
Mengapa semua orang tidak memberikan kesempatan kepada orang yang telah berbuat kesalahan untuk kembali kepada jalan yang benar seharusnya mereka yang baik membimbing dan menuntunnya bukannya menghina sesama.
Aisyah meruntuhkan dirinya sendiri dengan apa gunanya jika membahas hal ini jika akan menyebabkan dirinya ikut bersedih dengan keadaan dirinya karena Aisyah pun termasuk orang yang banyak melakukan kesalahan.
Setelah beberapa saat Aisyah telah berganti pakaian bukan menjadi seorang wanita sebaliknya menjadi seorang lelaki yang hobinya mencuri dengan daya pikatnya tetapi saat ini Aisyah tidak melakukan pencahariannya saat ini karena pikirannya terjatuh pada kejadian yang baru saja dia alami.
Beberapa saat Aisyah teringat sesuatu hingga dia pun mulai membuka isi tasnya dan mulai membongkar isi tas tersebut sehingga benda seperti dompet berwarna cokelat terjatuh dari tasnya.
Aisyah perlahan membuka isi dompet tersebut, sehingga terdapat beberapa lembar uang dalam jumlah yang lebih banyak selain itu Aisyah mulai membuka tempat sisi dompet tersebut sehingga terdapat kartu ATM, SIM, dan lain sebagainya.
Tetapi yang menjadi pusat perhatian Aisyah ialah sebuah kartu yang bertitel KTP dan sebuah foto berukuran 3 × 2 berlatar biru. Sesaat dia memperhatikan kedua benda tersebut dengan diam.
Sehingga merekah senyuman dari wajah seorang Aisyah.
Haha ... tidak ku sangka foto dirimu jelek sekali di KTP tetapi di sini kamu terlihat angkuh tetapi sebenarnya kamu cuek, datar, pemarah pokoknya kamu mirip kutub es.
"Jadi namanya Reihan Muhammad Fathir nama yang cocok dengan tampangnya kaya kutub es di utara," kata Aisyah sembari menggerutu tidak jelas. "ini semua salah dirimu kutub es ... seandainya aku tidak bertemu denganmu kejadian tadi tidak akan terjadi bikin kesal saja," lanjut Aisyah.
Kalian pasti berpikir bahwa dari mana Aisyah mendapatkan dompet dari seorang pria yang bernama Reihan, ingat tidak saat kejadian dari aksi tindakan Aisyah yang tiba-tiba memeluk Reihan secara spontan sehingga saat itulah kesempatan bagi Aisyah untuk memulai aksi lainnya dengan mencuri salah satu benda berharga dari kutub es yaitu dompet milik Reihan.
"Tetapi mengapa aku merasa pernah melihat dirimu kutub es ... seolah-olah aku merasa nyaman berada di dekatnya ... tidak ... tidak ini tidak boleh terjadi Aisyah dia berbeda dengan dirimu jadi jangan terlalu banyak berharap kepada makhluk Allah yang lebih tinggi tingkatannya daripada dirimu yang hanya butiran debu yang usang," kata Aisyah memotivasi dirinya sendiri sembari memandang pemandangan orang-orang yang sibuk dengan kegiatan masing-masing sehingga Aisyah seolah-olah dirinya hanya makhluk yang kesepian, "ayah aku kaget ayah," lanjut Aisyah sembari mengusap air mata yang tanpa sengaja lolos dari pelupuk mata.
Sementara itu di hotel semua orang sedang menunggu kedatangan Reihan yang pergi entah ke mana karena saat ini mereka akan backing panggung di ruangan pertemuan.
"Ke mana Gus Reihan pergi? biasanya tidak akan selama ini ?" tanya salah satu panitia.
"Mungkin sebentar lagi Reihan akan kembali pak ... biasanya dia berada di Masjid untuk latihan di sana," kata Zaki
__ADS_1
"Ya sudah ... kalau Gus Reihan sudah kembali kabari saya dengan segera ya jadi, kita langsung backing panggung," kata bapak tersebut meninggalkan Zaki yang mulai haru-haru cemas.
Padahal saat ini adalah saat dinantikan tetapi mengapa kamu mesti pergi begitu lama Gus.
Tak lama setelah itu datang seorang lelaki bersama seorang perempuan yang menghampiri Zaki.
