
"Mari kita semua sambut dengan segala hormat, komandan Paijo kita yang telah berhasil mencetak sejarah baru karna telah melawan tiga guru sekaligus di hadapan semua murid yang ada di sekolah menengah kejuruan kita ini hingga kalah telak bahkan tidak sanggup berkutik di hadapannya"
Serentetan kalimat yang terlontar sebagai bentuk pujian membuat gue malah semakin mendidih dan merasa tidak nyaman. Terlebih lagi dengan tepuk tangan beberapa anak jurusan kelas otomotif yang tidak banyak gue kenal dan tidak dekat dengan gue juga.
Niaz: "Berisik banget sih lo kebo, banyak mulut lo. Gue lagi bad mood jangan diganggu" cerca gue pada Fery yang baru saja mendudukan pantat di pembatas jalan trotoar yang ada di depan kelas sebelas otomotif tiga dengan ikut bersandar pada tiang yang berdiri kokoh tepat disebelah gue.
Fery: "Bad mood nape lagi sih ndan, cerita dah cerita sama gue. Bahu gue siap jadi sandaran buat lo, tenang" hiburnya sok sok an dengan menepuk nepuk bahu sebelah kirinya setelah duduk di sebelah kanan gue.
Karna ucapannya itu, gue hanya melirik ke bahunya sekilas lalu berpaling lagi dengan suasana hati yang masih sama.
"Cemewew gue bersandar di bahu lo yang ada dia ketularan banyak kutu kaya lo kebo!" kali ini pria lain yang mengambil jurusan multimedia datang menyingkirkan Fery dari sebelah gue, akan tetapi kini malah lebih parah lagi karna diisi olehnya.
Fery: "Yeeee dasar Majen burik. Gue udah ga ada kutu yah!" tangannya menampol tepat di belakang kepala pria seangkatannya yang juga sebenarnya adalah teman waktu sekolah menengah pertama Fery di SMP negeri dua Majenang.
"Males gue ngeladeni kebo berkutu kaya lo, mending gue hibur cemewew gue yang lagi bad mood"
Tanpa aba aba, tiba tiba saja pria yang kerap melayangkan gombalan recehnnya pada gue lebih mendekatkan lagi duduknya. Lebih merapatkan dan berusaha memangkas jarak yang ada diantara gue dan dirinya.
Dan dengan senyum sok polosnya, dia mulai melancarkan aksinya seperti biasa pada gue.
"Jalan jalan ke kota tua naik sepeda, jangan lupa pulang mampir beli kue bolu"
"Meski jarak selalu membentang diantara kita, Tapi abang akan tetap selalu bilang i lop yu"
Fikhi Bijen Andiratama
Code name Mayor Jendral burik.
Kelas sebelas Multimedia satu yang tergila gila pada komandan Paijo yaitu Niaz sendiri.
Meski jabatan Fikhi berada di atas dari tokoh utama, namun dirinya seakan tutup mata dan membutakan diri bila itu tentang Dian Niaz Pambungdining Tyas.
Dirinya mau saja melakukan segala hal yang keluar dari mulut manis seorang wanita muda yang bertampang sangat sangar seperti Niaz.
Niaz: "I lop yu?" gue menoleh dengan tatapan puppy eyes yang dibuat buat ke arah yang berada disebelah kanan gue saat ini.
Fikhi: "Yes i am" cengirnya penuh percaya diri.
Niaz: "Jalan jalan ke Bengkulu di hari rebo ketimpuk paku. Anda bilang i lop yu gue kasih pantat kebo mau!" balasan gue asal untuknya.
Dan karna balasan gue yang terdengar frontal itu akhirnya membuat beberapa anak lain yang ada menjadi tertawa terpingkal pingkal, tak terkecuali Fery yang ngakak sampai memegang perutnya dan menunjuk nunjuk Fikhi yang merasa ternistakan oleh gue.
Fery: "Lo mau pantat kebo?"
Fery: "Nih pantat gue nih, nih bilang i lop yu nih" tunjuknya dengan menepuk nepuk pantatnya sendiri menghadap ke arah Fikhi yang masih berada di sebelah gue.
Fikhi: "Gue masih kurang apalagi sih ndan?" cueknya masih saja fokus pada gue.
__ADS_1
Fikhi: "Ganteng udah, pinter pake banget, tajir udah semlintir mlintirnya. Terus kurang apalagi?"
Fery: "Kurangnya lo itu ga kaya Suga, iya kan ndan?"
"Nah betul tuh" kini sang letnan Paiman yaitu Bagus sendiri ikut meramaikan.
Fikhi: "Apa hebatnya Suga, gue ga kalah jauh ko dari dia" sombongnya mulai kumat.
Gue itu paling benci orang sombong, lebih lebih sok bisa segalanya di atas segalanya. Sok wah dengan menjatuhkan orang lain, dan sok berkuasa padahal dirinya tidak punya apa apa.
