Hello Chesa

Hello Chesa
Bab 18


__ADS_3

Meski semua nya sudah tau kalau Kesa itu adalah gadis yg cuek, dingin, plus bar bar, tapi bisa di pastikan, merekanjuga makin heran karena makin lama, sikap Kesa makin membingung kan saja, dia sangat dingin bahkan jika di sapa oleh ketiga CS nya saja, dia menjawab dengan singkat.


Tidak biasanya juga dia tak membalas celotehan Fandi yg tidak bermanfaat, biasanya dia juga membalas godaan dari para setan yg selalu menyebut nya tengah dekat dengan Nathan.


Tapi mengapa kali ini dia masih tetap diam?


"Lo kenapa sih Kes?" Iyan bertanya dengan nada sedikit dingin, dia berusaha untuk menyamai sikap Kesa agar bisa tahu apa yg sebenarnya terjadi pada Kesa.


Kesa menatap sekilas, "Gue lagi gabut, malas ngomong" balas Kesa datar, lalu kembali lagi duduk diam sambil mencoret-coret buku gambar nya, yah masih ingat, itu adalah buku pemberian Devano, yg isinya hanyalah kertas putih semua tanpa garis-garis, yg memang dia gunakan khusus untuk menggambar apa saja yg dia suka.


Dan kelihatan nya buku itu sudah terisi, beberapa lembar.


"Itu gambar jam tangan yg kemarin itu kan, kenapa lo ngk pake lagi?" pertanyaan itu muncul dari sebelah membuat Kesa, Iyan dan Roy kompak menatap sosok Nathan yg masih setia duduk di sebelah Kesa meski ini sudah jam istirahat pertama, sedangkan yg lain nya sudah berhamburan entah kemana?


Kesa diam saja, kembali terus melanjutkan kegiatan nya, meski yg dia gambar adalah jam tangan pemberian Rehan, dia masih terus memikirkan Digo.


"Ini anak di tanya malah diem" heran Roy


"Brisik..." Kesa menutup bukunya lalu pergi keluar kesal,


Sungguh Iyan dan Roy benar-benar terkejut dengan sikap Kesa yg begitu tiba-tiba menjadi begitu dingin.


"Dia kenapa? dari tadi pagi kerjaan nya cuman ngegambar aja" seru Nathan bingung


Iyan dan Roy menggeleng kompak, "Engga tau, mungkin dia lagi ada masalah" jawab Iyan menebak.


...***...


"Brugh...!" satu kali pukulan mendarat di wajah Eric, setitik darah mulai keluar dari sudut bibir nya, meski luka itu masih belum seberapa dari yg di dapat kan seseorang yg kini sudah berdiri dengan nafas terengah, ekspresi yg menunjukkan tekad nya bahwa dia harus dan ingin sekali mengalahkan sosok Eric.


Meski begitu yakin kalau Eric akan menang, Regan, Andre dan Nico tentu khawatir kepada Eric yg dari tadi hanya diam dan tidak mau di ganggu, bahkan saat pacar nya memanggil nya, dia tak menyahut, untung Regan segera menjelaskan kepada Cerry kalau Eric ada masalah, jadi Cerry tidak jadi marah akibat Eric mengacuhkan nya.


"Ric udah...!" seru Regan segera menyela ke tengah-tengah keduanya.


Eric hanya diam dengan wajah dingin, "Hebat juga lo" ucap Eric tersenyum miring, lelaki di hadapan nya itu hanya berdiri tak bergeming, tatapan nya masih dalam dan begitu tajam kepada Eric.


"Sehebat apapun lo ngalahin gue, kalo Kesa ngk suka sama lo, jangan harap bisa deketin dia, ngerti lo, kemari lo udah kalah, sekarang juga tetep kalah, jadi besok-besok ngk usah sok so kan ngajak gue duel" ketus Eric dengan nada tak suka.


"Lo sendiri kan yg bilang, kalo gue mau deketin Kesa, gue harus kalahin lo dulu, yaudah gue lakuin, lo pikir gue takut sama lo, kalo gue suka sama dia, itu urusan gue, tapi karna gue masih ngehargain lo sebagai saudaranya dia, ya gue turutin apa mau lo"


Eric terdiam hening, "Sebenarnya tujuan lo bukan cuman mau deketin Kesa kan?" ucap Andre dengan nada tenang dan senyuman kecil di bibir nya.


