
Lima menit Kesa menunggu, duduk di ataa motor Eric dengan bosan, mungkin lelaki itu masih ada urusan di sekolah sehingga masih belum datang.
"Gue bilang juga apa kan, mereka masih di sekolah nya, lo ngk inget waktu di tongkrongan, ad ayg ngajak dia duel sepulang sekolah"
"Yah tapi ini udah jam tengah empat bego, masa masih di sekolah si, apa jangan-jangan, di keroyok anjir, trus mati, eh mayat nya di taro di semak-semak deh"
Kedua pria itu menatap datar, tak mau lagi menyahut pembicaraan teman nya yg lari satu garis itu.
"Tuh motor mereka!" tunjuk lelaki bertopi hitam.
Ketiganya sama-sama menatap ke arah yg sama, "Itu cewek siapa?" ketiganya berkata dengan kompak.
"Iya bu, ini bentar lagi pulang, Kesa lagi nungguin bg Eric, masih ada urusan di sekolah"
"....."
"Iya...!" Kesa mematikan ponsel nya, beruntung Eric belum pulang sekolah, jadi dia punya alasan menunggu Eric, padahal yg sebenarnya yg terjadi adalah, dia duduk melamun memikirkan seseorang sampai lupa waktu.
"Aishhh....ini yg punya motor di mana sih, gue udah bilang kan, lima menit, kemana aja sih, masih mandi, atau masih dandan dulu" geram Kesa berdiri dan menendang ban motor Eric dua kali.
"Lo siapa? brani juga lo nantangin yg punya motor itu" pertanyaan itu terdengar dari arah belakang membuat Kesa berbalik, mendapati tiga orang yg kini berdiri dengan gaya nya masing-masing, seorang mengenakan topi hitam, yg lain berjaket biru, dan satu lagi menggunakan kaos putih.
Kesa menatap ketiganya bergantian, jika dia menebak, pasti mereka seumuran dengan Eric, hanya saja pasti mereka bukan berasal dari sekolah yg sama dengan yg dia pijak sekarang.
"Bukan urusan lo juga, ngk usah nanya-nanya" ketus Kesa dengan wajah dingin.
"Cihhh..pasti lo salah satu dari cewek-cewek yg sering ngejar-ngejar Eric kan" ujar lelaki berjaket biru dengan senyuman meremehkan.
"Dih..ogah, cowok kayak dia gue kejar, mending gue ijek tuh sekalian mukanya, masukin ke got, atau gue panggang sekalian, yg kalian nanya-nanya disini ngk usah sok tau, ngk usah kepo, kalo ngk ada urusan udah sana pergi"
Ketiganya saling menatap satu sama lain, entah apa yg di pikirkan mereka, "Kita itu temen nya Eric" jawab nya dengan santai.
Kesa menatap dari atas sampai bawah, lalu tersenyum miring, "Kalian pasti satu geng motor sama dia kan?" tanya Kesa serius
Lelaki bertopi hitam itu mengangguk mengiyakan, "Emang kenapa?"
"Bos kalian Eric kan?" Kesa bertanya lagi, kali ini ketiganya megangguk, "Oh.. ada ngk sih aturan nya kalo bos kalian kalah, maka yg ngalahin bos kalian itu yg bakalan jadi bos baru kalian"
Ucapan Kesa membuat ketiganya menatap Kesa dengan bingung, "Ngk ada sih, tapi ya kali ada yg bisa ngalahin dia"
"Itu-"
"Drtttt....drtttt...!" ponsel Kesa tiba-tiba bergetar, Kesa mendengus lalu mengangkat telepon nya dengan wajah masam.
"Apa si ganggu"
"Lo kemanain dompet gue, di saku jaket ngk ada" bentak Eric membuat Kesa reflek menjauhkan layar ponsel dari telinga nya.
Kesa tersenyum geli, "Gue habisin isinya, rasain, gue mau pulang" Kesa memutus panggilan telepon secara sepihak, dengan cepat dia mengeluarkan sebuah benda dari ransel nya, sebuah spidol hitam yg segera dia arah kan ke kaca spion motor.
