Hidayah From A Hafidz Quran

Hidayah From A Hafidz Quran
Part 8


__ADS_3

Di sinilah aku bersama dua lelaki bagaikan Pangeran Arab yang tersesat entah ke mana, sementara aku bagaikan pasir yang ada di jalanan.


Tetapi sayang aku terjebak dalam kondisi seperti sekarang.


"Maafkan aku," hanya kata itu yang terlintas di benakku.


Aku pun langsung beranjak dari tempat duduk agar cepat meninggalkan tempat yang tidak pantas bagiku, tetapi seseorang menahan ku agar tidak pergi dari sana.


"Aisyah," terdengar suara Nang merdu dan tegas serta napas naik turun seakan-akan menyalurkan rasa takut kehilangan.


"Apakah kamu ada waktu besok ?" Tanya Reihan sembari menunggu respons dariku.


Aku mengerutkan keningku sembari menatap wajah Reihan dengan penuh tanda tanya.


"Urusan ku sudah selesai bukan ?apa ada hal yang perlu di permasalahkan ?" Jawabku kembali bertanya kepada Reihan.


Sementara itu Reihan menggeleng kepala sembari menundukkan padangan.


"Benar-benar orang aneh mau cari uang di bawah sana memang ada ? sampai harus menunduk begitu ... Atau mungkin dia sakit leher," batinku menggerutu.


"Aku tidak janji ... Assalamualaikum," aku langsung keluar dari cafe.


Sementara itu Reihan dikejutkan dengan adanya Zaki di samping nya sembari menatap Umar dengan pandangan yang sulit diartikan, "Ana harap kamu tidak melakukan hal yang dibenci Allah Reihan," setelah itu Zaki keluar dari cafe di iringi Reihan yang menyusul Zaki.


"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu ... Aku hanya ingin tahu apa yang membuat Aisyah seperti itu ?" Kemudian Reihan menghembuskan napas seakan-akan dia dalam masalah.


Zaki menoleh ke samping temannya sembari mengerutkan keningnya dan bertanya, "mengapa kamu begitu memperhatikan seseorang yang baru saja kamu temui hari ini ? Apa yang membuatmu seperti ini Reihan ... Aku tidak ingin kamu melakukan hal diluar batas kemampuan kita Reihan ... Jangan terjebak dalam nafsu sesaat," Zaki menatap Reihan lama agar pemilik jiwa ini sadar atas apa yang dialami dengan nada tegas dan penuh kekhawatiran.


Hingga saat itu Reihan memejamkan matanya seraya beristighfar, " Astaghfirullah ... Ya Allah maafkan hamba mu ini ... astaghfirullah."


"Jazakallah Zaki kamu sudah mengingatkanku tetapi ... Aku harus pergi menemuinya tidak enak karena aku sudah berjanji kepadanya," kata Reihan merasa tenang dengan keadaan nya sekarang.


" Itu keputusan mu aku hanya mengingatkan saja, jika kamu berniat ingin mengikatnya maka lamar lah dia oke," kata Zaki tersenyum memandang Reihan yang saat ini bersemu merah.


"Ayo kita harus latihan karena besok akan menjadi hal penting bagi kita, jangan kamu sia - sia kan oke," kata Zaki berlalu meninggalkannya.

__ADS_1


"Oke ... Eh jangan tinggalkan aku," Reihan mengejar Zaki yang jauh dari sana sembari tersenyum untung tidak disebut orang tidak waras seperti di jalanan karena ketampanan dimilikinya tidak akan di kira sedang tidak waras oke.


Keesokan harinya tanpa sengaja takdir mempertemukan kembali baik Aisyah dan Reihan merasa ada sesuatu yang berbeda. Sementara Asiyah kini mulai bersitegang dengan keadaan seperti ini.


"Sebentar ... " ucap Reihan menahan Aisyah pergi darinya.


"Saya tidak kenal kamu ?" Kata Aisyah dengan tegas sembari menatap tangannya disentuh pria asing.


"Kamu benar Aisyah kan ?" Tanya Reihan menatap Aisyah dengan tatapan menyelidik.


"Kamu ini siapa sih ... Aku mau kerja," kata Aisyah yang saat ini menyamar sebagai laki-laki.


