
Waktu subuh semua orang napak sudah mulai bangun dari tidurnya, semua para laki-laki yang semalaman tidur di atas sofa mulai bergantian masuk ke kemar mandi untuk mengambil wudhu lalu mereka semua langsung menuju ke mushola yang ada di dalam rumah keluarga maliq untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah, di ikuti oleh para wanita di rumah utama keluarga maliq.
Semua nampak tenang saat sedang sholat subuh berjamaah opa Ibrahim sebagai kepala keluarga tertua di keluarga maliq memimpin sholat subuh kali ini.
Seusai sholat subuh semua nampak saling bersalaman bersama anak dengan orang tuanya dan istri dengan suaminya.
Melihat semua orang yang nampak masih berbincang di dalam mushola sedangkan Nik memilih pergi dari mushola untuk beristirahat, setelah meminta izin terlebih dahulu kepada semua orang, Nik pun pergi menuju kamar Diandra, meninggalkan Diandra yang masih berada di mushola.
"Temani suamimu" ucap mommy Almira berbisik.
Diandra pun mengangguk dan bergegas pergi menyusul Nik suaminya yang sudah pergi lebih dulu.
"Ceklek.." Suara pintu terbuka.
Perlahan Diandra masuk kedalam kamarnya dengan perasaan berdebar, apalagi saat dia melihat ada seorang laki-laki yang kini sudah berstatus menjadi suaminya tengah tertidur di atas ranjangnya.
Diandra menutup pintu dengan sangat pelan dan tak lupa untuk mengunci pintu kamarnya, lalu dia berusaha naik ke atas kasur dan menyelimuti tubuh Nik dengan selimut.
Saat menyelimuti Nik Diandra merasakan tangannya di genggam oleh Nik, dan setalah itu benar saja kedua mata yang tadi terpejam kini telah terbuka dengan sempurna.
"Apa aku menganggu tidurmu?" tanya Diandra pelan.
"Tidak aku memang menunggu istriku" jawab Nik sambil menarik Diandra masuk kedalam pelukannya.
Nik memeluk Diandra dengan erat dan menciumi seluruh wajahnya, hingga membuat Diandra kegelian.
"Kak Nik geli" keluh Diandra dengan wajah merah bersemu malu.
Diandra menundukkan wajahnya saat Nik melihat dirinya dari jarak yang begitu dekat.
"Hey... Lihat aku" ucap Nik menggoda.
"Tidak mau" jawab Diandra sambil menenggelamkan wajahnya kedalam dada bidang milik Nik.
Nik tertawa gemas melihat tingkah Diandra.
"Sayang aku ingin melihat wajahmu" goda Nik lagi.
"Tapi aku malu" jawab Diandra jujur.
"Bukankah kita sudah menikah? Kenapa kamu harus malu?" tanya Nik kembali menggoda.
Namun Diandra tidak menjawab.
"Sayang?" ucap Nik lagi, dan Diandra masih belum mau menurut.
"Diandra" ucap Nik dengan nada yang sedikit di tekan, dan akhirnya Diandra pun memberanikan diri melihat wajah Nik yang tepat begitu dekat dengan wajahnya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu" ucap Nik yang sukses membuat wajah Diandra semakin merah merona.
"Aku juga" jawab Diandra penuh bahagia.
"Mau bulan madu ke mana?" tanya Nik.
"Hemm kemana saja aku akan ikut" jawab Diandra pelan.
"Sungguh?" tanya Nik lagi
"Ya..." Jawab Diandra.
"Kalau begitu aku tidak akan ragu membawamu kemana pun aku mau" ucap Nik sambil mencium pipi Diandra, dan berlabuh di bibir indah milik gadis itu.
Diandra merasakan bagaimana Nik menciumnya dengan penuh kelembutan, namun ciuman itu kini beralih menjadi ciuman yang begitu menuntut, membuat Diandra hampir kehabisan nafasnya.
Nik baru melepaskan Diandra saat dirasa gadisnya sudah kehabisan napas, dan benar saja gadis itu nampak ngos-ngosan karena dirinya.
"Boleh?" tanya Nik penuh maksud.
"Ya ampun inikah saatnya?" tanya Diandra dalam hati.
"Em..." Ucap Diandra sambil mengangguk karena dia sudah merasa seluruh tubuhnya gemetar hebat, antara takut bercampur bingung.
Setalah mendapatkan persetujuan Nik pun melepaskan mukena yang sejak tadi di gunakan oleh Diandra, dan melihat wajah gadis itu untuk yang pertama kalinya tanpa Hijabnya.