"Ehhh lo mau ngapain"
"Diem jangan ada yg hapus ini" Kesa mulai mencoret-coret entah apa, yg pastinya sampai ke bagian tangki motor itu juga dia coret-coret.
Salah satu pria itu berinisiatif untuk mendekat dan melihat apa yg di tulis oleh gadis yg tidak dia kenal itu, "ERIC BEGO, ERIC GOBLOK, ERIC JELEK, DASAR MANUSIA IKAN"
__ADS_1
"Hehhhh?"
"Bilang sama yg punya motor, gue pulang" ucap Kesa lalu berlari secepat kilat meninggalkan parkiran.
"Anjir tu cewek nekad"
"Dia sebenarnya siapa si-?"
"Leo? kalian kenapa ke sini?" pertanyaan itu membuat ketiganya sama-sama menoleh ke arah gerbang sekolah.
Ketiganya diam sebentar, sebelum akhirnya ke empat orang yg mereka tunggu sudah sampai di parkiran, "Tu anak udah kemana?" gumam Eric masih melirik ke sana kemari, tidak terlalu fokus dengan motor nya yg kini sudah dia naiki.
"Lha... Ini apaa?" pekik Andre heran
"Eric Bego-Ehhhh? ini siapa yg-" Eric kehabisan kata-kata, mengacak-acak rambutnya karena begitu geram dengan manusia bar bar yg satu itu.
"Siapa lagi yg brani begini kalo bukan Kesa" ucap Regan tersenyum geli.
"Oh itu cewek tadi udah pergi, dia siapa?" tanya Leo, yah lelaki berjaket biru.
"Kalian duluan aja, gue nyusul dia dulu, ini udah jam empat, takut knp-knp di jalan, entar gue nyusul ke tongkrongan" ucap Eric segera menghidupkan mesin motor nya, setelah itu melaju dengan kecepatan normal.
"Dia itu ade-"
"Dia itu monster di sekolah ini, bisa di bilang satu-satunya orang yg bisa ngalahin Eric" Sambar Andre menghentikan ucapan Nico.
Andre dan Regan tertawa cekikikan, "Udah kita balik" Regan masih tersenyum tak jelas.
"Dihh seneng banget ni anak" sindir Andre
"Motor kalian dimana?" tanya Nico
Leo menujuk ke luar, "Kalian kayak nya balik ke rumah dulu, baru ngumpul di tongkrongan" ucap nya yg segera di angguki oleh Nico dan Andre.
"Hehh..pinguin ganas" seru Eric dengan muka kesal.
Kesa yg berjalan cepat dengan terpaksa menghentikan langkah nya, wajah nya masih menahan senyuman geli, di tambah nama panggilan nya itu, sama persis dengan nama kontak dirinya di ponsel Eric.
"Apaan pinguin ganas" sinis Kesa mengerucut.
"Mau kemana heh, ayo pulang"
"Ogah..gue bisa sendiri...!" Kesa lanjut berjalan dengan nada kesal, meski sebenarnya dia masih tertawa di dalam hati, melihat coretan spidol di motor nya belum do hapus sama sekali.
Eric kembali melajukan motor nya dengan sangat pelan, menyamai langkah Kesa yg sedikit cepat, "Ngapain masih di situ" sungut Kesa pura-pura acuh.
"Oh mau jalan nih, yaudah gue pergi"
"Drrrnnnn...drrrnnn..." satu tancapan gas membuat Eric melaju dengan kecepatan tinggi, Kesa terkejut bukan main, kedua matanya terbelalak, "Gu..gue..gimana?" lirih nya dengan wajah masam.
"Ishhhh...DASAR ERIC BEGOOOOO...!" teriak Kesa mengacak-acak rambutnya karena kesal, di tambah menginjak-injak kan kakinya dengan kuat-kuat. "Abang lucnut" umpat nya.
Dengan malas nya Kesa berjalan, masih dengan hati yg bersungut sungut, dia lupa kalau Eric itu adalah manusia yg tidak pernah peka, harus nya dia tidak jual mahal kepada orang-orang seperti itu. "Awas aja sampe di rumah, gue jambak sampe botak" geram nya mengepal tangan dengan sangat kuat.