Regan, Nico dan Eric tentu bingung dengan Andre yg tiba-tiba bicara seperti itu.


"Erwin..!" panggil seseorang membuat suasana di lapangan basket menjadi hening, berhubung ini sudah jam pulang sekolah, mungkin beberapa masih tinggal di sana, termasuk mereka.


"Lo kenapa babak belur begini? aish..ini pasti gara-gara kalian kan, kalian kalo mau ngeroyok ngk gini juga, gue bakalan laporin kalian berempat" bentak nya


"Udah ngk ada yg di keroyok" Erwin dengan cepat menahan tantang gadis di sebelah nya, sebelum gadis itu benar-benar menghampiri Eric, pasti dia akan menampar nya nanti.

__ADS_1


Mereka berempat hanya menatap datar,


"Sorry dia ngk tau apa-apa, gue pergi duluan" Erwin menarik tangan gadis di sebelah nya lalu pergi meninggalkan lapangan basket.


Eric memilih untuk duduk selesehan karena sudah lelah, tenaganya mungkin akan habis jika Erwin mengajak nya duel sekali lagi. "Ric lo kayak nya berlebihan deh, dia sampe sekarat gitu, kalo orang tuanya nanya gimana?" ucap Nico pelan


"Biarin aja" balas Eric malas.


"Lagian itu pantes buat dia, ngapain cowok kayak dia mau deketin Kesa" ketu Regan tak suka


"Bilang aja lo sirik" goda Andre membuat Nico ikut tertawa mengejek sementara Eric masih diam saja dengan ekspresi dingin nya.


Kesa kembali merogoh kemasan di tangan nya, sambil memakan kripik kentang balado kesukaan nya, melamun entah memikirkan apa, tapi sedari tadi dia bingung dan bosan, kenapa juga dia menonton pertunjukan yg tidak asik itu.


"Udah kita balik aja" ajak Andre


Eric segera bangkit, ke empat nya sama-sama berbalik, hendak menuju ke sisi lain lapangan, untuk mengambil tas mereka yg di letakkan di sana, namun belum sempat mereka melangkah, mereka sudah kaget melihat seseorang yg kini duduk sendirian sambil memakan kripik dengan tatapan yg tertuju kepada lapangan kosong.


"Kesa?" pekik Eric


Kesa terjerembab, kedua matanya mengerjab cepat, bersamaan ke empat lelaki itu mendekatinya, dia baru sadar sekarang, ternyata yg dia tonton barusan adalah Eric sendiri? mengapa dia tidak sadar dari tadi?


"Lo...lo ngapain di sini?" tanya Eric gugup


"Engga tau" jawab Kesa bingung


"Ehh.." Kesa segera sadar, kalau yg berkelahi itu adalah Eric itu artinya, Wajah Kesa segera memucat, baru sadar kembali ketika melihat wajah Eric yg sudah membiru, "Astaga? kalo mau mati ngk gitu caranya, minum racun kek, dari pada harus brantem kayak tadi, apa susah nya sih, kalo perlu pake golok sana, ngapain juga brantem gitu, ngapain? tuh..tuh..makan nya jadi jelek kan, berdarah, benyok..!" semprot Kesa menunjuk-nunjuk wajah Eric.


"Kenapa malah senyum-senyum ngk jelas, gila lo, udah cepetan di obatin" bentak Kesa semakin geram.


Eric tak bergeming, masih tersenyum, malah makin melebarkan senyuman nya, sungguh pemandangan yang mengerikan, "Lo kenapa Ric? gila lo?" pekik Andre


"Bugh...!"


"Ehh?"


Kedua mata Regan melotot, ingin menendang Eric yg kini tiba-tiba memeluk Kesa di hadapan nya, tapi dia sadar diri, dia itu saudara nya, "Ehh...ini kenapa si?" heran Kesa ingin melepaskan diri namun tidak di biarkan.


"Bego..."


"Ahk...!" Kesa tersentak saat tiba-tiba Eric menggigit telinga nya dengan keras.


"Srekkk..brughh..!" Kesa mendorong tubuh Eric dengan kasar lalu dengan secepatnya menendang perut Eric membuat tubuh saudaranya itu terhempas dan tergeletak di atas lapangan basket.


Bukan nya meringis karena kesakitan, Eric malah tertawa terbahak-bahak membuat ke tiga teman nya terdiam kaku sedikit gemetar, baru kali ada seseorang yg berhasil menendang Eric sampai sejauh itu, bahkan sampai Eric tersungkur.


