
Ketika hari ajang MTQ telah tiba Reihan beserta rombongan akhirnya sampai di ibu kota Jakarta yang sangat luas serta terdapat banyak gedung pencakar langit di sana. Sesaat kekaguman menghampiri mereka tetapi kembali pada prioritas tujuan untuk datang ke sini.
"Gus Rei ... mengapa kamu terlihat seolah-olah telah mendapatkan bintang di langit," kata Amira memandang Reihan sepupunya dengan bingung.
"Ah tidak ... aku hanya sekilas kagum dengan keindahan ibu kota Jakarta saja," jawab Umar sekena.
"Bukannya kamu pernah datang ke Jakarta ya Gus ?" tanya Amira penasaran.
"Benar juga sih ... tetapi sejak tahun lalu saya tidak tahu kalau Jakarta akan seperti ini sekarang kalau tahun sebelumnya gedung seperti ini tidak banyak dari sekarang," jelas Reihan.
Amira mengangguk dan mulai melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, sedangkan Zaki tertidur pulas bersandar di sampingnya.
Seolah-olah kamu telah mendapatkan bintang di langit ... apakah ini JalanMu Ya Rabb sehingga aku menjejakkan kaki kembali ke kota ini.
Sehingga tak terasa mereka tiba di sebuah hotel yang sudah dipesan oleh panitia acara untuk masing-masing daerah, kebetulan hotel yang Reihan berserta rombongan sangat bagus dan tak kala tinggi seperti bangunan pencakar langit lainnya.
Setelah melakukan check in mereka masuk ke dalam kamar hotel masing-masing untuk beristirahat sejenak tetapi tidak bagi Reihan sekalipun. Baginya jika tidak melaksanakan ibadah semua yang telah dilakukan menjadi hal yang merugikan bagi dirinya maka dari itu dengan ucapan syukur lewat ibadah akan menjadi lebih nikmat seperti kita telah menyantap makanan mewah hingga meraih kepuasan setelah menelan hidangan tersebut begitu pula dengan beribadah.
Ketika Reihan akan pergi Zaki kemudian keluar dari kamar mandi sembari berkata, "Kamu tidak salat dan latihan di sini Reihan ?" kata Zaki sembari menghampiri Reihan.
"Kamu tahu aku kan kalau aku tidak bisa melakukan hal itu di tempat ini walaupun semuanya telah terjamin tetapi hatiku terasa hampa jika berada di sini ... maka dari itu aku pergi ke Masjid saja ... apakah kamu mau ikut Zaki ?" tanya Reihan.
"Aku tahu malah sebenarnya aku mau saja ikut tetapi karena sehabis ini kami akan latihan Tilawah maka mau tidak mau aku harus ikut Rei maafkan aku ya," kata Zaki kepadanya.
Reihan hanya mengangguk tersenyum sembari berkata, "Tidak apa-apa Zaki, kalau begitu aku pergi dahulu ya, assalamualaikum," kata Reihan pamit dan beranjak dari kamar hotel.
"Waalaikumsalam, hati-hati Reihan," jawab Zaki.
Setelah itu Reihan pergi meninggalkan hotel dan mencari Masjid terdekat hingga tak lama kemudian sampailah dia di sebuah Masjid yang begitu besar untuk pertama kalinya dia berada di Masjid ini tak lama kemudian dia pun masuk kedalam.
Di sisi lain Aisyah sekarang berada di sebuah taman yang menjadi trending sekarang hingga menjadi tempat yang banyak dikunjungi oleh banyak orang.
"Ini lah saatnya ...," batin Aisyah menyeringai sembari memperbaiki letak topi yang dia kenakan.
Akhirnya Naira mendekati seorang wanita yang sedang duduk di bangku taman dengan sendirian sehingga dia mendekati wanita tersebut sembari ikut duduk di sana.
__ADS_1
"Hem ... sedang mencari seseorang ya ka ?" tanya Aisyah memulai aksinya dengan menatap langsung lawan pembicaranya.
Sehingga perempuan tersebut menoleh ke samping dan setelah itu pandangan wanita itu tak lepas dari wajah tampan dari Aisyah.
"Iya dek, kaka sedang menunggu teman kaka tetapi entah ke mana dia tidak muncul batang hidungnya," kata wanita muda tersebut yang mulai larut dalam ketampanan seorang Aisyah. "ngomong-ngomong kamu ganteng sekali dek boleh aku minta nomor ponselmu," lanjutnya seakan-akan dia sedang terhipnotis oleh seseorang.
Sementara itu Aisyah mulai tersenyum dan meneruskan aksinya tak lupa tangannya mulai bergerak maju menuju tas seorang wanita tersebut.
"Terima kasih ka, nanti aku akan berikan nomor ponsel kaka," kata Aisyah.
Setelah mendapatkan apa yang telah menjadi incarannya dengan sekali kedipan matanya ke arah wanita tersebut secara otomatis wanita itu tersadar dalam kekaguman seorang Aisyah.
"Eh aku sedang apa tadi ?" tanya wanita itu dengan kebingungan.
"Kaka tadi banyak bicara denganku sehingga kaka lupa kalau teman kaka sedang menunggu, kalau begitu aku pergi dahulu ka dadak kaka cantik," kata Aisyah menyeringai.
Setelah berhasil Aisyah kemudian berlari sekencang-kencangnya, inilah salah satu trik dia dalam menjalankan pencurian dengan memikat target sasaran sehingga dalam sekejap target akan larut dalam pesona Aisyah sehingga hanya Aisyah yang bisa melakukan hal tersebut dari semua kriminal yang ada karena inilah keistimewaan dari seorang Aisyah selain bisa berubah penampilan menjadi seorang lelaki, dia juga bisa memikat orang yang menjadi target sasarannya.
