
Waktu terus berlalu, dan cinta antara Jericho dan Nara semakin dalam. Setiap hari mereka habiskan bersama, menemukan lebih banyak lagi hal yang membuat mereka saling mencintai dan menghargai satu sama lain. Namun, di tengah-tengah kebahagiaan mereka, ada teka-teki perasaan yang masih mengusik pikiran Jericho.
Suatu sore, saat mereka berdua berjalan di taman kampus, Jericho terlihat sedikit canggung. Matanya tampak ragu dan berkeliaran, seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia ungkapkan.
Nara merasa khawatir melihat keadaan Jericho. "Ada apa, Jericho? Kau terlihat cemas."
Jericho menghela nafas. "Aku punya sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, Nara."
Nara mengangguk, memberi isyarat bahwa ia mendengarkan.
"Sejak beberapa minggu terakhir, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku," kata Jericho ragu-ragu. "Aku menyadari bahwa... meskipun aku mencintaimu dengan sepenuh hati, ada perasaan yang juga mencuat dalam diriku."
__ADS_1
Nara merasa bingung. "Apa maksudmu, Jericho?"
Jericho menatap wajah Nara dengan tulus. "Aku merasa cemas tentang masa depan kita. Seperti yang kau tahu, kita akan lulus dan perjalanan kita mungkin akan berbeda. Aku takut jika ini menjadi hambatan bagi cinta kita."
Nara mendekatkan dirinya ke Jericho dan meraih tangannya. "Jericho, aku merasa cemas juga. Tapi aku percaya bahwa cinta kita adalah sesuatu yang kuat dan tak akan mudah pudar. Kita bisa mencari cara untuk menjaga hubungan kita tetap kuat, tak peduli apa yang terjadi di masa depan."
Jericho tersenyum lembut, namun ada keraguan di matanya. "Aku tahu itu, tapi... ada hal lain yang juga membuatku cemas. Aku merasa terusik oleh perasaan masa lalu."
Nara terkejut mendengar perkataan Jericho. "Apa maksudmu, Jericho?"
Nara merasa campur aduk mendengar pengakuan Jericho. Sebuah rasa cemburu dan ketidakpastian muncul dalam hatinya. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang dan memahami perasaan Jericho.
__ADS_1
"Apakah... apakah kau masih mencintainya?" tanya Nara perlahan.
Jericho menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nara. Aku tahu dengan pasti bahwa perasaan itu sudah berlalu. Aku mencintaimu, dan hanya kamu yang ada di hatiku sekarang. Aku ingin tulus bersamamu dan melupakan masa lalu itu sepenuhnya."
Mendengar jawaban Jericho, Nara merasa lega. Ia tahu bahwa perasaan cemburu yang timbul hanyalah akibat dari ketidakpastian dan kekhawatiran yang muncul di hatinya. Ia menyadari bahwa Jericho mencintainya dengan sepenuh hati.
"Mungkin kita perlu saling berbicara dan membuka hati sepenuhnya," kata Nara dengan tulus. "Kita bisa mengatasi teka-teki perasaan ini bersama-sama."
Jericho tersenyum dan merangkul Nara erat-erat. "Aku setuju. Kita akan saling mendukung dan berbicara terbuka tentang perasaan kita."
Seiring berjalannya waktu, Jericho dan Nara mengatasi teka-teki perasaan mereka dengan komunikasi yang jujur dan saling mendukung. Mereka belajar untuk lebih memahami satu sama lain dan membuka hati sepenuhnya. Cinta mereka semakin dalam dan tak tergoyahkan.
__ADS_1
Ketika hari kelulusan tiba, Jericho dan Nara merasa lega dan bahagia. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka sebagai pasangan baru akan dimulai, dan mereka siap untuk menghadapinya dengan keberanian dan kepercayaan.
Mengurai teka-teki perasaan bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan kejujuran dan kesetiaan, Jericho dan Nara berhasil menemukan jawaban dalam cinta mereka yang tulus. Mereka menyadari bahwa cinta sejati adalah tentang menerima satu sama lain dengan segala kelemahan dan kelebihan, dan bersedia untuk saling mendukung dan bertahan bersama dalam setiap perjalanan kehidupan yang mereka tempuh.