"Ishhh..gue-"
__ADS_1
"Awas....awas....drrnnn...!"
"Brughhh.."
Tubuh Kesa tersentak, badan nya berputar 180° saat sebuah benda menyenggol lengan nya, benda keras yg mampu membuat tulang-tulang lengan Kesa seakan retak, dan membuat tubuh nua terhempas ke arah rerumputan di dekat jalan beraspal.
"Ahkk...!" Kesa menjerit taat kala dia terseret karena salah satu tali ransel nya menyangkut di stang motor yg masih melaju dengan kecepatan tinggi tanpa rem.
"Anjingggg..!" teriak Kesa sebelum akhirnya tali ransel nya terlepas, dan dia terjatuh ke aspal. Darah mulai bercecer di atas lutut yg tergores, kening terbentur dengan aspal, bahkan dagu nya ikut tergores.
"Woyyy..bangsat, anjing lo" Kesa masih bisa berteriak mengumpat dua orang pengemudi motor yg sudah melaju melarikan diri,
"Sakittt...!" lirih Kesa berusaha duduk dan memeriksa luka di tubuhnya.
Kesa menunduk, air matanya jatuh begitu saja, "Bg Eric...!" Kesa memejamkan matanya perlahan, air mata mengalir kembali, sembari berharap seseorang bisa menolongnya, karena dia benar-benar tidak bisa berdiri sekarang.
"Kesa..!"
"Bg Eric" ucap Kesa membuka mata, mulai menengadah ingin melihat siapa yg memanggil nya barusan.
"Lo kenapa begini, lo jatuh?" pekik nya syok
"Nathan"
Yah, dia adalah Nathan, segera Nathan membantu Kesa untuk duduk di tepi jalan, sembari melurus kan kedua kaki Kesa, yg terlihat sudah terluka, "Astaga ini gimana nih, kita kerumah sakit aja ya" ucap nya masih panik.
Kesa masih diam, tangan kanan nya terus mencengkram pergelangan tangan kiri, karena luka gores di telapak tangan nya yg membuat nya merasa sakit.
"Tu anak emang ngk bisa di atur, mau di tinggal entar di masih ibu di rumah, awas aja kalo-Ehhh?"
Eric terbelalak, segera melajukan motor dengan kecepatan tinggi, "Loh..loh..Kesaaa?" pekik Eric segera berhenti mendadak, segera turun dan menghampiri sosok Kesa yg masih duduk selesehan di atas rumput.
"Ke..Kesa lo.."
Kesa menengadah kembali, air matanya semakin deras, "Bg Eric" panggil nya mengadu, Eric berjongkok, "Ini..ini..kenapa? kenapa bisa gini hah"
"Bg Eric...hiks...!" Kesa merentangkan kedua tangan nya, Eric yg mengerti segera memeluk Adik nya dengan erat, tangis Kesa semakin pecah, suaranya teredam di bahu Eric.
"Udah..cup..cup..jangan nangis lagi" bujuk Eric mengusap rambut Kesa perlahan.
"Itu anu, mending kita ke rumah sakit aja sekarang, biar luka nya segera di obati" ujar Nathan pelan membuat keduanya saling melepaskan pelukan nya.
Eric menatap Nathan lekat, "Oh jangan bilang lo yg udah nabrak adek gue" gertak Eric dengan nada tinggi.
Nathan tersentak, mengangkat tangan nya lalu menggeleng cepat, "Bu..bukan bang, gue cuman-"
"Engga...tadi gue di serempet motor" jawab Kesa cepat.
"Ahk..yah..pake mobil gue aja, gue anterin ke RS terdekat" lanjut Nathan lagi.
Eric mengubah arah pandang nya, lalu menatap Nathan kembali, Nathan segera bangkit dan membuka pintu mobil nya, segera Eric menggendong Kesa dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Sorry, oh..ya.. tolong bawa adek gue cepet ke Rumah sakit, gue ke rumah dulu jemput ibu gue, dan nanti share lok gue pake hp nya Kesa"
Nathan mengangguk, segera menerima ransel Kesa dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
...~selamat membaca~...