
Bulan-bulan berlalu, dan cinta Jericho dan Nara semakin kuat dan mendalam. Setiap momen yang mereka habiskan bersama terasa penuh kebahagiaan dan kehangatan. Hubungan mereka semakin erat, seakan-akan denyut jantung mereka berdetak seirama.
Suatu hari, saat langit senja mulai memerah, Jericho dan Nara duduk berdua di tepi danau kampus. Suasana romantis di sekitar mereka menyemarakkan perasaan mereka yang saling mencintai.
"Kamu tahu, Nara," ucap Jericho dengan lembut sambil menatap mata Nara dengan penuh cinta, "setiap kali kita bersama, detak jantungku berdetak lebih cepat. Seperti dua denyut jantung yang beradu menjadi satu."
Nara tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jericho. "Aku merasakannya juga, Jericho. Setiap kali kamu ada di dekatku, rasanya hatiku berbunga dan detak jantungku semakin cepat. Aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya."
Tanpa ragu, Jericho meraih tangan Nara dan menggenggamnya erat. "Kamu adalah orang yang paling istimewa bagiku, Nara. Aku beruntung bisa memilikimu dalam hidupku."
Nara merasa tersentuh oleh kata-kata Jericho. Dalam sekejap, cinta mereka mengisi udara di sekitar mereka. Mereka berdua merasa takdir telah menyatukan mereka, dan mereka ingin mengarungi kehidupan bersama sebagai satu kesatuan.
__ADS_1
Hari-hari mereka penuh dengan kebahagiaan dan cinta. Jericho dan Nara seringkali menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di taman kampus, membagi cerita dan impian mereka satu sama lain. Kedekatan mereka semakin nyata, dan seakan tak ada yang bisa memisahkan mereka.
Namun, ada satu hal yang mengganggu ketenangan mereka. Salah satu teman dari anggota BEM, Sarah, tampak memiliki perasaan khusus pada Jericho. Sarah sering kali mencari kesempatan untuk dekat dengan Jericho, dan hal itu membuat Nara merasa cemas.
Suatu malam, setelah rapat BEM selesai, Sarah mendekati Jericho dengan senyuman manis. "Jericho, bolehkah aku bicara denganmu sebentar?"
Jericho mengangguk dan menyusul Sarah ke sudut ruangan yang lebih sepi. Nara merasa perasaannya gelisah, namun ia mencoba untuk mempercayai Jericho sepenuhnya.
Jericho mengangguk dengan penuh pengertian. "Terima kasih, Sarah, atas kejujuranmu. Kamu adalah teman yang baik, tapi aku sudah memiliki perasaan khusus pada Nara. Aku mencintainya."
Sarah mencoba menyembunyikan kekecewaannya, namun matanya tampak memerah. "Aku mengerti, Jericho. Semoga kalian berdua bahagia bersama."
__ADS_1
Jericho kembali ke tempat duduknya, dan ketika melihat Nara, ia bisa melihat ketegangan di wajahnya. Ia segera mendekati Nara dan menggenggam tangannya dengan lembut.
"Nara, aku ingin kau tahu bahwa kamu adalah satu-satunya yang ada di hatiku. Tidak ada yang bisa menggantikan tempatmu."
Nara tersenyum dengan air mata di matanya. "Aku tahu, Jericho. Aku percaya padamu sepenuhnya."
Jericho dan Nara mengatasi cobaan ini dengan kepercayaan dan cinta yang kuat. Mereka berdua sadar bahwa dalam setiap hubungan, tantangan pasti akan datang menghampiri. Namun, dengan saling mendukung dan mempercayai satu sama lain, mereka yakin bahwa cinta mereka akan bertahan.
Begitu juga dengan Sarah, meskipun hatinya terluka, dia memilih untuk berpikir positif dan merasa bersyukur telah memiliki Jericho sebagai seorang teman. Dalam waktu, dia merasa bahwa cintanya yang tidak terbalas menjadi sebuah titik awal untuk lebih memperhatikan dan mencintai dirinya sendiri.
Denyut jantung Jericho dan Nara semakin beradu seiring berjalannya waktu. Cinta mereka semakin berkembang dan mengukir kenangan-kenangan indah yang takkan pernah terlupakan. Mereka menyadari bahwa setiap langkah yang mereka ambil bersama, detak jantung mereka akan selalu bersama, seirama, selamanya.
__ADS_1