, cih.. Kes kalo lo mau milih yg berkelas dikit lah, cuman gara-gara dia lo minta putus?" ucap Digo menatap Eric dengan tatapan meremehkan.


Eric sama sekali tidak merasa terpancing, malah Eric heran dengan Kesa, bagaimana bisa ada yg suka kepada Kesa dengan tampilan tak beraturan itu. Kesa hanya diam menatap Digo dengan tatapan tajam sekaligus marah.


"Hebat juga ni anak, dapet cowok yg berkualitas tinggi juga, tapi sayang ngk berakhlak" batin Eric menatap datar dan dingin, dengan santai nya Eric naik ke motor nya dan menghidupkan mesin motor,


"Ayo cepet, gue masih ada urusan" ajak Eric dengan nada ketus, Kesa tersendak belum saja Kesa naik. Digo sudah datang dan dengan cepat menghentikan Kesa, menarik nya sedikit kasar.


Digo menatap Kesa tajam. "Lo mau sama dia Kes, cowok yg bicara kasar sama cewek, ya bener aja Kes" ucap Digo tak suka melihat Eric.

__ADS_1


Kesa cepat saja menepis tangan Digo, "Ngk usah ikut campur urusan gue deh lo, lo lupa apa pura-pura ngk ingat, kita udah ngk ada hubungan apa-apa lagi" ucap Kesa pelan namun dengan penuh penekanan.


Digo terdiam terbungkam, "Ahk kelamaan!" Eric menjalan kan motor nya dan pergi begitu saja, Kesa hanya diam menatap sedikit kesal sementara Digo menatap penuh amarah.


"Eh lo mau kemana?" pekik Kesa menahan Digo. Digo menatap lekat, "Ya mau ngejar dia lah, masa lo mau sama cowok kayak dia, liat aja bahkan dia ninggalin lo, lo masih-"


"Kalo gue sampe tau lo ada urusan sama dia, gue sendiri yg bakalan hancurin hidup lo, yg jelas lah gue lebih milih dia dari pada lo, dia ngk kayak lo, munafik"


"Mak..maksud lo" gugup Digo


"Yah.. gue heran aja, masih ada cowok kayak lo yg di hargain di sekolah tapi buruk di luar"


"Kesa... itu cuman salah paham aja, lo ngk tau gimana awal nya, Kesa.. gue bisa jelasin lo denger dulu"


"Oke, jelasin" Kesa melipat kedua tangan di depan dada dan menatap datar. "Dia.. dia yg duluan godain gue, hari itu.gue.. gue mabuk Kes"


"Udah stop... gue udah tau, santai aja, sebelum itu terjadi, gue udah malah makin benci sama lo, gue baru tau lo bisa mabuk" ketus Kesa pergi melangkah meninggalkan Digo yg terdiam mematung.


Wajah Nathan masih sama sedari tadi, dia hanya menjadi penyimak di antara drama siang hari di parkiran, benar-benar drama yg tidak enak untuk di tonton. apalagi hanya mereka berdua yg menjadi penonton, yah berdua, dia dan juga Kevin yg baru saja ikut pergi.


Nathan menatap Digo sekilas, tampang nya memang lumayan lah, tapi kalau menurut nya, masih di bawah dirinya, meski hanya 11, 12 sih, intinya di bawah Nathan. "Ck..ck...ck, harusnya semua masalah itu harus di sikapi dengan baik, bukan malah memperburuk masalah!" ucap Nathan tiba-tiba.


Digo menatap Nathan cepat, "Maksud lo apa?" ketus nya cepat.


Nathan menggeleng cepat, "Kagak ada !" Nathan menyambar helm nya dan segera pergi dengan motor sport biru nya. Meninggalkan Digo dengan wajah kusut nya dan mengacak-acak rambutnya karena frustasi.


flashback off...


Motor Iyan kini terparkir persis di parkiran sebuah rumah makan dimana mereka ada janjian untuk makan malam bersama, mereka berempat pastinya.