Setelah Aisyah pergi meninggalkan sosok wanita tersebut, tak lama kemudian terdengar suara teriakan suara wanita tersebut dengan kerasnya sembari berkata, "Pencuri !"
Hingga orang-orang disekitar melihat Aisyah langsung mengira bahwa Aisyah adalah sosok pencuri tersebut sehingga mereka mulai mengejar Aisyah.
Bruk....
"Aduh ... sakit punggungku," keluh Aisyah sembari mengusap punggungnya yang terhempas dengan keras.
Tak lama kemudian lelaki tersebut bersuara, "Maafkan saya ... saya tidak tahu kalau anta sedang berlari," kata sosok lelaki itu yang dialah Reihan.
"Anta atau anti sama dengan aki-aki ih ... dia kira aku aki-aki g*la banget nih orang ... masa aku yang rupawan begini di bilang aki-aki," batin Aisyah menggerutu.
"Kalau jalan itu lihat-lihat dong ... ini saya jadi sakit punggung gara-gara kamu menghalangi jalan saya tahu dasar b*doh," kata Aisyah sebagai lelaki dengan kesal tak lupa sesekali dia mengumpat ke arah lelaki di depannya.
"Iya ana tahu tetapi anta ini tidak seharusnya juga berlari seperti itu seakan-akan anta ini seperti mencuri sesuatu," kata Reihan kepadanya.
Sementara Aisyah langsung terdiam kehabisan kata-kata kemudian dia langsung spontan berbicara, "Eh enggak ... aku bukan pencuri," kata Aisyah langsung menunduk karena jika dia mengangkat wajahnya dan menatap lelaki maka akan ketahuan wujud aslinya.
__ADS_1
"Ana tidak menyebut anta pencuri ... ana hanya berandai saja," kata Reihan.
"Sudahlah saya harus pergi ...," kata Aisyah dengan berlari perlahan-lahan karena sakit di punggungnya sangat terasa.
Tetapi setelah Aisyah pergi dari hadapannya tiba-tiba segerombolan orang berlari seperti mengejar seseorang yang telah mengambil sesuatu tepat, saat di depan Reihan salah satu dari mereka bertanya kepada Reihan, "maaf mas apakah mas tadi melihat sosok pencuri lewat sini ?" tanya salah satu warga kepadanya.
Sesaat Reihan terdiam tetapi kemudian dia menggelengkan kepala dengan ramah, "Maaf pak saya tidak melihatnya karena saya baru saja lewat sini."
"Oh iya mas terima kasih atas informasinya ... hati-hati mas kalau sekarang banyak terjadi kriminal jadi tetap waspada ya mas," kata warga tersebut kemudian pergi entah ke mana.
Setelah itu Reihan pergi menuju Masjid setelah sampai dia langsung melaksanakan salat duhur kemudian dia duduk di pojok dan mulai melantunkan ayat-ayat suci al quran.
Di sisi lain Aisyah berlari hingga dia sampai menuju Masjid tetapi dia teringat sesuatu yang selama ini dia jaga adalah salat. Hingga Aisyah mulai menunju tempat khusus wanita yang kebetulan tempat itu sedang kosong.
Selanjutnya dia mulai membuka perabotan lelakinya mulai dari rambut sampai sepatu dan menyimpannya ke dalam tas ransel yang selalu dia bawa hingga dia pun pergi ke ruangan salat khusus wanita.
Sementara di sisi Masjid yang sama Reihan larut dalam kesyahduan Kalam Nya. Tanpa sadar ada sosok wanita yang melihat pemandangan itu dengan terharu dan kagum dengan lantunan dari sang lelaki tersebut.
Masya Allah terbesit hati ini ingin seperti dia Ya Allah tetapi apakah aku bisa seperti lelaki itu yang dengan mudahnya menghafal sebiji kitab al quran ... sementara diri ini banyak melakukan dosa.
Tanpa sadar sosok itu adalah Aisyah dengan penampilan seorang wanita dengan memakai baju serba hitam tak lupa kain penutup wajah yang selalu tergantung di wajahnya tanpa sengaja melihat dari bilik celah-celah Masjid.
Penampilan ini hanya ilusi belaka bagiku untuk bisa memakai dan melaksanakannya dengan istiqomah aku pun tak mampu entah kapan waktu itu akan menjemput diriku.
Sementara itu Reihan telah menyelesaikan hapalannya dan sesat hendak mengembalikan al quran di atas lemari tanpa sengaja dia menoleh tepat di celah-celah bilik Masjid terlihat sosok wanita bercadar yang sedang melihat ke arahnya beserta pantulan cahaya yang menghiasi dirinya.
Sebaliknya Reihan terdiam dan memandangi sosok wanita yang bersinar terang dengan tatapan yang dalam dan sulit untuk dijelaskan.
Teng ... teng ... teng.
Suara jam di Masjid berbunyi dengan nyaring sehingga memenuhi seluruh Masjid seketika Reihan tersadar hingga saat hendak melihat ke arah bilik celah-celah Masjid sosok perempuan bercahaya dengan memakai cadarnya pun seketika lenyap dari pandangannya.
Reihan menoleh dan mendekati celah-celah tersebut tetapi tidak menemukan sosok yang dia cari.
Apakah saya sedang bermimpi ... jika benar dia adalah sosok wanita itu maka ke mana wanita itu pergi ?
__ADS_1
#Bersambung
Selamat membaca ya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian serta kritik, saran maupun masukan kalian mengenai novel kedua dari ana, ditunggu komentar terbaik kalianš¤