Hidayah From A Hafidz Quran

Hidayah From A Hafidz Quran
Part 4


__ADS_3

Setelah larut dalam pikiran Aisyah mulai berhadapan dengan sosok pria yang telah terlibat aksi dengannya.


Sekilas dia memandang sosok pria dengan tatapan kagum tetapi hanya sekilas karena dirinya terlanjut kesal dengan perkataan pria yang berada di depannya.


Tetapi hanya sesaat saja setelah itu Aisyah berniat untuk pergi dari sana. Sayangnya ada seseorang menahan dirinya sembari berkata, "Tunggu," kata Reihan.


Ya Reihan menahan Aisyah agar tidak pergi seperti kejadian kemarin, "kita salat zuhur dahulu mumpung sekarang waktunya telah tiba," lanjut Reihan.


Sementara Aisyah bingung apakah dia harus menerima tawaran untuk salat bersama atau justru menolak dengan melarikan diri sebelum sekelompok warga tadi menghampirinya.


Tetapi di sisi lain dia tidak mungkin meninggalkan kewajibannya apalagi Masjid ini adalah tempat satu-satunya yang tidak banyak di datangi oleh banyaknya orang karena jika Aisyah tidak melaksanakan selain di tempat ini bagaimana dia melakukannya karena jika di rumah akan berakhir ketahuan Santi.


Jika aku lari ke mana lagi aku harus salat jika aku melaksanakan salat di rumah maka ibu akan menghukum diriku sebaliknya jika aku kabur maka aku tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, bagaimana ini ?


Setelah berpikir panjang akhirnya mau tidak mau Aisyah pun mengangguk dan pergi menuju ke tempat wudhu khusus wanita. Setelah itu mereka mulai menjalankan salat zuhur berjamaah.


Selepas menjalankan salat tepat di barisan wanita Aisyah memanjatkan doa sembari memejamkan mata terkadang air mata meluncur dengan sendirinya.


Ya Allah ... Ya Tuhanku ...


Terima kasih karena Engkau telah memberikanku kesempatan agar bisa mengabdi kepadaMu Ya Allah ...


Hamba bersyukur atas semua kesempatan ini Ya Rabb ...


Ya Allah ... Ya Rabb ...


Aku berserah kepadamu dengan apa yang selama ini aku jalani ...

__ADS_1


karena aku yakin Engkau tidak pernah mengecewakan orang-orang yang memanjatkan doa dengan penuh pengharapan ...


Aku mohon Ya Allah agar Engkau jaga dan hiasi hati ini dengan manisnya keimanan ...


Aamiin.


Sementara itu dari kejauhan Reihan sekilas menoleh tepat di balik celah hijab yang saati itu sedang berangin sehingga kain pembatas tertiup oleh angin sepoi-sepoi. Sepintas sosok wanita yang sangat cantik tanpa kain penutup yang selama ini dia tutup dari publik, memanjatkan doa dengan penuh pengharapan terlihat dari wajah dan air mata yang menjadi saksi dari seorang hamba kepada Sang Pencipta.


Seketika Reihan terpaku melihat Aisyah dengan pandangan yang berbeda dari sebelumnya, tetapi sayang itu hanya sementara saja karena Reihan dikejutkan dengan orang yang berada di sebelahnya hingga mereka mulai saling bersalaman.


Aisyah mulai membereskan barang-barangnya dan akan beranjak dari sana, tetapi sesaat samar-samar dia mendengar suara orang mengaji dan muai melantunkan surah Ar-Rahman di balik hijab pembatas pria dan wanita.


Masya Allah siapakah yang mengaji ini ... begitu meneduhkan hati apalagi dia sedang melantunkan surah favoritku ?


Senang bahwa Aisyah dapat mendengar secara langsung surah yang menjadi kesukaannya sehingga perlahan-lahan Aisyah membuka sedikit pembatas dan ternyata suara tersebut tidak lain dan tidak bukan suara dari pria yang terlibat dalam aksinya.


Sontak Aisyah kaget dibuatnya, "Jadi selama ini pemilik suara yang meneduhkan itu dia ...," batin Aisyah.


Sementara itu Reihan menyudahi hapalannya pada hari ini, tetapi ada sesuatu yang sedang memperhatikan dirinya sehingga dia menoleh ke arah celah kain pembatas di sana.


Wanita yang sama tetapi sekarang tanpa adanya kain yang menutup wajah cantiknya, seketika Reihan berpaling dan mengucapkan istighfar beberapa kali.