Iyan, Kesa, Roy dan juga Putra, keduanya sudah menunggu di dalam sementara Iyan baru saja sampai usai menjemput Kesa dari rumah nya.


"Lo masuk duluan ya Kes, gue parkirin motor dulu" ucap Iyan, Kesa mengangguk santai dan memasuki resto, dengan penampilan yg biasa saja, kaos oblong putih dengan jeans hitam dan jaket kulit hitam, sepatu kets putih, Rambut di kuncir saja dan tak sedikit pun memakai riasan, hanya bedak yg begitu tipis.


"Bruk...!" suara benda terjatuh membuat Kesa menghentikan langkah nya, Kesa melirik ke arah kiri, dimana asal suara itu berada.


Sebuah tas selempang hitam tergeletak di lantai, tepat di bagian samping resto dimana gang antara resto dan toko aksesoris ponsel, Kesa bisa melihat sedikit bagian drees berwarna pink melambai-lambai. Bisa di pastikan ada orang yg tengah berdiri disana.


Dengan keberanian yg pasti, tanpa sedikit pun kecurigaan atau ketakutan, Kesa melangkah dengan santai nya, dengan kedua tangan di dalam saku jaket dan tatapan dingin.


"Siapa si?" batin Kesa semakin dekat. langkah nya masih sama, tak bersuara membuat kedua Orang yg tengah menyalurkan hasrat cinta itu tidak tau kalau sosok Kesa kini sudah mendekat karena ulah mereka yg tidak tau tempat.


Hanya tiga langkah jarak mereka, wajah Kesa pucat, melihat adegan romantis menjijikkan saling bertukar saliva itu tepat di depan matanya, seseorang yg dia kenali, ahk.. bukan lagi, bahkan seseorang itu masih berhubungan dengan nya, dia adalah Digo.

__ADS_1


Kesa tersenyum meremehkan, bahkan saat dia disana, Digo tak melihat nya, sementara gadis itu masih membelakangi Kesa, Kesa dengan santai nya mengeluarkan ponsel nya dan mengambil beberapa foto "setidaknya ada bukti, biar gue bisa lepas dari bajingan ini" umpat Kesa mengembalikan ponselnya kedalam saku.


Kesa berbalik, mendapati Iyan sudah di belakang nya dengan wajah rumit dan emosi, Kesa tersenyum tipis, "Oh.. udah selsai yah, yuk lah, entar mereka kelamaan nunggunya" Ajak Kesa dengan senyuman khas nya.


Iyan bahkan tak mengerti mengapa segitunya Kesa seperti tak peduli, dengan kekesalan yg masih di simpan dalam hati, Iyan terpaksa mengikuti Kesa saja, dari pada melihat apa yg tidak perlu untuk di lihat.


flashback on...


Kesa menghela nafas panjang, mengingat kembali kejadian itu, mengingat betapa kerasnya dia bertahan agar tidak marah dan tidak peduli dengan dia.


Kepalanya menunduk lemas, tidak bisa menahan air mata yg tiba-tiba sudah mengalir di pipi nya, Kesa segera menyeka air mata nya kasar, melangkah dengan kepala menunduk dan mata berkaca-kaca membuat Kesa tidak tahan.


Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelum nya, dia bingung sendiri mengapa dia begitu sakit mengingat nya, padahal tidak ada perlakuan romantis lebih dari Digo padanya, hanya sebatas obrolan yg hangat yg membuatnya merasa nyaman, mungkin benar. hubungan mereka tmhanya sekilas seperti sebatas teman saja, tak ada adegan-adegan seperti itu, karena memang itu prinsip dari Kesa, tak mau melakukan hal-hal seperti itu. mungkin Digo bosan atau bagaimana, lagi pula dia juga normal saja menginginkan yg seperti itu.


"Kenapa lu, nangis di tepi jalan, kayak orang gila aja" ketus Eric yg tiba-tiba sudah muncul di sebelah Kesa membuat Kesa tersendak, menjauhkan arah pandang nya dan menyeka air mata nya kasar.


