História De Amor Clássica

História De Amor Clássica
Awan Mendung di Hatinya


__ADS_3

Minggu-minggu berlalu dengan berbagai kenangan manis yang dijalani Jericho dan Nara. Namun, seperti cuaca yang berubah-ubah, ada saat-saat ketika hati Jericho dipenuhi awan mendung yang menyelimutinya. Ketidakpastian dan kecemasan datang menghampiri perasaannya.


Suatu hari, Nara merasa sesuatu yang berbeda pada Jericho. Ia melihat bahwa senyumnya tak lagi sepenuh hati seperti biasanya, dan matanya tampak terlihat cemas. Nara menjadi khawatir tentang perubahan suasana hati Jericho tersebut.


Di taman kampus yang indah, Nara mengajak Jericho duduk di bawah pohon rindang. "Jericho, ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, bukan?"


Jericho menghela nafas, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. "Ya, Nara. Aku merasa cemas tentang masa depan kita. Seperti apa hubungan kita ke depannya? Bagaimana jika tantangan yang kita hadapi menjadi terlalu berat?"


Nara meletakkan tangannya di atas tangan Jericho, memberinya dukungan. "Jericho, aku juga merasa cemas kadang-kadang. Tapi, ingatlah bahwa cinta kita adalah sesuatu yang indah dan kuat. Jika kita saling mendukung dan berjuang bersama, kita pasti bisa mengatasi segala rintangan."

__ADS_1


Jericho tersenyum lembut, merasa lega mendengar kata-kata penyemangat dari Nara. Namun, ada satu hal lagi yang membuatnya merasa gelisah. "Nara, apa yang akan terjadi ketika kita lulus dari universitas ini? Apakah kita akan tetap bersama? Bagaimana jika kita harus berpisah?"


Nara menatap matanya dengan penuh keyakinan. "Jangan biarkan pikiran itu menghantuimu, Jericho. Biarkan kita menikmati setiap momen bersama sekarang. Dan tentang masa depan, kita tidak perlu tahu dengan pasti apa yang akan terjadi. Yang penting adalah kita memiliki cinta yang tulus dan berkomitmen untuk berusaha sebaik mungkin."


Jericho merasa hatinya menjadi lebih tenang mendengar perkataan Nara. "Kamu benar, Nara. Aku tak ingin merusak momen-momen indah kita dengan khawatir tentang masa depan. Kita akan menghadapinya bersama-sama."


Namun, ketika malam tiba, awan mendung di hati Jericho kembali muncul. Ia merenung sendiri di kamarnya, berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganggunya. Ia tidak ingin membuat Nara cemas, tapi ia merasa sulit untuk menyingkirkan kekhawatirannya.


Keesokan harinya, Nara merasa ada sesuatu yang mengganjal dari sikap Jericho. Ia merasa Jericho berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. "Jericho, ada apa denganmu? Aku merasa kau menyembunyikan sesuatu."

__ADS_1


Jericho merasa canggung, tapi ia tahu ia harus jujur dengan Nara. "Aku... Aku merasa cemas tentang masa depan kita. Aku takut jika kita harus berpisah setelah lulus nanti."


Nara menggenggam tangan Jericho erat-erat. "Jericho, percayalah padaku. Kita akan mencari jalan terbaik untuk menjaga hubungan kita. Jika cinta kita benar-benar kuat, tak ada jarak atau waktu yang bisa memisahkan kita."


Jericho tersentuh oleh kepercayaan dan keyakinan Nara. Ia merasa beruntung memiliki seseorang sepertinya yang selalu berada di sisinya dan siap mendukungnya. "Terima kasih, Nara. Aku sangat beruntung memilikimu."


Perlahan tapi pasti, Jericho dan Nara belajar untuk mengatasi awan mendung yang sesekali menghampiri hati mereka. Mereka saling menguatkan dan berusaha untuk tidak membiarkan kekhawatiran menguasai perasaan mereka.


Cinta mereka tumbuh lebih dalam dengan setiap tantangan yang mereka hadapi. Jericho dan Nara menyadari bahwa cinta sejati adalah tentang kepercayaan, komitmen, dan keberanian untuk menghadapi masa depan bersama-sama. Mereka berjanji untuk selalu berusaha dan tidak pernah menyerah, karena mereka tahu bahwa cinta mereka adalah sesuatu yang berharga dan takkan pernah pudar.

__ADS_1


__ADS_2