"Ikut ana," ucap Reihan menarik tangan Aisyah menuju tempat ganti.


Setiba di tempat ganti yang kebetulan sedang dalam keadaan sepi, disitulah Reihan membalikkan badan dan melirik Aisyah yang sedang menundukkan kepalanya.


"Ana tahu kamu pasti Aisyah itu, " ucap Reihan menatap lurus seraya melirik Aisyah.


Seketika Aisyah terkejut akan jati dirinya mulai terbongkar karena sosok yang saat ini menganggu pikiran nya.


Entah setan apa yang merasuki dirinya hingga Reihan mulai perlahan mendekati Aisyah dan menatap tajam seakan-akan menghipnotis.


"Ana yakin sekali bahwa kamu ini Aisyah yang selama ini ada dalam pikiran ana ... jadi, ana tidak akan salah orang meskipun kamu adalah laki-laki sekalipun," ucap Reihan menyeringai tepat di hadapan Aisyah tanpa adanya jarak di antara mereka.


Sontak Aisyah dibuat kaget mendengar pernyataan tersebut, seketika bulu kuduknya mulai merasakan sesuatu yang berbeda.


Ada apa dengan pria ini mengapa aku merasakan hal berbeda jika sedang bersamanya ?


Sementara itu Reihan tidak sadar dengan apa yang dilakukannya saat ini. Hingga mereka larut dalam rasa yang membingungkan.


Tak berlangsung lama azan berkumandang sehingga mereka sadar dengan tindakan barusan.


"Maafkan ana Aisyah, " ucap Reihan bingung harus mengatakan apa yang seharusnya.


Aisyah hanya mengangguk dan pergi menuju tempat ganti wanita.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Aisyah mulai berpenampilan seperti layaknya perempuan muslimah tak lupa cadar yang menghiasi wajah cantiknya.


Tetapi Aisyah keluar dari tempat ganti, dikejutkan dengan adanya Reihan yang sedang menunggu berganti pakaian.


Apa yang pria ini lakukan di sini ? bukankah ini sudah menjelang zuhur, apa yang sedang pria ini tunggu ? apakah dia menungguku ... tidak ... tidak mungkin hal itu terjadi, Aisyah jangan sampai kamu berharap dengan makhluk di depanmu ini, bantu aku Tuhan.


Aisyah tanpa pikir panjang melalui Reihan tetapi saat menjauhi pria ini sebaliknya terdengar suara menahannya seperti sebelumnya.


"Kamu mau pergi ke mana Aisyah ?" ucap pria itu yang mulai mendekatinya.


"Aku mau pergi salat lah masa mau berjalan - jalan," ucap Aisyah dengan ketus.


"tetapi kalau mau salat bukan ke arah situ," ucap Reihan seraya menahan tawa.


"Lah apa bedanya kan sama - sama mengarah ke dalam masjid, " jawab Aisyah mulai kehilangan kesabaran nya.


Aisyah ingat Allah bersama orang - orang yang sabar jangan sampai kau melakukan hal aneh yang mengundang banyak orang ... ingat Aisyah.


"Memang benar tetapi kalau kamu ke sana pasti akan salat sendirian," ucap Reihan yang membuat Aisyah tidak paham maksud perkataan nya.


Maksud pria ini apa ? sampai harus menghalangiku untuk beribadah padahal ini sudah ketinggalan jauh buat qadha salat berjamaah, aku tarik semua ucapan ku tentang dirinya.


"Lantas aku harus apa ? jangan - jangan kamu mau ngajak aku bolos salat ?" ucap Aisyah mulai curiga dengan maksud Reihan.


Sementara Reihan langsung menyeringai seraya melirik Aisyah yang terlihat sedang kesal.


"Ana tidak akan membuat Aisyah mendapat dosa justru ana mau membantu Aisyah untuk mendapat pahala lebih dari salat sendirian," ucap Reihan sembari mengukir senyuman tipis.


"Bagaimana caranya ?" tanya Aisyah dengan penasaran.


"Ikut ana," ucap Reihan berlalu dari sana.


#Bersambung


...Selamat membaca ya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian serta kritik, saran maupun, masukan kalian mengenai novel kedua dari ana, ditunggu komentar terbaik kalianšŸ¤—...

__ADS_1


__ADS_2