Niaz: "Lo bisa main piano?" tanya gue kini melihat ke arahnya.
Bagus: "Ga kan?"
Niaz: "Lo bisa ciptain lagu?"
"Ga juga kan?" kini Fery ikut menimpali suara Bagus.
Niaz: "Bisa main basket?"
Fery: "Lebih lebih ga kan?" gelak tawanya langsung disambut oleh Bagus.
Fikhi: "Tapi kan gue jago main bola ndan" selanya membela diri.
Niaz: "Nenek gue juga jago main bola, dia jadi kaptennya dan sering merangkap jadi kiper malah. Apa yang perlu dibanggakan?" cemooh gue.
Fery: "Betul tuh burik. Gue juga jago main bola, Paiman juga. Iya kan man?"
Fikhi: "Gue jagonya di atas rata rata" si majen burik nyolot.
Fery: "Kalau lo jagonya pake banget banget harusnya lo sekarang ada di platnas bukan nongkrong disini, ngapain lo dimari?"
Fikhi: "Karna gue ogah...
Niaz: "Bisa diem ga?"
Niaz: "Otak gue berasa mau meledak!"
Gue itu lagi super duper bad mood seharian ini.
Satu jam menjalankan hukuman eh tapi malah kena ceramah di tengah lapangan oleh tiga guru sekaligus.
Belum lagi gue udah capek capek mencontek PR bahasa Inggris mapelnya bu Nisa eh malah itu wali kelas ga masuk kelas, kan mangkel di uluh hati rasanya. Mau dikeluarin ga bisa, tapi ditahan tahan bikin ganjel dalam diri sendiri.
Emang gue ini sama hari selasa kayanya ga pernah bisa akur, selalu saja ada kesialan dihari yang bertolak belakang dengan hari kelahiran gue ini. Dan juga, bagi orang suku jawa kaya gue ini weton memperngaruhi segalanya.
__ADS_1
Salah sedikit saja, nasib sial akan terus menyertai.
Namun belum lama gue menelan rasa kesialan diri gue sendiri, rupanya kesialan dihari selasa gue belum kelar sampai di titik itu. Masih ada hal lain lagi yang lebih besar dari sekedar dipermalukan di tengah lapangan, hal yang membuat gue juga membatu di tempat tepat setelah teman sebangku gue datang dengan sejuta perasaan.
"Niaz!" suara yang sangat gue kenal mengalihkan pandangan gue dengan sangat malas untuk dapat melihat ke suara yang datang dari kejauhan.
Dapat terlihat dari kejauhan teman yang belum lama ini menjadi teman duduk gue. Teman perempuan yang sangat bertolak belakang sekali dengan gue dari segi manapun.
Cindy Uswatun Khasanah
Kelas sebelas Akuntansi satu.
Selalu mendapat peringkat satu, teman kelas sekaligus teman sebangku Niaz yang sedikit merubah kebiasaan buruk Niaz yang suka tidak mau menulis segala jenis mapel yang diajarkan.
Sangat rajin, pintar, dan patuh pada setiap peraturan yang dilayangkan oleh sekolah. Tidak pernah membantah perkataan guru, dan telah banyak dikenal oleh banyak guru karna kesopanannya dalam berbicara dan bersikap pada semua.
Cindy: "Niaz, cepet kabur!"
Teman sebangku gue tiba tiba datang dengan tergesa gesa dan juga dengan menenteng tas gue yang sebenarnya hanya berisi dua buku tulis saja setelah mendekat ke arah gue yang masih duduk di tempat semula.
Niaz: "Lo kenapa?" tanya gue merasa heran.
Cindy: "Udah cepet kabur dulu!" pintanya mendorong gue setelah memberikan secara paksa rangsel gue.
Niaz: "Tumben nyuruh kabur, biasanya lo ngomel kalo gue ga masuk kelas?"
Cindy: "Udah tanyanya ntar, sekarang pergi dulu"
Niaz: "Kenapa sih?"
Cindy: "Kabur dulu" pintanya yang terus saja berusaha mendorong gue dengan melihat keseliling.
Niaz: "Ogah ah, apa dulu ya?" masih juga gue ngotot ingin tahu.
Cindy: "Bu Nisa dilarikan ke rumah sakit tadi"
Niaz: "Hah?!"
"Kok bisa?" kepo gue yang diiringi dengan Bagus, Fery begitu pula dengan Fikhi yang sedari tadi hanya memperhatikan.
Cindy: "Bu Nisa pendarahan. Dan teman teman sekelas kita berpikir bahwa itu gara gara kamu" terangnya membuat gue menganga.
Niaz: "Kok bisa gue yang disalahkan?"
Fery: "Iya bener, apa salah Paijo?"
Cindy: "Intinya kabur dulu, teman teman kelas lagi pada nyari kamu"
__ADS_1
Niaz: "Dih. Apa salah hamba?"