
Keesokan harinya disebuah lapangan yang sangat luas, lebar dan sangat membentang.
Niaz: "Salah saya apalagi sih pak?" cerocos gue mulai jengah dengan kedua guru yang baru kemarin bertegur masalah dengan gue namun kali ini dibarengi dengan satu guru lain yang berjenis kelamin perempuan yang juga gue kenal sebagai wali kelas gue, wali kelas sebelas akuntansi satu.
"Kamu yang cari masalah terus Niaz, jangan salahkan guru gurumu" suara lembut seorang wanita hamil hanya membuat gue menghela napas sabar tidak ingin menentang terlalu besar perkataan wali kelas gue yang sedang bunting tua.
Niaz: "Saya tidak cari masalah bu Nisa, saya malah sedang menjalankan hukuman dari pak komputer akuntansi ini" jelas gue dengan mengisyaratkan wali kelas gue yang bernama Annisa untuk melihat ke arah guru MYOB yang gue lupa namanya dengan lirikan mata.
Annisa: "Namanya pak Santo bukan pak komputer akuntansi Niaz. Kamu harus sopan!" tegasnya dengan suara lembut yang hanya bisa diartikan oleh gue bukan sebuah amarah.
Niaz: "Ooh maaf bu, saya lupa"
"Kamu lupa atau sengaja?!" kali ini pak Santo ikut menimpali.
Niaz: "Kalau saya sengaja malah saya ga akan sebut bapak sesuai dengan mata pelajaran yang bapak sampaikan, tapi saya pasti akan sebut bapak sebagai bapak tukang pelapor karna hanya itu kesan bapak di mata saya sekarang"
Utoyo: "Niaz!"
Niaz: "Eh iya pak maaf, kadang saya punya mulut emang kaya roller coaster. Tidak ada hentinya mencela" gue main cengengesan pura pura mengalihkan perhatian.
Niaz: "Ini ngomong ngomong saya salah apalagi ya pak, pake nyeret wali kelas segala?"
Firasat gue udah mulai ga enak kalau udah bawa bawa wali kelas dalam permasalahan. Karna sepanjang hampir dua tahun gue sekolah di sekolah kejuruan yang gue tempati saat ini, bunda gue selalu keseret alias dipanggil oleh pihak sekolah yang diundang secara khusus oleh wali kelas gue sendiri.
Mungkin sudah ada dua puluh atau sekitar tiga puluhan bunda tersayang gue harus datang atas panggilan wali kelas karna tindakan gue yang katanya melenceng dari aturan.
Tidak terkecuali dengan yang kali ini, feeling gue menduga bahwa guru komputer akuntansi gue berniat membawa pihak orang tua untuk kasus sederhana yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan sangat mudah.
Alih alih hendak membuat gue kapok, gue malah lebih khawatir guru MYOB gue kelak tidak akan pernah melihat gue lagi di kelas saat mata pelajarannya.
Anti bagi gue untuk mengikuti mapel guru yang membesar besarkan masalah dengan gue.
Tidak terlalu banyak, tapi lima guru mapel mungkin udah cukup untuk membuat diri gue itu dicap sebagai murid berandalan yang tidak tahu aturan.
Bahasa Indonesia, sejarah Indonesia, ekonomi bisnis, administrasi perpajakan, dan lebih lebih matematika. Lima mapel yang dibimbing oleh guru guru yang mencari perkara dengan gue tanpa henti.
Niaz: "Jadi salah saya ini apa, wahai bapak Santo yang sangat terhormat?"
__ADS_1
Gue orangnya penyabar, sungguh sangat penyabar hingga gue bisa sangat sabar menghadapi setiap masalah yang sebenarnya gue sendiri yang membuatnya.
Santo: "Saya kan menyuruhmu untuk berjemur di...
Niaz: "Lah menurut bapak saya sedang apa kalau bukan berjemur? Bapak kira saya sedang mencangkul di ladang?"
Annisa: "Niaz"
Niaz: "Eh iya bu maaf, aduh ini mulut emang ga tahu aturan kalau berhadapan dengan guru pelapor" cerocos gue sendiri dengan menepuk nepuk pelan bibir tipis nan indah gue.
Utoyo: "Kamu kemarin setuju kan mau terima hukuman dari pak Santo?"
Niaz: "Saya kan emang setuju dan sekarang sedang menjalankan hukumannya pak" sahut gue kali ini berhadapan dengan guru kesiswaan gue.
Santo: "Terus maksudnya itu sama itu apa?" kali ini sang pelapor menunjuk dua benda yang menempel pada tubuh mungil gue.
Niaz: "Apa?" tanya balik gue pura pura cengo.
Annisa: "Payung yang kamu pakai sama kursi yang kamu duduki Dian Niaz Pambungdining Tyas" jawab wali kelas gue mulai geram.
Emang curang ini namanya, tiga lawan satu. Sedari tadi gue dicecar terus sama ketiga guru bahkan di tengah lapangan, dan lebih parahnya lagi gue jadi tontonan sebagian besar murid baik seangkatan maupun kakak kelas gue sendiri.
