Hidayah From A Hafidz Quran

Hidayah From A Hafidz Quran
Part 1


__ADS_3

Suatu tempat di mana jalanan terasa sempit, gelap serta kumuh sehingga tercipta sebuah sekumpulan orang-orang yang berbuat kejahatan sampai berbuat kriminal, tepatnya salah-satu rumah yang dikenal masyarakat kriminal yang di depan rumah hanya berbekal lampu remang-remang dalam kegelapan.


Kemudian muncul sosok orang masuk ke dalam rumah tersebut. Ketika hendak mengetuk pintu rumah teringat sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, sehingga dia langsung masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Setelah itu dia masuk ke kamar dan berganti pakaian selanjutnya, dia langsung memberikan uang kepada seorang wanita bersama seorang pria asing merupakan selingkuhan dari wanita bernama Santi yang merupakan ibu kandungnya sendiri.


"Ini uang yang aku kumpulkan hari ini," katanya meletakkan uang kertas ratusan berwarna merah menyala di atas meja.


"Bagus ... sekarang kamu boleh pergi," kata Santi berucap seakan mengusir Aisyah.


"Bagaimana dengan barang-barangnya bu ?" tanya Aisyah.


"Hem ... baiklah karena kamu sudah bekerja keras ibu akan kembalikan semua barang-barang yang ibu sita darimu," kata Sinta masuk ke dalam kamar setelah itu Sinta keluar dari kamar dengan membawa kardus besar dan menyerahkan kepada Aisyah.


"Jika kamu masih memakai benda ini di rumah ini ... maka aku tidak segan-segan akan mengantarmu ke tempat hotel dan menjadikan dirimu sebagai pela*ur mau," kata Sinta sembari mengancam Aisyah.


Sehingga mau tidak mau hanya bisa menggelengkan kepala setelah itu Aisyah pergi meninggalkan Sinta berserta pria asing itu menuju kamar.


"Bagaimana kalau uang ini kita pakai jalan-jalan sayang," kata Santi memeluk pria asing tersebut.


Sebaliknya pria asing tersebut tersenyum senang dengan ajakan Sinta, "Boleh saja sayang, kalau perlu kita pesan hotel malam ini ... karena kita akan bersenang-senang."


Sinta langsung mencium pria tersebut tatkala mengalungkan tangan pada leher pria tersebut.


"Boleh banget sayang ... baiklah kita harus bersiap-siap," kata Sinta tersenyum menggoda.


"Oke sayangku," jawab pria asing tersebut.


Ketika di kamar Aisyah langsung membuka kardus dan mengambil sebuah kitab islam Al quran kemudian memeluknya dengan penuh kasih sayang dan pengharapan sehingga terdengar suara dari luar bahwa Sinta ibunya sedang tertawa dengan pria asing di rumah mendiang ayah kandungnya.


Tatkala Naira hanya bisa terdiam melihat ibu kandungnya bermesraan dengan pria lain setelah ayah kandungnya tiada, kini dia menjadi tempat pencaharian salah-satunya mencuri jika tidak Sinta ibunya akan mengamuk kalau dia bekerja.


"Ya Allah apakah pantas aku melakukan semua ini dan ... Akankah Engkau sudi menerima diriku yang penuh dosa ini," kata Aisyah sembari menangis tanpa suara didalam kamar karena begitu sulit cobaan dalam hidupnya.

__ADS_1


...****************...


Di sisi lain Pondok Pesantren Darul Tahfiz sedang diributkan dengan adanya ajang perlombaan MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran) tingkat Provinsi yang dilaksanakan di Ibu Kota Jakarta sehingga banyak dari kalangan santri maupun santriwati berlatih untuk ajang seperti sekarang setiap tahunnya, ketika dalam tahap seleksi hanya akan terpilih 3 orang dari masing-masing perwakilan Pondok Pesantren untuk perwakilan daerah hingga tahap seleksi tersebut dilaksanakan secara ngebut karena ajang MTQ dilaksanakan pada keesokan harinya.


Kabar tersebut bukan hal yang biasa bagi mereka karena dengan mengikut ajang tersebut mereka bisa mendapatkan pengalaman ilmu serta hadiah kejuaraan jika beruntung.


Sebaliknya kini Raihan merasa semua itu tidak berguna karena saat ini pikirannya dipenuhi dengan sosok wanita misterius itu.


Sehingga Kiai Ahmad atau Abi dari Reihan menepuk bahunya dengan pelan sembari berkata, "Mengapa dengan dirimu nak ... apakah ada sesuatu yang menganggu pikiranmu ?" tanya Abi Ahmad. "apakah mengenai ajang MTQ atau ada hal lain yang membuat dirimu resah seperti sekarang ?" lanjut Abi Ahmad kepada anak sulungnya.