Ya Allah maafkan diri ini karena telah melakukan banyak zina pada hari ini.


Sedangkan Aisyah langsung menghindar tatapan dari pria tadi karena telah diam-diam mengintip pria tersebut dibalik kain pembatas di antara mereka.


Kemudian mereka pun bertemu kembali di persimpangan jalan secara berlawanan melihat hal itu Aisyah kembali berbalik dan mulai melangkah tetapi sayang sekali dia menginjak jubahnya sendiri sehingga Aisyah mulai kehilangan keseimbangan.

__ADS_1


Dengan cepat Reihan menghampiri Aisyah dan tepat saat itu sebentar lagi Aisyah akan mencium tanah air tetapi tidak, ada seseorang yang menahan dirinya agar tidak terjatuh karena sekarang Reihan entah kapan dia melakukan tindakan barusan sehingga dia berakhir memegang pinggang dan tangan wanita bercadar tersebut sebagai penahan supaya wanita tersebut tidak terjatuh.


Seketika waktu seakan berjalan dengan lambat dan seolah-olah keadaan mereka seperti tertimpa hujan hati yang mulai berjatuhan menghampiri mereka, dan jantung mulai beraksi satu sama lain.


Jantungnya berdetak dengan kencang ... aku tidak menyangka kalau dia melakukan hal ini ... kalaupun aku memilih aku mau menjadi seseorang yang selalu ada untuknya tetapi sayang itu hanyalah ilusi semata.


Mengapa aku bisa mendengar detak jantung wanita ini ... siapa dia mengapa dia selalu muncul dalam mimpiku dan sekarang mulai mengobrak-abrik isi pikiranku.


Sesudah itu terjadi perasaan yang hinggap dalam diri masing-masing yang tidak akan terlupakan bagi mereka. Akan tetapi, momentum tersebut terpotong dengan suara wanita yang mulai menghampiri mereka sehingga baik Aisyah dan Reihan langsung menjauhkan diri satu sama lain dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Rei ... kamu di sini ayo kita pulang ke hotel ... kamu sudah di tunggu sama orang lain cepetan ya," kata wanita tersebut sembari menggandeng tangan Reihan tepat di depan Aisyah wanita itu hanya memandang tajam ke arah Aisyah sehingga Aisyah pun mendapat tatapan seperti itu mulai menundukkan pandangan.


"Eh ... Amira jangan seperti ini ...," kata Reihan merasa tidak enak dengan tindakan Amira sekarang kepada wanita bercadar tersebut.


"Maaf ana harus pergi assalamualaikum," kata Reihan kepada wanita bercadar yaitu Aisyah.


"Waalaikumsalam"


Setelah sosok berpasangan telah pergi meninggalkan tempat tersebut tak lama dia pun mulai beranjak dari sana tetapi sayangnya terdengar suara seakan-akan mengancam dirinya dia pun berbalik tepat saat itu muncul wanita yang bersama pria tadi entah dari mana sembari menatapnya dengan mengintimidasi.


"Hey Kamu yang pakai cadar, kamu jadi perempuan jangan sok cari perhatian kamu tahukan, kalau kamu itu seorang muslimah lihatlah dirimu bahkan kamu berpenampilan seperti orang yang berilmu didepan publik, tetapi setelah melihat kejadian barusan bagiku kamu nol tidak bernilai harganya di depan seorang lelaki yang bukan mahramnya, ingat baik-baik jangan sekali-kali kamu mendekati Gus Reihan mengerti," kata wanita itu yang tak lain ialah Amira yang sedang menatap tajam ke arah Aisyah.


Sementara Aisyah tidak berani membalas perkataan Amira hanya bisa menganggukkan kepala, hingga saat ini pikirannya sedang bercampur-aduk karena setelah kejadian yan menimpa dirinya. Kemudian Amira pun berlalu dari hadapan Aisyah.


(Quote)


~ Cukup Allah menjadi pendengar setia mu, ketika tidak ada satupun yang percaya dengan apa yang kamu ucapkan, maka percayalah bahwa Allah adalah teman kita kembali dan berkeluh kesah.~ Reihan Muhammad Fathir.

__ADS_1


#Bersambung


...Selamat membaca ya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian serta kritik, saran maupun, masukan kalian mengenai novel kedua dari ana, ditunggu komentar terbaik kalianšŸ¤—...


__ADS_2