Hidayah From A Hafidz Quran

Hidayah From A Hafidz Quran
Part 7


__ADS_3

Sesampainya di Masjid Reihan maupun Zaki berjalan menuju ke dalam Masjid dan mencari di bagian sebelumnya dia kunjungi siang ini.


Beberapa menit kemudian hasilnya tetap nihil tidak ada dompet cokelat terjatuh di Masjid ini bahkan orang-orang yang berada di sana tidak mengetahui benda tersebut.


"Bagaimana Zaki apakah kamu menemukan dompet nya?" tanya Reihan dengan keadaan khawatir.


Zaki menggeleng kepalanya sambil berkata," Aku tidak menemukan dompet nya Reihan, tetapi apakah ada tempat lain yang baru saja kamu kunjungi selain Masjid ini," kata Zaki menatap Reihan.


"Aku hanya mampir ke Masjid ini saja, tidak ada tempat lain lagi Zaki," jawab Reihan.


"Atau jangan-jangan ada orang yang menyimpan dompet kamu Reihan," kata Zaki sembari menatap wajah Reihan.


"Apa kita tunggu di sini sampai magrib bagaimana," kata Reihan.


"Terserah saja, aku ngikut deh," kata Zaki sembari duduk di bangku halaman Masjid.


Sementara itu Aisyah berjalan menuju ke Masjid dengan sosok asliĀ  nya wanita dengan penampilannya menggunakan cadar.


Sesaat akan masuk kedalam masjid tak sengaja Aisyah melihat dua orang pemuda yang sedang duduk di bangku halaman masjid dengan penampilan yang menawan.


Tetapi tidak bagi Aisyah karena salah satu pemuda tersebut telah melihat dirinya seakan-akan menangkapnya telah berbuat kesalahan.


Dan yang jelas pemuda tersebut adalah orang yang sama dia curi dompetnya.


Aduh ... mengapa mesti ketahuan lagi dan pasti dia merasa telah kehilangan dompetnya.


Sesaat larut dalam pikiran tiba-tiba pemuda tersebut menghampiri dirinya yang terdiam tanpa bergerak sedikitpun.


"Maafkan saya jika mendekati anti apa boleh ana bertanya sesuatu kepada anti ?" tanya Raihan menunggu jawaban dari wanita tersebut.


Sementara itu dari kejauhan Zaki memperhatikan Raihan menghampiri seorang wanita bercadar.


Apa yang Raihan lakukan bersama wanita itu ?


Sebaliknya tidak ada respons dari wanita tersebut karena saat itu Aisyah hanya bisa menundukkan pandangan.


"Apakah anti mendengarkan apa yang ana katakan ?" kata Raihan kembali menunggu respons Aisyah.


Aisyah pun hanya bisa menundukkan kepalanya sebagai respons ucapan dari Reihan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu ayo ikut ana ?" kata Reihan sembari mendahului berlalu di hadapannya. Aisyah hanya bisa diam tanpa bergerak sedikitpun dari sana.


Seperti mengetahui apa yang dipikirkan oleh Aisyah, Reihan berbalik melihat Aisyah masih berdiam diri.


"Tidak apa-apa kok ana tidak membawa banyak orang hanya teman ana saja kok, insyaa Allah dia bisa dipercaya, " kata Reihan sembari tersenyum datar.


Setelah berkata demikian Reihan berhasil membujuk wanita tersebutĀ  dan mereka menghampiri Zaki yang diliputi rasa penasaran.


"Reihan dia siapa ?" tanya Zaki dengan penasaran kepada Reihan.


"Nanti aku jelaskan ayo ikut aku, " kata Reihan sembari berlalu dari hadapan Zaki begitu pula Aisyah hanya bisa menunduk dan mengikuti Reihan dari belakang.


Kemudian mereka berkumpul disebuah cafe dekat Masjid, dan disinilah Aisyah bersama dengan dua pemuda yang akan melaporkan dirinya.


Semoga dia tidak membawaku ke kantor polisi.


"Reihan ... mengapa kamu membawa wanita ini kemari ?" tanya Zaki di sebelahnya seraya berbisik kepada Reihan.


"Nanti kamu akan tahu," kata Reihan sembari melihat sekilas.


Raihan mulai menarik napas perlahan-lahan," Begini ... anti ... ?" kata Reihan mengantung menunggu respons Aisyah.


"Tidak usah memanggilku dengan anti namaku bukan anti tetapi Aisyah," kata Aisyah dengan acuh.


