Homeroom Teacher

Homeroom Teacher
Episode 1


__ADS_3


Nama: Dian Niaz Pamungdining Tyas


Umur: 16 Tahun


Tinggi Badan: 153cm


Berat Badan: 39Kg


Hobi: Hibernasi


🍂🍂🍂


"NIAAAAAAAAZ!!!" Pekik kanjeng bunda ratu tepat ditelinga gadis pemalas yang paling susah untuk dibangunkan terutama jika itu menyangkut dengan sholat subuhnya.


"Lima menit lagi bun... lima me....


"SHOLAT! Sudah jam lima lewat dua puluh menit anak gadis. Cepat bangun dan ambil air wudhu" omelan wanita yang belum sampai setengah abad itu dengan menarik selimut yang melekat pada tubuh putri satu satunya.


"Hanya lima menit bunda, Niaz masih ngantuk lagian masih gelap juga" gumamnya sambil menarik kembali selimut untuk menutupi kembali tubuhnya.


"Bagaimana tidak gelap jika kamu sendiri masih menutup matamu" wanita yang belum ada setengah abad itu terus berusaha semampunya.


"Bangun perawan pemalas! Bagaimana nanti kalau kamu sudah berkeluarga dan menikah. Bunda tidak yakin suamimu betah bahkan jika hanya satu hari saja"

__ADS_1


Satu hal yang harus diketahui, Niaz paling tidak suka direndahkan meski itu dari mulut wanita yang melahirkannya sendiri.


Mata gadis muda nan manis itu lantas langsung membulat penuh dengan rasa tidak terima akan apa yang baru saja dia dengarkan. Penuturan bundanya berhasil membangunkan egonya yang sedang terlelap penuh ketengan.


"Apa yang baru saja bunda katakan?!" katanya meninggi yang sudah melepaskan selimutnya.


"APA?! Kenapa? Tidak terima?"


"Hehehe.. tidak tidak"


Dan satu hal pula yang harus diketahui bahwa meski dirinya tidak suka direndahkan. Dia tetep tidak bisa melawan bundanya, sejauh mana bundanya mengajarinya tata cara yang sebenarnya dia tak suka.


Tata cara sebagaimana mestinya wanita sholehah yang diinginkan oleh semua kaum pria baik baik yang sholeh yang mengerti akan tata cara agama dan menghormati wanita.


Bundanya ingin putri satu satunya mengerti seperti apa sebenarnya yang seharusnya seorang gadis wanita baligh seperti dirinya bersikap pada semestinya.


Ibu biologis Niaz yang teramat ketat dalam mendidik putra putrinya. Tidak terkecuali pada putri tunggalnya yang juga menjadi anak bungsunya.


Ia selalu mengutamakan kewajiban kepada Allah SWT di atas segalanya bagi dirinya maupun bagi keluarganya.


Cara mendidiknya begitu keras bahkan tidak ragu ragu wanita berkepala empat yang kini memiliki dua anak itu memajukan tangannya kepada putrinya yang sangat sulit diatur.


"BANGUN NIAAZ!!" teriaknya ulang yang sudah tidak diherankan lagi oleh tetangga dekat rumahnya.


"Ini sudah bangun bundaaaa" kilah putrinya padahal jelas jelas gadis itu hanya mendudukan diri dengan bersandar pada dinding kamar di dekat ranjangnya sambil memeluk bantal gulingnya.

__ADS_1


"Bangun atau bunda robek semua poster kamu"


"Eh eh.. iya ini Niaz bangun bunda, Niaz ambil air wudhu kan? iya ini mau ambil" langkahnya langsung bergegas jika sudah menyangkut beberapa poster yang terpajang rapi disalah satu sisi dinding dekat meja belajarnya.


Cukup lama tak keluar dari dalam kamar mandi membuat wanita berumur empat puluhaan yang hendak menginjak angka lima puluh itu kembali menarik urat kesabarannya.


"Kamu ambil air wudhu atau bersemedi di dalam Niaz?! sudah jam setengah enam kamu mau sholat subuh atau sholat dhuha. huh?" teriaknya sambil menyiapkan sarapan keluarganya di dapur dekat kamar mandi.


"Lagi pipiiis" jawab putrinya menggema dalam kamar mandi empat meter sama sisi itu.


"Kamu pipis keluarnya air apa logam mulia?! Kenapa lama sekali? CEPAT NIAAAZ!" ucapnya tak sabar lagi karna putrinya selalu membuat drama di pagi hari.


"Iya bundaaaa"


"Bunda ini cerewet amat, nanti mulutnya membleh kalau banyak ngomong sama teriak teriak" katanya spontan berniat bergumam tapi masih bisa didengar oleh wanita yang melahirkannya.


"Ngomong apa kamu hah? Coba ulangi lagi" tangan kanannya telah siap akan bertengger di telinga kiri gadis mungil itu.


"Tidak ngomong bunda tidak" kilahnya sambil berusaha menarik tangan bundanya dan menahan rasanya nyeri pada telinganya.


"Eh jam berapa tuh! sudah mau habis waktunya bunda.. lepas bun nanti Allah marah loh sama bunda kalau bunda nunda nunda waktu sholat Niaz"


"Siapa yang sedari tadi nunda waktu sholat?! nanti kalau kamu masuk syurganya paling terakhir jangan cari bunda di akhirat yah, kita nanti sudah tidak saling kenal kalau sudah meninggal" nasihatnya mengingatkan putrinya akan kematian yang sebenarnya paling dekat dengan manusia.


"Aduh bundaaa kultumnya ditunda dulu, bininya Suga mau sholat biar doanya cepat diijabah sama malaikat terus disampaikan sama Allah.. ok?" larinya langsung tanpa mendengarkan penuturan bundanya lagi.

__ADS_1


"Tidak ada bininya Suga Suga an.. nikah sama yang muslim. WAJIB Niaz! hanya boleh sama sesama muslim"


__ADS_2