"Hahhah...aduh...duh..perut gue sakit" Eric masih sempat nya tertawa pecicilan memegangi perut nya yg tambah sakit saat dia tertawa.


Kesa menatap nya dengan tatapan tajam, bukan pertama kalinya Eric melakukan itu, yah malah keseringan, dan rasanya benar-benar sakit, terlebih yg paling sakit yg dia rasakan adalah saat Eric menertawakan nya.

__ADS_1


"Sialan, lo mau gue tambahin tuh lukisan di wajah lo, sini biar gue buat" Kesa melepas rangsel nya, beserta jaket nya, lalu menarik ujung lengan bajunya dengan kasar.


Eric cepat-cepat bangkit, kalau tidak dia bisa mati di ijak-injak oleh Adik nya yg ganas itu.


"Brakkk..." satu pukulan hampir saja melayang ke arah wajah Eric segera di tahan oleh telapak tangan Eric, Eric tersenyum miring, sementara Kesa sudah berusaha mencari kesempatan, "Srak....Brakkk"


"Hahhh?" Nico menahan nafas


"Gimana enak?" Kesa tersenyum, berdiri dengan bangga nya karena berhasil menjatuhkan Eric dalam satu kali serangan.


Eric hanya bisa meringis kecil, jujur saja dia benar-benar kalah karena sudah lelah dari tadi, "Dasar pinguin ganas" geram nya segera bangkit.


Kesa yg tidak mendengar nya, masih acuh, segera mengenakan kembali jaket dan rangsel nya, namun dia terhenti karena melihat ponsel di saku menyala.


"Hp gue" pekik Eric kembali mengingat setelah melihat casing ponsel yg di genggam oleh Kesa.


Kesa menatap datar, namun senyuman kecil terlihat di bibir nya, "Halo" sapa Kesa datar.


"Halo Ric lo dimana, gue-"


"Eric lagi ngk ada" sambar Kesa cepat.


"Loh ini siapa? kok cewek?"


"Harus nya gue yg nanya lo siapa?" buka nya menjawab, Kesa malah balik bertanya dengan sedikit kasar.


Eric segera merebut ponsel nya, namun Kesa tak semudah itu, "Sini balikin gak"


"Aishhh...brugggg..." satu tendangan kembali melayang, Eric kembali terhempas membuat lagi dan lagi Andre, Nico dan Regan kaget, Eric menghela nafas lemas.


"Itu gue denger suara Eric, sebenarnya lo siapa sih, kenapa lo yg jawab telfon nya Eric, setau gue dia ngk pernah akrab sama cewek" ketus nya.


Kesa tersenyum, "Oh gue pacar nya Eric"


"Hahhhh?"


Kesa tersenyum miring, "Pa..pacar nya? ohh..yaudah entar gue telfon lagi"


Kesa mematikan ponsel nya, memasukkan ponsel kedalam saku, lalu dengan santai nya mengeluarkan jaket dari tas nya, melempar nya ke wajah Eric, "Gue tunggu lima menit, gue juga mau pulang, gue ngk mau jalan kaki" ketus Kesa berjalan dengan santai.


"Rasain..!" Kesa tertawa gelak, langsung melarikan diri usai meletakkan ponsel Eric di lapangan, Eric menatap Cengo "Sialan... dasar Kecungut" umpat nya geram.


"Btw siapa yg telfon tadi?" tanya Nico jadi penasaran


Eric ikut syok, segera memeriksa ponsel nya, dengan wajah pucat, "Semoga aja bukan setan yg nelfon" Eric bergumam pelan.


"Huhhh..kirain Cerry" lega nya akhirnya bisa bernafas setelah melihat panggilan masuk terbaru, "Siapa Ric?" tanya Regan meraih jaket Eric, lalu berjalan untuk mengambil tas nya.


Eric berbalik, "Orang lewat aja, yaudah kita cabut" ajak Eric yg segera di angguki oleh ketiganya. "Adek lo ganas juga Ric" ketiga nya tertawa kecil usai Nico mengucapkan nya dengan nada lemas dan ekspresi pucat, mengingat bahwa hanya dia yg paling lemah dari antara ketiga sobat nya itu, mana mungkin dia berani lagi menggoda Kesa setelah melihat Eric di kalahkan begitu saja.

__ADS_1


... ~selamat membaca~...


__ADS_2