Eric hanya terdiam dengan tatapan rumit. "Ayo naik" ajak nya, Kesa hanya menurut saja dan duduk menyamping di belakang Eric. Motor sudah melaju dengan kecepatan sedang. Kesa masih menunduk diam saja tak mau berbicara.


Bahkan selama perjalanan hingga sampai ke rumah, Kesa masih diam dengan tatapan kosong. sampai di rumah Kesa langsung mengunci diri di kamar, menjadi pendiam untuk sejenak sama tentu membuat Vian ibunya heran, jika bertanya pada Eric, anak itu hanya menggeleng bukan pura-pura tak tau, tapi memang tidak tau apa yg sebenarnya terjadi pada Kesa.


"Tok..tok...tok...!" tiga kali suara ketukan pintu terdengar. Vian segera menuju ke depan untuk melihat siapa yg mengetuk pintu. Sementara Erix juga masih di kamarnya untuk berganti pakaian.


Wajah Vian terlihat begitu cerah kala melihat siapa yg datang, yah.. Devano Reyhan putra sulung nya yg datang.


Dengan senyuman ramah dan pelukan hangat, Devano menyapa sang ibu dengan sopan. "Kenapa ngk bilang mau dateng, gimana kuliah kamu?". tanya Vian berbasa-basi, meski jarak rumah dengan asrama Devano tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu dua jam saja, karena itu Devano jarang pulang karena terlalu sibuk dengan perkuliahannya, apalagi dia masih menjalankan semester empat nya.


"Lagi ada waktu luang bu, makanya Dev pulang" balas Devano singkat sambari mengikuti ibunya masuk ke dalam rumah.


Eric juga menyapa juga, hanya sapaan biasa saja, karena Devano bukan pulang dari luar negri, bahkan bulan lalu Devano juga pulang dan tinggal selama seminggu di rumah.


"Kesa dimana? belum pulang sekolah yah?" tanya Dev


"Itu di kamar, baru pulang juga, bareng sama Eric" jawab Vian, Dev melirik Eric lekat, dan tersenyum aneh, Dev beranjak pergi menuju ke kamat Kesa dan mengetuk pintu beberapa kali. Namun tidak ada jawaban, Vian sudah pergi ke dapur, sementara Eric menatap Dev dengan tatapan datar, "Dari tadi diem mulu tu bocah, kayaknya lagi ada masalah sama pacar nya "


"Cih, ya kali.. sejak kapan Kesa punya pacar coba" ucap Dev tersenyum tipis.


Eric masih dengan datarnya, "Tadi pacar nya dateng ke sekolah" ketus Eric lalu pergi menuju teras rumah.


Dev terdiam terbungkam, "Kes... Kesa..!". panggil Dev sembari terus mengetuk pintu. namun tak ada jawaban. Dev meraih gagang pintu, yg ternyata tidak di kunci, "Kes.. abg masuk yah" ucap Dev namun lagi-lagi tak ada jawaban, Dev semakin curiga saja, tanpa pikir panjang dia membuka pintu lebar-lebar, terlihat di lantai, Kesa terduduk memeluk lutut nya dan menunduk, menghadap ke arah jendela dan menyenderkan punggungnya di tepi kasur.


Wajah Dev semakin rumit saja, perlahan dia menutup pintu kembali dan mendekati Kesa. Meski suara denyitan pintu terdengar, masih saja Kesa tidak bergeming sedikit pun, entah itu menengadah sekedar untuk melihat siapa yg masuk, tapi tidak sama sekali.


Keadaan nya begitu hening, membuat Dev bingung harus memulai dari mana. ingin menghampiri langsung dan duduk di sebelah nya tapi takut akan menganggu Kesa yg mungkin ingin waktu untuk sendiri.

__ADS_1


Pilihan kedua saja, Dev terduduk di kursi belajar Kesa dan menunggu Kesa selesai dengan acara sedihnya.


...~selamat membaca~...


__ADS_2