Diandra berusaha membalasnya walau terasa begitu kaku karena dia tidaklah mahir dalam urusan sentuh menyentuh.
Keduanya tenggelam dalam sahdunya ciuman panas hingga sebuah ketukan pintu menghentikan gelora asmara yang hampir membara.
"Tok tok tok...." Suara ketukan pintu.
Awalnya baik Nik maupun Diandra mengabaikan ketukan pintu tersebut, mereka terlalu larut dengan apa yang mereka lakukan saat ini.
Namun suara ketukan itu kembali terdengar dan terus berulang, Diandra cukup terganggu dengan suara ketukan pintu itu, tapi tidak dengan Nik, dia tetap fokus dengan kegiatannya dan enggan untuk mencari tahu siapa yang mengetuk pintu.
Diandra mendorong dada Nik perlahan, namun Nik mengabaikan dorongan tangan Diandra di dadanya, ia justru kembali menghimpit Diandra hingga tak berjarak, untuk yang kedua kalinya Diandra kembali mendorong dada Nik dengan cukup bertetangga hingga menciptakan jarak antara mereka.
Nik nampak kesal dan raut kekecewaan begitu nampak terpancar dari kedua sudut matanya.
Diandra hanya menelan salivanya karena merasa tidak enak hati pada Nik yang kini telah menjadi suaminya.
"Ada yang mengetuk pintu" ucap Diandra penuh ragu sambil sedikit terengah-enggah, dia berusaha mengisi paru-parunya dengan udara.
"Kenapa harus ada yang menganggu?" Keluh Nik kesal.
Diandra hanya menjawabnya dengan senyuman yang begitu kaku seolah mengatakan "Entahlah mana ku tau."
__ADS_1
Nik pun bangkit dan berjalan kearah pintu ia hendak membuka pintu dan mencari tahu siapa yang berani menganggu paginya yang berharga.
"Clak..." Suara Pintu terbuka.
"Ziko?" tanya Nik saat melihat Pemuda yang memiliki sedikit kerterbatasan itu ada di depan pintu kamarnya.
"Diandra, aku ingin di temani Diandra membuat sarapan pagi" ucapnya sambil menunjukkan wajah berengut seperti anak kecil.
"Hah...." Nik melepaskan nafas penuh kekesalan.
"Sabar Nik sabar" ucapnya dalam hati.
"Diandra akan menyusul jadi pergilah dulu" pinta Nik berusaha untuk menahan rasa kesal nya.
"Tidak mau, maunya sekarang." kekeh Ziko.
"Baiklah silahkan masuk dan ajaklah dia pergi bersamamu" ucap Nik pasrah.
Nik menoleh kearah dalam kamar terlebih dahulu sebelum membuka pintu untuk Ziko sambil memastikan istrinya sudah menggunakan kerudungnya.
Setelah dirasa Diandra sudah menggunakan kerudungnya Nik pun membuka pintu kamarnya selebar mungkin dan mempersilahkan Ziko untuk masuk, sambil menunjukkan wajah yang cemberut.
Ziko pun masuk kedalam kamar Diandra dengan perasaan bahagia.
"Diandra ayo kita buat sarapan pagi" ajak Ziko sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
Diandra dan Ziko terbiasa membuat sarapan pagi bersama, mereka selalu menghabiskan waktu di pagi hari selepas subuh dengan membuat sarapan bersama.
"Em...." Diandra menjeda ucapannya sambil melihat kearah Nik yang masih berdiri di samping pintu dengan wajah yang di tekuk.
".... Ayo...." sambung Diandra lagi, terpaksa.
"Hore Ayo..." Sambut Ziko dengan riang.
Ziko memegang lengan Diandra dan menyeretnya ke luar dari dalam kamar.
Saat Nik dan Diandra berpapasan Diandra menunjukkan raut wajah yang penuh rasa bersalahnya.
Nik yang mengerti pun merubah raut wajahnya dan berusaha tersenyum sebaik mungkin agar Diandra tak merasa bersalah.
Meraka bicara lewat sorot mata dari keduanya. Sorot mata Diandra yang sendu seolah mengatakan "Maaf" sementara Sorot mata Nik seolah mengatakan "Tidak apa-apa pergilah." begitulah kira-kira.
Setelah itu keduanya benar-benar berpisah, Diandra pergi bersama Ziko untuk membuat sarapan.
Sementara Nik masih tetap di ambang pintu kamar dengan kepasrahan.
"Hahah....Kasihannya dirimu Nik, sabar ya Nik hihihi..... " Autor.
__ADS_1