Niaz: "Dan ini" tunjuk gue dengan mengangkat sedikit payung lipat yang kini masih setia gue pakai.
Niaz: "Bu Nisa ga lihat mataharinya trik banget di atas?" perintah gue ingin ketiga guru itu sadar bahwa kondisi saat ini sangatlah panas dengan menunjuk ke arah langit biru yang sangat terang benderang cerahnya.
Niaz: "Nanti kalau saya hitam bagaimana bu, bisa bisa saya turun jabatan dari komandan gegara berubah jadi hitam"
Utoyo: "Niaz?!"
Niaz: "Pak. Ini beneran kasus serius. Kalau saya jelek, saya ga cantik lagi nanti ga ada yang suka sama saya gimana. Bapak mau tanggung jawab saya dapet pacar jelek nan buruk rupa?"
Annisa: "NIAZ?!!"
Niaz: "Ya Allah bu, ini beneran saya. Coba saja ibu yang berjemur dua jam, pasti penampakan ibu berubah menjadi seperti dodol nanti"
Terus saja gue harus menjelaskan keadaan pada ketiga orang dewasa yang membuat gue berada di posisi dimana payung dan kursi kayu bisa bisanya melekat pada diri gue saat ini.
__ADS_1
Posisi dimana kini gue tengah duduk santai bagai di pantai masih juga dilengkapi dengan payung yang bertengger manis di bahu sebelah kiri.
Santo: "Itu berarti namanya kamu tidak menjalankan hukuman dari saya. Saya kan bilang kamu harus berjemur ditrik ...
Niaz: "Ditrik matahari tepat jam dua belas siang waktu istirahat berlangsung?" sela gue melanjutkan karna paham betul bahwa guru MYOB gue hendak mempermalukan gue pada semua murid yang ada.
Niaz: "Iya kan pak?"
Santo: "Iya. Kenapa kamu tidak melakukanya dengan betul betul dan malah memakai payung bahkan duduk dengan santai?" sinisnya tidak suka melihat gue.
Niaz: "Dih si bapak. Ga lihat saya sedang berjemur?" semprot gue merasa tidak terima.
Niaz: "Noh lihat, kaki saya dijemur pak. Bahkan tanpa memakai sepatu dan kaos kaki, untung saya pinter dengan memakai sunblock jadi ya pasti ga item item amat lah pak nantinya" sahut gue dengan menggerak gerakkan kedua kaki gue ke kanan dan ke kiri dengan posisi yang masih duduk.
Santo: "Kamu benar benar anak kurang ajar yah!" celanya membuat ego gue timbul kepermukaan.
Niaz: "Tolong bapak yang sopan ya pak!" timpal gue langsung.
Niaz: "Jangan cela kepintaran dan kejeniusan saya karna kebodohan bapak sendiri"
Niaz: "Kan bapak kemarin hanya bilang bahwa saya dihukum karna kesalahan saya untuk berjemur di lapangan selama jam istirahat kan. Hanya itu kan?" kalimat gue terlontar penuh dengan penekanan.
Niaz: "Bapak tidak bilang bahwa saya harus berdiri, bahwa saya harus full terkena sinar matahari, bahwa saya harus dihukum layaknya seperti murid bodoh yang tidak tahu trik licik dari seorang guru yang egonya setinggi langit karna ogah kalah dari muridnya. Bapak tidak bilang itu kan?"
Annisa: "Niaz, jaga sikap mu!"
Niaz: "Makanya bapak itu kalau ngasih perintah yang jelas dan lugas pak jangan ambigu, jadinya kalau saya lebih cerdik bapak ga kalah telak begini. Kan malu dilihat murid yang lain, niatnya mau bikin malu saya tapi malah bapak bikin malu diri bapak sendiri" omel gue terus tanpa menghiraukan setiap peringatan yang dilayangkan oleh wali kelas gue ataupun tatapan peringatan dari guru kesiswaan gue.
Cukup lama tidak ada bantahan dari ketiga guru di hadapan gue, akhirnga gue memutuskan untuk berdiri setelah melirik jam tangan yang terpasang manis di lengan putih milik wali kelas gue.
Niaz: "Saya rasa hukuman saya sudah cukup" kalimat gue terlontar setelah membenarkan seragam berwarna putih dan jilbab putih yang gue kenakan.
Niaz: "Saya pamit bu Nisa pak Ute. Saya belum selesai mencontek PR bahasa Inggris saya tadi, nanti saya kena marah lagi sama guru bahasa Inggris saya. Bisa berabe kan nanti kalau disuruh sikat WC lagi"
Gue melirik sekilas dengan senyum tipis di bibir pada wanita hamil yang menepati posisi sebagai wali kelas gue sekaligus guru mapel bahasa Inggris gue sebelum akhirnya memutuskan untuk melenggang pergi dengan masih menggunakan payung yang menjadi peneduh bagi seogok tubuh gue yang hampir terjemur selama satu jam setelah mengalahkan tiga orang secara telak sekaligus.
__ADS_1