Reihan menoleh dan berkata, "Sebenarnya ada BI ini mengenai sosok wanita misterius yang selalu datang dalam mimpi Reihan ... tetapi menurut Abi Reihan harus bagaimana ?" tanya Reihan.


"Apakah kamu sudah istikharah nak ?" tanya Abi Ahmad.


"Sudah Abi ... tetapi sebaliknya sosok tersebut tak terlepas dari pikiran ini BI ... Reihan takut jika ini terus berlanjut maka Allah akan merasa cemburu kalau kita terus berlarut dalam sosok makhlukNya," kata Reihan.


"Tetapi mungkin saja Allah mengirim sosok tersebut lewat mimpi Reihan karena Allah memberi petunjuk kepada Reihan mengenai sosok wanita tersebut dengan begitu Reihan akan mengerti apa arti dari semua mimpi ini ... tetapi jika wanita itu adalah sosok yang dikirimkan untuk Reihan maka Reihan harus menerima keadaan dari sosok wanita itu apa adanya ... bagaimana Reihan paham kan maksud abi," kata Abi Ahmad.


"Terima kasih Abi Reihan akan ingat apa yang Abi katakan hari ini," kata Reihan yang beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu mau ke mana ?" tanya Umi muncul dari dapur.


"Reihan akan mengikuti tes untuk ajang MTQ besok," kata Reihan sembari mengambil Al al quran di atas meja dan berpamitan sembari mencium tangan kepada kedua orang tuanya, "abi ... Umi Reihan pamit dahulu assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," lanjut Reihan berlalu dari sana.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh"


"Apa abi tidak melarang Reihan untuk ikut padahal kan jadwalnya sekarang padat sekali," kata Umi Sofia atau Umi dari Reihan dengan tatapan khawatir.


"Tidak apa-apa Umi ... biarkan dia untuk mencari semua jawaban dari pertanyaannya," jawab Abi sembari menikmati secangkir kopi buatan istri tercinta.


...****************...

__ADS_1


Kemudian Reihan mendatangi ruangan tes untuk ajang besok sembari bertanya kepada ustaz, "Afwan ustaz kalau saya telat," kata Reihan terengah-engah sepanjang jalan dia berlari mulai dari rumah sampai ruangan kelas.


"Eh Gus Reihan ... ana kira Gus tidak ikut mengingat Gus banyak job sana-sini," kata ustaz memperhatikan Reihan sembari tersenyum ramah.


"Insyaallah saya tidak masalah selagi bisa mengatur waktu tidak ada hal yang mustahil kan ustaz," jawab Reihan.


"Na'am Gus mari silakan masuk," kata ustaz dengan ramah mengarahkan Reihan ke ruangan kelas tempat tes ajang tersebut.


Beberapa jam kemudian tes telah berakhir sehingga momentum ini yang paling di tunggu-tunggu bagi semua santri maupun santriwati, sebaliknya Reihan merasa gugup dengan hasilnya sekaligus tidak sabar.


Mengapa lama sekali mereka mengumumkan hasilnya? eh ... mengapa saya sekarang gugup, sebelumnya saat ada job atau tes tahun sebelumnya tidak seperti ini ... apa yang terjadi pada diri saya Ya Allah.


Momentum yang ditunggu-tunggu telah tiba sehingga Kiai Ahmad mukai membacakan hasil tesnya sembari mengembangkan senyuman kepada Reihan.


"Tiga orang perwakilan dari Pondok Pesantren Darul Tahfidz adalah selamat kepada Muhammad Zaki, Amira Humaira, dan ...," kata Kiai Ahmad sementara Reihan menunggu dengan harap-harap cemas sehingga Kiai Ahmad melihat ke arah Reihan sembari melanjutkan, "dan Reihan Muhammad Fathir selamat untuk kalian yang telah terpilih untuk mewakili daerah kita, yang tidak terpilih jangan berkecil hati karena masih banyak peluang bagi kalian untuk memperoleh pengalaman seperti ini di momentum berikutnya, beri tepuk tangan kepada perwakilan daerah kita," lanjut Kiai Ahmad sembari bertepuk tangan.


Prok ... prok ... prok.


(suara tepuk tangan)


Sehingga para santri maupun santriwati bertepuk tangan dan mengucapkan selamat. Tetapi sebaliknya Reihan merasakan hati mulai bergetar apakah ikut senang karena terpilih atau apakah ada yang lebih dari sebuah ajang.




\#Bersambung



...Selamat membaca ya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian serta kritik, saran maupun masukan kalian mengenai novel kedua dari ana, ditunggu komentar terbaik kalianšŸ¤—...

__ADS_1


__ADS_2