"Em ... baiklah ukhty Aisyah ...," kata Reihan tetapi langsung dipotong oleh Aisyah.


"Cukup Aisyah saja ... jangan pakai ukhty - ukhty nama panjangku buka ukhty Aisyah," tukas Aisyah.


"Baiklah Aisyah ... langsung saja ana ingin bertanya kepada ukh ... maksud ana Aisyah, apakah Aisyah melihat sebuah dompet berwarna cokelat di sekitar Masjid ini mungkin Aisyah tahu di mana atau ...," kata Reihan mengantung.


Melihat reaksi Aisyah sekarang, Reihan yakin bahwa Aisyah mengetahui apa yang dia katakan terlihat dari matanya yang memancarkan kekhawatiran.


"Atau Aisyah yang mengambil dompet ana ?" kata Reihan menatap Aisyah secara langsung.


Sementara Zaki sendiri yang menjadi pendengar pun langsung sontak terbelalak kaget mendengar perkataan Reihan barusan.


Mendengar hal itu sontak Aisyah tak jauh berbeda dengan Zaki tetapi dia hanya diam dan tanpa mengeluarkan satu katapun.


Jika aku jujur maka semua akan terbongkar tetapi jika tidak aku ....

__ADS_1


"Bagaimana Aisyah ?" tanya Reihan sekali lagi kepadanya.


Terjebak aku dalam situasi yang seperti ini.


"Aku ... aku memang menyimpan dompet kamu ... ini aku kembalikan kepadamu," kata Aisyah dengan gugup dan penuh kecemasan sembari menyerahkan sebuah dompet berwarna cokelat kepada Reihan.


Tanpa terduga dengan cepat Aisyah mengambil sesuatu tetapi bukan dompet milik Reihan melainkan tangan pemilik dari dompet tersebut.


Sontak menjadi perhatian kedua pemuda yang berada di depan Aisyah, terutama Zaki seakan-akan matanya akan copot dari tempatnya.


"Aku mohon padamu siapa pun kamu aku mohon jangan lapor aku pada pihak berwajib, " kata Aisyah memelas.


Sejenak Reihan tanpa sengaja menatap sosok wanita yang berada di depannya dan terlihat dari kedua matanya memancarkan ketakutan dan kecemasan yang mendalam apalagi mendengar pihak berwajib.


Mengapa dia seakan-akan takut mendengar pihak berwajib ... dan mengapa aku merasa berbeda dari sebelumnya setelah bertemu dengannya.


Keadaan sejenak menjadi diam tanpa adanya keributan di antara mereka bertiga. Tetapi keadaan tersebut semakin menjadi-jadi karena Zaki langsung melepaskan genggaman Aisyah dan Reihan.


"Apa yang kamu lakukan ?" tanya Zaki seakan-akan marah kepada Aisyah.


"Aku ... aku ..." kata Aisyah terbata-bata karena kaget dengan pernyataan Zaki.


"Kamu tidak usah berbuat seperti itu ... kamu ini kan wanita yang terjaga, lihatlah dirimu seharusnya kamu malu terhadap dirimu sendiri," kata Zaki seakan-akan menghina Aisyah.


Sementara itu Aisyah tidak bisa berucap karena dia sadar akan dirinya ini hanyalah orang yang tidak berutung apalagi semua orang membicarakan dirinya sebaliknya dia akan semakin lemah dan terpuruk.


"Mengapa kamu diam .... harus ...," kata Zaki tiba-tiba terpotong oleh Reihan.


"Zaki jangan seperti itu ... tidak baik jika kamu berlaku seperti ini itu sama saja kamu telah menyakiti dirinya ... ingat Zaki jika kamu berbuat demikian sama saja kamu telah menyakiti seorang ibu," kata Reihan menasehati Zaki sembari menyentuh bahu Zaki.


Sadar akan perbuatannya diluar kendali Zaki kemudian beristigfar dan diam tanpa mengutarakan sepatah katapun.


"Maafkan teman ana jika itu menyakiti dirimu Aisyah ... sekali lagi ana minta maaf, " kata Reihan sembari mengatupkan kedua tangannya kepada Aisyah.


"Tidak apa-apa, " kata Aisyah.


Qoutes :


..."Apakah aku bisa meraih bulan yang begitu cantik dipandang tanpa membaginya kepada siapa pun " ~Aisyah....

__ADS_1


#Bersambung


...Selamat membaca ya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian serta kritik, saran maupun, masukan kalian mengenai novel kedua dari ana, ditunggu komentar terbaik kalianšŸ¤—...


__ADS_2