Mereka adalah Amira dan Reihan yang baru saja tiba di hotel sehingga Zaki datang dengan berbagai macam pertanyaan.
"Kamu dari mana saja Gus ... aku di sini khawatir karena kamu lama dari biasanya," kata Zaki crocos seperti seorang wanita.
"Aku tidak ke mana-mana hanya mampir di Masjid saja dan ...," kata Reihan terpotong
"Ayo Rei kita hampiri panitia agar kita bisa latihan di atas panggung kemudian tidur kembali," kata Amira dengan tersenyum kecil.
"Kamu ini mikirnya tidur saja," kata Zaki kepada Amira sehingga Amira hanya mendelik seakan-akan mengejek Zaki.
Sementara Reihan melihat mereka berdua hanya menggelengkan kepala. Mereka pun mulai pergi menuju panggung utama.
"Dari mana saja kau ?" tanya Sinta kepada anaknya.
"Aisyah ... mencopet lah apalagi," kata Aisyah mencoba menghindari tetapi tidak bisa karena Sinta sudah mengetahui tingkat aneh Aisyah.
"Benarkah ... dan mana hasilnya ?" tanya Sinta.
"Ini ...," kata Aisyah sembari memberikan uang berwarna merah 3 lembar saja kepada Sinta.
"Cuma dapat segini ... kamu kira ini cukup untuk biaya kehidupan kita ... coba kamu bayangkan sekarang kebutuhan kita tinggal sedikit, tagihan listrik maupun air belum lunas masa cuma tiga ratus ribu ... mana cukup, " kata Sinta dengan nada yang keras.
__ADS_1
"Tetapi ini saja yang bisa Aisyah dapat bu ...," kata Aisyah sembari menundukkan kepala.
"Kamu jangan berbohong dengan ibu Aisyah, ibu tahu kamu pasti menyembunyikan lebih uang yang kamu simpan dari ibu," kata Sinta.
"Tidak bu itu semuanya yang Aisyah dapat dan Aisyah serahkan semuanya kepasa ibu," kata Aisyah yang membela dirinya.
"Bohong ... sini mana uangnya," kata Sinta mulai mengambil tindakan dengan menggeledah di tiap saku baju maupun celana Aisyah.
Akhirnya Sinta mendapatkan dua lembar uang berwarna merah dalam sakunya baju Aisyah.
"Apa ini Aisyah ... apa ini ... uang kan," bentak Sinta sembari mengangkat dan melambaikan uang di hadapan Aisyah sementara Aisyah hanya terdiam dan menunduk lesu.
"Ibu ... Aisyah ingin membeli ...," kata Aisyah terpotong.
"Apa ... kamu pasti ingin membeli buku yang tidak berguna itu kan demi sebuah buku kamu berani berbohong kepada ibumu sendiri," kata Sinta dengan mata yang menyala-nyala. Sesaat Aisyah akan berucap sebaliknya Sinta langsung mengambil tas Aisyah dengan paksa dan menyuruh Aisyah, "sekarang kamu masuk ke dalam kamar cepat," lanjut Sinta dengan marah.
Kemudian Aisyah berlari masuk ke dalam kamar sehingga berakhir dengan tangis yang memilukan.
Hiks ... hiks ... mengapa Ya Tuhan Engkau memberikan cobaan kepada diriku ... apakah aku bisa melewati cobaan ini Ya Allah.
Sementara itu di luar Sinta duduk dan terdiam atas perbuatan yang dilakukan kepada Aisyah begitu kasar kepada anaknya.
"Maafkan ibu nak ...," sesal Sinta hanya terucap dalam benak dan memendam untuk dirinya sendiri.
Setelah beberapa waktu merenung dan memenangkan pikiran dan hatinya Sinta pun mulai menggeledah semua benda yang terdapat di dalam tas Aisyah, sesaat pandangan Sinta jatuh pada sebuah dompet berwarna cokelat yang baru saja terjatuh dari tas tersebut.
"Dompet siapa ini ?" kata Sinta bergumam sembari memperhatikan dompet tersebut.
__ADS_1
#Bersambung
...Selamat membaca ya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian serta kritik, saran maupun, masukan kalian mengenai novel kedua dari ana, ditunggu komentar terbaik kalian🤗...